Cerpen : Perempuan Penetes Airmata

Sabtu, 10 Juli 2021

Karya : Rusmin Toboali

Perempuan itu terus melangkah mengisi hari-harinya bersama airmata yang mengalir dari kelopak matanya yang hitam.

Read More

Airmatanya terus mengalir hingga ke telapak kakinya. Menyusup dalam seluruh tubuhnya. Seolah-olah airmata itu menjadi virus yang amat ganas yang bersarang ke dalam tubuh hingga badannya kurus kering berselimutkan tulang. Dan kepada setiap pengurus panti asuhan, perempuan bersama airmata itu selalu bertanya tentang anaknya yang pernah dibuangnya. Buah hatinya yang pernah ditelantarkannya hingga tak tahu lagi rimbanya.

“Apakah Ibu yang mengasuh anak saya yang saya titipkan di sini,” tanyanya dengan penuh linangan airmata kesedihan.

“Mohon maaf Bu. Kami tidak pernah menerima bayi dan anak yang dibuang orangtuanya,” jelas pengurus Panti Asuhan.

“Apakah saya boleh melihat anak-anak yang diasuh di sini,” pintanya dengan diksi memelas.

“Oh, silahkan kalau Ibu mau melihatnya. Tapi saya yakin Ibu tidak akan pernah mendapatkan anak Ibu di sini karena kami tidak pernah menerima anak-anak dari hubungan gelap,” urai pengurus Panti Asuhan.

Perempuan penetes airmata itu melihat kegirangan anak-anak dalam Panti Asuhan. Mareka terlihat amat bahagia kendati hidup dalam Panti Asuhan. Anak-anak masa depan itu tampak oleh matanya yang berlinang airmata sangat bahagia. Sangat bahagia. Sesuatu yang tak pernah dia rasakan selama ini. Hanya sebuah kepedihan hidup yang dia nikmati bersama airmata yang terus menetes tanpa henti dari kedua bola matanya.

Perempuan itu masih terus melangkah dan melangkah mengisi hari-harinya bersama airmata yang terus menetes hingga membanjiri seluruh badannya. Mengalir hingga membasahi telapak kakinya yang tanpa alas. Airmata seakan menjadi tumor ganas yang menggerogoti tubuhnya hingga badannya hanya berselimutkan tulang belulang semata. Dan kepada pengurus makam, dia bersama airmatanya bertanya tentang makam Ibunya yang pernah diusirnya. Orang yang melahirkannya rela diusirnya hanya karena kesenangan duniawi semata terusik oleh kehadiran Ibunya di rumahnya.

“Apakah Ibu saya dimakam di sini?,” tanyanya dengan airmata yang berderai hingga membasahi rumput pemakaman yang tertata rapi bak real estate.

“Mohon maaf Ibu. Di sini yang dimakamkan adalah kelompok orang yang berduit. Mareka sudah membeli lahan pekuburan ini untuk keluarganya dengan harga yang sangat mahal,” jawab pengurus pemakaman.

“Apakah saya boleh melihat makam yang ada di sini? Siapa tahu ada nama Ibu saya,” pintanya dengan nada memelas bersama airmatanya.

“Silahkan kalau Ibu mau melihat-melihat makam. Mari saya antarkan,” ujar pengurus makam.

Dan selama hampir satu jam perempuan bersama airmata itu mengelilingi makam, dia tak menemukan nama Ibunya. Tak ada nama ibunya di areal pekuburan itu. Tak ada nama ibunya tertulis dalam batu nisan. Tak ada. Sementara airmatanya terus mengalir di areal pemakaman itu hingga masuk ke dalam pori-pori perut bumi. Membasahi kawasan pemakaman yang sangat indah dan tertata apik.

Perempuan bersama airmata itu masih terus melangkah. Mengisi hari-hari dengan menyusuri jalanan yang beraspal. Jalanan yang berdebu hingga jalanan yang berkerikil. Melintasi bukit. Menyeberangi lautan dengan ombak yang ganas hanya untuk menemukan suaminya yang pernah dikorbankannya hanya untuk memuaskan hasrat manusiawinya semata. Segerobak airmatanya telah menetes di jalanan, bukit bahkan hingga berpadu bersama air laut yang sangat luas. Airmatanya terus menetes dan menetes tak mampu dibendungnya. Airmatanya hanya setetes air di ganasnya lautan.

Kepada pengurus RT yang ditemuinya, perempuan bersama airmata itu terus bertanya tentang suaminya yang dulu berprofesi sebagai nelayan yang berjuang diganasnya lautan untuk menghidupinya. Sementara dia bersama laki-laki lain saling memuncratkan ganasnya hasrat syahwatinya sebagai manusia pada malam yang bening. Memperlakukan malam yang diterangi indahnya cahaya rembulan dengan dosa.

“Apakah bapak mengenal suami saya,” tanyanya dengan airmata yang menetes ubin rumah Pak RT.

“Mohon maaf Ibu. Penghuni disini tidak ada warga yang berprofesi sebagai nelayan. Warga kami kebanyakan bekerja sebagai pemulung dan pengemis,” jawab Pak RT.

“Apakah saya boleh mengecek nama-nama warga Bapak,” pintanya bersama airmata yang terus menetes tanpa henti sehingga harus membanjiri rumah Pak RT.

“Silahkan. Ini buku warga. Semua nama warga bersama fotonya tercatat dalam buku itu,” ujar Pak RT sembari memperlihatkan buku yang berisikan nama-nama para warga.

Dan sudah hampir satu jama perempuan bersama airmata itu menelusuri nama-nama para warga. Satu persatu ditatapnya foto yang ada dalam buku itu. Tak ada wajah suaminya. Tak tertulis nama suaminya. Sementara airmatanya terus mengaliri dan membasahi buku kerja Pak RT.

Perempuan bersama airmata itu terus berjalan dan berjalan. Menyusuri jalanan. Melangkah tanpa arah. Sementara airmatanya terus mengalir membanjiri tubuh kurusnya hingga perempuan itu pun harus tenggelam bersama airmatanya yang terus mengalir dari kelopak matanya yang hitam tanpa mampu dihadangnya. Perempuan penetes airmata itu pun terlelap dalam tidur panjangnya bersama airmata yang menenggelamkan dirinya tanpa mampu dibendungnya.

Perempuan itu membisu bersama dengan airmata yang terus mengaliri tubuhnya tanpa henti. Tanpa henti. (**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts