Cerpen: Kartu Miskin Pak Miskin

Sabtu, 10 April 2021
Ilustrasi

Oleh: Rusmin Toboali

Awan pagi itu berarak. Cerah sekali warnanya. Biru dan membiru sebagai penghias langit nan tinggi. Lelaki itu bergegas. Kantor Kelurahan menjadi targetnya. Hari itu lelaki yang bersandal jepit butut dengan baju kaos partai dan celana pendek bola datang ke Kantor kelurahan. Tujuannya amat jelas, memenuhi undangan kelurahan yang diterima istrinya kemarin sore.

Read More

Alhamdulillah Bu. Akhirnya kita tercatat sebagai orang miskin. Dan kita sudah sah sebagai warganegara miskin,” ujarnya kepada istrinya usai membaca surat yang diberikan istrinya.

Istrinya hanya terdiam. Bingung. “Kok bangga sekali jadi orang miskin,” pikir istrinya sembari berlalu meninggalkan sang suami yang masih menatap surat dari kelurahan itu dengan wajah sumringah. Seolah-olah baru saja memenangkan undian lotere berhadiah miliaran rupiah.

Pulang dari kantor kelurahan, lelaki miskin itu tak langsung pulang ke rumah. Tujuannya kini ke pasar. Menemui rekan-rekan sejawatnya. Tukang parkir, tukang becak, dan sejumlah profesi lainnya yang koheren dengan profesi tak berdaya ledak tinggi sepertinya dirinya sebagai pemulung. Lelaki itu ingin mengabarkan kabar bahagia yang diterimanya. Dan kabar gembira ini harus diketahui oleh rekan sejawatnya biar mareka mendapatkan juga predikat miskin dari Pemerintah.

“Kamu ini kok aneh. Aneh sekali. Bahagia banget dapat kartu miskin,” tanya rekannya yang berprofesi sebagai tukang tambal ban.

“Kamu harus tahu dan pahami bahwa dengan kartu ini kita telah mendapat legitimasi dari pemerintah sebagai orang miskin. Sah sebagai orang miskin. Tak perlu didata lagi,” ungkapnya dengan nada suara gembira.

“Betul sekali. buat apa kita selama ini didata. Ditanyain ini itu. Memusingkan kepala. Ujung-ujungnya tetap miskin,” bela rekannya.

“Nah sekarang saya mau tanya? Apa keuntungannya dapat kartu miskin,” tanya temannya lagi dengan rasa penasaran.

“Banyak keuntungan yang akan kita dapati. Ntar kamu kalau sudah dapat kartu baru bisa merasakan saktinya kartu ini. Sekarang saya mau pulang. mau mengabarkan kepada istri kabar bahagia ini,” katanya sambil meninggalkan rekan-rekannya yang masih bingung.

###

Lelaki miskin itu tidak pernah merasa sedih dengan nasib miskinnya. Sama sekali tak protes dengan nasib miskinnya.Toh keluarganya juga miskin. Ayahnya cuma seorang penarik becak. Adiknya juga sama. Meneruskan profesi Ayahnya sebagai pembecak. Demikian juga dengan adik perempuannya. Hanya sebagai buruh cuci harian di kampungnya.

Lelaki miskin itu juga tak pernah protes kepada Tuhan soal kenapa dirinya miskin. Apalagi kepada pemerintah. Bagi lelaki miskin itu kemiskinan dirinya dan keluarga sudah menjadi takdir hidup yang tak bisa dilawan. Apalagi diprotes sebagaimana demo protes yang sering dilihatnya di televisi milik tetangganya.

“Buat apa protes? Tak ada gunanya. Cuma buang-buang waktu saja,” ungkapnya sewaktu temannya mengajak dirinya protes ke Pak RT kenapa mareka tidak dapat beras miskin.

“Toh mareka punya data kok siapa warga miskin di RT kita. Jangan-jangan kita bukan warga miskin,” ujarnya sembari ketawa yang membuat temannya langsung pergi.

Kini lelaki itu merasa tak perlu susah lagi kalau ada pembagian beras buat warga miskin. Dirinya sudah punya kartu miskin dari negara. Dirinya tak perlu mengantri lagi kalau ada pembagian sembako murah. dirinya suda punya kartu miskin.

