Lelaki itu menghisap rokoknya dalam-dalam. lalu dihembuskannya dalam-dalam hingga asapnya berlari jauh. Ada segurat kekecewaan yang tergambar dari cara dia menikmati rokok itu. Ya, lelaki itu terlihat kesal. Guratan di wajahnya menampakkannya. Sebagai sahabat baiknya, aku mengenal watak lelaki itu.
Dari belakang seorang perempuan keluar membawa dua gelas. Bergabung bersama kami. Lelaki itu menatap wajah ku. Tatapan mata yang dipenuhi guratan kekesalan, bahkan sebenarnya sebuah kekecewaan yang amat mendalam.
“Terus terang, Bro. Aku kecewa denganmu. Sangat kecewa sekali. Engkau sudah ku anggap sebagai saudara kandungku sendiri. Tapi…,” lelaki itu tak meneruskan kalimatnya. Kulihat wanita yang duduk disampingnya menggengam tangan lelaki itu.
“Silahkan engkau memaki ku, Bro. Silahkan. Aku terima dengan lapang dada. Aku memang bersalah. Bersalah tak minta izin denganmu dulu. Tapi yang kulakukan hanya untuk menyelamatkan harga dirimu sebagai orang terpandang di kampung ini. Hanya itu niatku. Tak lebih dan tak kurang. Aku menjaga martabatmu sebagai tokoh di kampung ini,” jelasku.
Lelaki itu tak menerima jawabanku. Dia kembali memakiku dengan narasi yang sungguh kejam, bahkan nada kalimat yang keluar dari mulutnya sangat bengis. Aku memilih diam dan diam ocehan liarnya. Kuping ku skenariokan untuk kebal semenjak aku baru melangkah dari rumah.
“Abang tidak usah banyak bicara. Diam saja. Tak usah melawan ocehannya. yang penting tindakan abang sudah benar,” ujar istriku.
“Benar sekali perkataan istrimu itu. Kamu sudah dijalan yang benar. Dasar dia saja yang pelit dan mau menang sendiri. Tak mau bersosialisasi diri dengan warga. menggagap dirinya sok hebat,” ujar Kades yang juga datang ke rumah memberikan support untuk ku.
“Hanya kamu lah yang bisa melunakkan hati Matketol. Sebagai sahabat dari kecil, sekaligus orang yang diseganinya di kampung Kita ini. Kami mempercayaimu untuk mengatasinya sebagaimana hasil rapat kita di kantor Desa beberapa hari lalu,” sambung Pak Kades lagi. Aku cuma terdiam.
Siang itu, disaat matahari berada di atas kepala, aku dipanggil Pak Kades ke Kantornya. Disana sudah terlihat beberapa warga dan tokoh masyarakat. Hari itu mereka, para warga kampung sedang membicarakan soal perluasan lahan masjid. Mereka memanggilku karena tanah yang berada di samping masjid itu milik sahabatku, Matketol.
“Kami memanggilmu ke sini untuk berembug dan mencari jalan keluar atas tanah di samping masjid yang sudah kegusur untuk perluasan masjid kita. Maklumlah jemaah masjid kini makin membeludak, apalagi puasa sudah diambang pintu,” terang Pak Penghulu.
“Aku pikir, kalau untuk kepentingan masjid dan kemashalatan publik, aku percaya, Matketol tidak akan marah. Aku yakin tanah itu pasti akan dihibahkannya. Aku jaminannya,” jawabku.
“Dan kalau terjadi apa-apa, kami mohon kamu yang mengatasinya,” ujar Pak Kades sembari membisikan sesuatu ke telinga ku. Aku mengangguk.
Lelaki itu masih menatapku dengan wajah yang masih terlihat kesal. Rokok kembali dihisapnya. Kepulan asapnya menerbangkan asap-asap yang berbentuk pulau-pulau.
“Aku berharap engkau rela dan ikhlas melepaskan tanahmu di samping masjid itu untuk kepentingan masjid. Untuk kepentingan publik kampung Kita. Tanahmu masih sangat luas. Membentang dari ujung hingga ke ujung kampung. Kamu orang baik, Bro. Semua warga kampung tahu itu. Sudah banyak jasamu buat pembangunan dan kemajuan Kampung kita. Termasuk kamu yang dulu menghibahkan tanahmu untuk Masjid kampung Kita, ” jelasku dengan nada suara penuh pujian.
Mendengar pujianku, emosi Matketol terlihat menurun. Terlihat wajahnya mulai tenang. Walaupun tak dapat ku pungkiri, rasa kesal masih tergambar dengan jelas di wajahnya.
“Dan aku ke sini, diutus panitia Masjid,” lanjutku.
Mendengar perkataanku soal Panitia Masjid, wajahnya kembali tegang. Sumpah serapah kembali meluncur dari mulutnya. Dan ku kupingku memang telah ku persiapkan untuk itu. Kebal dari ucapan bengisnya.
“Mereka itu orang-orang laknat. Orang-orang yang mengambil keuntungan atas nama agama. Atas nama Masjid. Jujur, Bro, aku tak suka dengan cara mereka. Tak suka sama sekali. Apalagi Pak Kades. Lagaknya seperti kampung ini miliknya,” ucapnya dengan nada tinggi.
Sementara aku terdiam mendengar ocehannya. Tak ku dengar sama sekali ocehan yang keluar dari mulutnya. Yang penting bagi ku, misi ini harus berhasil dan uang besar akan ku dapatkan sebagaimana yang dijanjikan Panitia pembangunan Masjid.
“Aku minta tolong denganmu, Bro. Ikhlaskanlah tanah itu untuk kepentingan masjid Kampung Kita. Dan ingat, Bro, engkau akan dikenang warga sebagai tokoh masyarakat yang ikut memakmurkan masjid. Ini momentumnya bagimu untuk menunjukan klasmu sebagai tokoh yang paling berpengaruh di kampung Kita. Apalagi Pemilihan Kepala Desa tak lama lagi. Ini momentum, bro. Ini harus kamu mainkan sebagai pencitraan dirimu yang selama ini dianggap sebagai orang yang kurang dermawan. Padahal kalau mereka tahu, justru engkau adalah orang paling dermawan di kampung ini,” pujiku.
Ku lihat wajah Matketol berubah. Ada sebuah senyuman menyembul dari wajahnya. Dan dia bangkit dari tempat duduknya. Menuju kamarnya. Tak lama kemudian dia keluar sembari membawa sebuah map dan menyerahkannya kepadaku.
“Ini surat-surat tanah yang di samping masjid itu. Tolong, Bro kamu sampaikan kepada semua warga bahwa lahan perluasan untuk masjid itu sumbangan aku, Matketol,” ujarnya.
Aku mengangguk dengan wajah penuh kebahagian. Terbayang di hadapanku, uang yang akan ku dapatkan.
“Siap, Bro Kades. Eh, calon Pak Kades. Akan ku sampaikan kepada semua warga, bahwa lahan itu sumbanganmu,” ucapku sambil menyalami tangannya dengan erat dan pamit.
Cahaya rembulan emas mengiringi perjalananku meninggalkan rumah Matketol. Dan dengan langkah yang tergesa-gesa, aku ingin segera sampai ke rumah Pak Kades untuk memberikan surat ini dan menerima sejumlah uang dari mereka, sebagaimana janji mereka kepadaku.(**)
Karya : Rusmin Toboali
Pengirim : Rusmin Toboali











