Cerpen: Fulus Berbunga Matahari

AWAN berarak. Lintasi bintang. Susuri gugusan galaksi. Langit makin menemaramkan jagat raya. Sinar rembulan seolah enggan bersinar.

Hanya terdiam. Suara kokok ayam makin terdengar, seiring merdunya suara ayat-ayat suci yang berkumandang dari masjid.

Bacaan Lainnya

Tenteramkan suasana hati dan batiniah manusia yang mendengarnya. Ada rasa nikmat yang tak terperikan. Ada rasa damai. Tenang.

Sukri baru saja selesai membaca ayat suci Alquran, saat di pagi yang damai ini terdengar suara ketukan dari arah depan rumahnya.

Dalam hatinya Sukri membatin. Siapa yang mengetuk pintu dipagi-pagi buta ini? Apakah Pak Yusuf yang mau mengajaknya untuk shalat subuh berjemaah? Atau Pak Migrun yang ingin mengajak ngopi di Warkop? Atau ada yang butuh pertolongan?.

Sembari menuju pintu depan rumahnya, seribu pertanyaan terus bergelayut dalam pikiran dan otak kecil Sukri.

Dan betapa kagetnya Sukri saat pintu depan terbuka tampak lima laki-laki berbadan tegap penuh tato telah berdiri. Dari mulut mereka tercium aroma minuman.

Dan Sukri paham kelima lelaki tegap itu adalah anak buahnya Matketol, yang dikenal warga Kampung Kami sebagai pembiak uang atau rentenir.

“Ada yang bisa saya bantu, Bapak-bapak,” sapa Sukri dengan ramah.

Dan sapaan Sukri pun mereka jawab dengan suara ketawa yang keras sehingga beberapa warga yang hendak menuju masjid dan melewati rumah Sukri pun berhenti melihat aksi purba lima kawanan manusia suruhan itu.

“Ada pesan dari Bos untuk Bapak,” jawab seorang dari lima lelaki itu.

“Katakan pada Bosmu, usai sholat subuh aku akan datang ke rumahnya,” jawab Sukri tegas.

Kelima manusia suruhan itu pun langsung meninggalkan rumah Sukri dengan berjalan sempoyongan. Bahkan salah satu dari mereka terpaksa digotong kawannya yang lain karena tak bisa berjalan. Pengaruh alkohol telah membuat mereka buta hati dan jiwa.

Usai shalat subuh, Sukri langsung menuju rumah Matketol yang terletak di ujung Kampung Kami. Saat memasuki rumah lelaki yang dikenal sebagai lintah darat itu, Sukri melihat begitu banyak orang-orang yang mengetuk pintu rumahnya subuh tadi tertidur di teras rumah Bos duit itu.

Matketol tampak bahagia melihat Sukri datang ke rumahnya. Matketol merasa bangga juga didatangi orang punya pengaruh di Kampung Kami. Maklumlah selama ini Sukri adalah teladan dan panutan bagi warga Kampung walaupun tak memiliki jabatan struktural dalam pemerintahan Kampung Kami.

“Masuk Pak Sukri. Masuk, terimakasih sudah berkenan mampir ke rumah,” sapa Matketol dengan ramah.

“Ada apa ya Pak. Kok tadi anak buahnya Bapak menyuruh saya ke rumah?,” tanya Sukri tanpa basa-basi.

“Mohon maaf Pak Sukri. Maklum anak-anak. Tak ada etika. Soal sisa duit dulu, gimana ya Pak Sukri” tanya Matketol.

“Lho bukannya pokok dan bunganya sudah saya bayar lunas,”

“Iya, Pak Sukri. Tapi dalam catatan buku saya, ada bunga yang belum pak Sukri bayar,”

“Baiklah kalau catatan Bapak demikian. Ntar Siang sebelum Lohor, mohon Bapak ambil uang di rumah saya. Saya tunggu,” jawab Pak Sukri sambil pamit pulang.

Di kalangan warga Kampung Kami Matketol dikenal sebagai pemiskin rakyat. Pemeras darah daging warga. Dengan dalih membantu warga yang perlu bantuan permodalan, namun pada prosesi selanjutnya bantuan itu justru membuat masyarakat menjadi miskin karena dibebani dengan bunga pinjaman yang sangat tinggi hingga 30 persen.

Telah banyak warga yang menjadi korban aksi rentenir Matketol. Namun tak ada warga yang berani melawan kezaliman dan kesewenang-wenangan ekonomi ini yang dilakukan Matketol.

Warga tampak pasrah dengan kondisi yang terjadi atas pemangsaan manusia oleh manusia moderen ini. Aksi purba yang dilakukan sesama manusia di zaman yang sudah demikian modern ini.

Termasuk para perangkat Kampung Kami. Mereka hanya berdiam diri seolah-olah pasrah saja, bahkan terkesan menyalahkan warga yang tidak membayar.

“Wajar kamu ditagih oleh Matketol karena kamu tidak membayar dana yang dipinjamkannya,” ungkap Pak Kades.

“Saya bersedia membayar tapi tidak dengan bunga yang sudah demikian besarnya. Ini kan namanya pemerasan Pak Kades,” ungkap seorang warga mengadu kepada Kades.

“Kalau demikian sampai mati pun saya tak mampu membayarnya karena membengkaknya bunga uang pinjaman itu,” sambungnya.

Pak Kades hanya terdiam mendengar aduan dari warganya. Lelaki pemimpin Desa ini teringat dengan masa Pilkades, di mana Matketol banyak membantu dirinya. Termasuk membebaskan beberapa warga yang tak mampu lagi membayar hutang karena bengkaknya bunga yang dibebankan Matketol.

Matketol dikenal memiliki anak buah yang berbadan tegap sebagai debt colector alias penagih utang yang tak segan-segan bertindak di luar batas kemanusiaan.

Sudah banyak warga yang menjadi korban keganasan anak buah Matketol yang terkenal dengan sikap tanpa kompromi dan tak berperikemanusian. dana segar yang selalu digelontorkan Matketol membuat mereka bertindak di luar kemanusiaan.

“Mereka itu kalau bertindak di luar batas kemanusiaan,” ungkap Mang Namo.

“Yang mengherankan kok Perangkat Desa tak berani menegur mereka atau melaporkan ke aparat hukum?,” tanya warga yang lain.

“Semoga ada warga yang berani melawan kezaliman mereka,” pinta warga yang lain.

Awan cerah. Langit membiru. Matahari berarak lintasi langit yang cerah. Sinarnya menusuk relung hati manusia dibumi yang terus bekerja demi sesuap nasi.

Keringat mengucur di tubuh warga dan para pekerja keras untuk menghadapi tantangan hidup yang semakin keras dan makin tak menentu seiring dengan makin menuanya zaman dan alam semesta ini.

Matketol tampak datang ke rumah Sukri sesuai dengan janjinya. Dengan mengendarai mobil terbaru, pria tua ini langsung ditemani oleh para anak buahnya. Dan Sukri langsung menyambut kedatangannya dengan senyum mengambang.

“Jadi berapa  sisa uang bunga yang harus saya bayar lagi Pak,” tanya Sukri.

” Saya minta maaf lo Pak Sukri. Ini berdasarkan catatan di buku saya,” jawab Matketol

“Tidak Masalah Pak. Kan itu kewajiban saya yang telah meminjam modal kepada Bapak,” jawab Sukri.

Dan betapa terkejutnya Matketol, ketika hendak menerima uang bunga riba dari Sukri, beberapa orang petugas aparat hukum berpakaian preman langsung membekuknya bersama dengan para anak buah untuk dibawa ke Polsek terdekat.

“Terima kasih Pak Sukri atas kerja samanya. Semoga ini menjadi aksi terakhir dari aksi para lintah darat yang secara ekonomi melakukan penindasan kepada warga miskin,” ujar seorang petugas sambil menyalami tangan Sukri.

Matahari kembali berarak. Lintasi awan. Sinarnya terang seterang hati Sukri yang bisa membantu walaupun hanya ala kadarnya. Ya, membantu melawan kesewenang-wenangan penindasan ekonomi lewat pembiakan duit oleh manusia tak beradab terhadap sesama manusia. (*)

Rusmin Toboali

Pengirim: Rusmin Toboali

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.