“Makanya kamu harus dapat kartu miskin dari negara kalau kamu mau tidak mau antri kalau ada pembagian sembako,” pesannya kepada teman-temannya.

###

Lelaki miskin itu sedang menikmati kopi di warung Mpok Inem dekat kali. Tidak jauh dari rumahnya. Cahaya malam bersinar dengan menebar sinar romantismenya. Terang benderang bumi dengan sinar rembulan. Demikian juga hati lelaki miskin itu bahagia sekali. Seduhan kopi klas murah ala Mpok Iyem menambah kegirangan hatinya. seumur-umur hayatnya, baru kali ini dia bahagia. Sangat bahagia sekali.

Bagaimana tidak, besok dia akan menggunakan kartu miskin yang didapatnya dari Kantor Kelurahan untuk berbelanja ke pasar bahkan mall. istrinya sudah bilang menjelang lebaran, anak-anaknya perlu baju baru. dan dengan narasi bahagia lelaki itu menyanggupinya.

“Besok kita belanja. Toh kita sekarang punya kartu miskin. Bisa beli apa saja dengan kartu miskin ini,” ujar seraya memperlihatkan kartu miskin yang sudah dilaminating.

“Bisa yah,” tanya anaknya yang paling sulung.

“Dengan kartu miskin ini kita bisa beli apa saja. Kita sudah terdaftar di negara Nak, sebagai orang miskin. Beda dengan yang lain. Mareka belum terdaftar dengan kartu miskin. mareka baru didata, kalau ayah nggak. Sudah ada kartunya,” jelasnya dengan wajah sumringah.

###

Pagi-pagi sekali, lelaki miskin itu bersama istri dan anaknya sudah mendatangi pasar. Dengan berjalan kaki saja. Maklum rumah kontrakan mareka tak jauh dari pusat pertokoan. Siulan nada lagu bahagia terus didendangkannya. Ramaikan jagad raya. bersaing dengan senandung knalpot kendaraan yang sudah mulai ramai. Hari ini lelaki itu ingin menggunakan kartu miskinnya.

“Tunggu apalagi. Ntar kalau terlambat bisa bahaya. Maklum orang miskinkan bukan saya saja di negara ini? Bagaimana kalau tiba-tiba stok makanan habis sudah diserbu pemilik kartu miskin lainnya? Wah bisa berabe,” pikirnya.

Suasana pasar masih sepi. Belum banyak pertokoan yang buka. Arus lalulintas pun belum padat. Sementara cahaya mentari mulai panas. Sepanas lelaki miskin itu mengitari pertokoan. Setidaknya sudah tiga tas besar belanjaannya. Dan akhirnya mareka pun berhenti. Tidak sanggup lagi membeli barangnya.

Lelaki miskin itu kaget saat tiba di kasir. Kartu miskin yang disodorkannya tak laku.

“Jadi buat apa kartu miskin ini,” tanya dengan nada garang.

“Mohon maaf Pak. Kartu ini tak berlaku untuk belanja di sini. Ini bukan kartu pembayaran,” jelas kasir dengan tenang. Maklum dia sudah pengalaman menghadapi konsumen semacam ini.

“Jadi? tanya lelaki miskin itu lagi masih dengan nada garang.

“Ya, bapak harus bayar. jumlahnya lima juta,’ jawab sang kasir.

“Lima juta,” ujar lelaki miskin itu.

Seketika itu juga tubuh miskinnya roboh. Riuh redah pengunjung mal tersedot ke arah kasir. Semua mata memandang lelaki itu yang sudah diangkat petugas keamanan pertokoan ke klinik perokoan. Ada rasa duka yang dalam yang terlontar dari nurani mareka sesama anak bangsa.

” Sudah meninggal,” ujar salah satu petugas mal kepada istrinya.

Pekik, jeritan dan tangis kesedihan terlontar dari sang istrinya. Airmata sang istri membasahi lantai klinik itu. sementara sang anak hanya memandang tubuh ayahnya dengan kaku. Di tangan kanan ayahnya masih terselip Kartu miskin atas nama dirinya. Pak Miskin yang beralamat di kampung Miskin. (*)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts