Cerpen: Awer

Sabtu, 7 Agustus 2021

Pak Lurah termenung di ruang kerjanya. Cahaya matahari pagi menerobos masuk ke dalam ruang kerjanya melalui celah jendela yang terbuka lebar. Perasaan haru hinggap dalam nuraninya. Seorang pegawainya harus meregang nyawa pagi ini.

Beberapa hari ini, malam di Kampung kami berubah menjadi sangat mencekam. Matahari selalu pamit dengan rasa waspada yang tak tertahankan. Para pemuda Kampung tak lagi berkumpul sambil memetik gitar dan melewati malam dengan bernyanyi mengiringi cahaya rembulan malam. Saat gelap tiba, pintu-pintu setiap rumah dikunci dengan rapat, juga jendela. Semuanya berubah.

Read More

Ya, semuanya berbah semenjak, warga kampung Kami satu per satu dipanggil Izrail. setiap hari selalu ada saja warga yang wafat. Dan ketika corong pengeras suara dari masjid terdengar, degup jantung para warga Kampung mulai berdetak tak beraturan. Siapakah warga kampung yang meninggal selalu terdengar dari desis mulut mereka.

Sebagai pimpinan kampung, Pak Lurah terlihat sangat bersedih. Sebagai pemimpin yang dipilih warga kampung dengan ikhlas, Pak Lurah merasa terbebani dengan kondisi yang terjadi di wilayahnya. Sejuta kegundahan tergambar di wajahnya.

“Seumur-umur, saya tinggal di Kampung ini, baru kali ini saya melihat dan menyaksikan kematian warga kampung yang bertubi-tubi ini. Ini sutau kondisi yang tak lazim,” ungkap Pak Lurah saat bertemu para tokoh agama dan tokoh masyarakat kampung di Kantornya.

“Apakah ini ini bukan awer, Pak Lurah?,” ucap seorang tokoh masyarakat kampung.

Pak Lurah kaget setengah mati mendengar narasi awer.

Ya, awer adalah semacam musim datangnya sebuah wabah yang menimbulkan penyakit dimana menurut cerita kuno dari para pendahulu Kampung selalu menyerang Kampung Kami pada masa tertentu. Kadang durasinya 10 tahunan sekali. Kadang dua puluhtahunan sekali. Tak menentu.

“Mungkinkah Kampung kita diserang awer sebagaimana cerita para nenek moyang kita dahulu?,” tanya Pak Lurah.

“Bisa saja Pak Lurah,” sahut tokoh kampung.

“Apa usaha kita untuk melawan penyakit awer ini?,” tanya Pak Lurah lagi.

“Ya, kita harus banyak mendekatkan diri kepada Allah SWT, Sang Maha Pencipta. Memohon petunjuknya dan tentunya tak lupa kita berdoa kepada Sang Maha Pencipta agar penyakit awer ini segera berakhir. Dan tentu saja kita harus selalu menjaga kesehatan kita,” ungkap Pak Ustad.

Pak Lurah termenung di ruang kerjanya. Cahaya matahari pagi menerobos masuk ke dalam ruang kerjanya melalui celah jendela yang terbuka lebar. Perasaan haru hinggap dalam nuraninya. Seorang pegawainya harus meregang nyawa pagi ini. Banyak yang menaruh simpati atas kematian pegawainya secara tiba-tiba itu.

Dan yang membuat Pak Lurah makin termenung lesu, para warga kampung yang meninggal ini kebanyakan tidak sempat mendapat pengobatan dari dokter dan paramedis. Saat Pak Lurah meminta Dokter dan tenaga medis turun ke kampung, korban pun tetap berjatuhan. Obat yang diberikan Dokter dan tenaga medis tak mampu menyelamatkan jiwa mereka. Bahkan salah seorang tenaga medis dari kecamatan yang turun ke kampung, harus meregang nyawa pula.

Isi kepala Pak Lurah makin pusing, saat menyaksikan pesediaan bahan pokok yang dimilik para warga Kampung semakin menipis. Pemilik toko kampung banyak yang sudah menutup tokonya karena barang sudah kosong melompong di toko mereka. Sementara pasokan dari Kota selalu datang terlambat. Maklum untuk mencapai kampung kami, perjalanan memakan waktu berhari-hari.

Jalan menuju Kampung Kami memang belum teraspal dengan baik. Padahal Pak Lurah selalu teriak-teriak lewat media agar jalan menuju Kampung Kampung kami diperbaiki. Tapi jawaban yang diterima Pak Lurah dari tingkat atas, dana belum cair. Terkadang Pak Lurah menerima narasi akan dianggarkan tahun ini.

Kematian pegawainya menggegerkan warga kampung. Pegawai yang meninggal itu dikenal dengan perangai yang baik dan selalu menjadi penolong bagi warga kampung yang butuh pertolongan.

“Orang baik memang selalu dekat dengan kematian,” ucap seorang warga kampung.

“Ya, itulah dinamika kehidupan. Ada yang mati. Ada yang hidup. Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita yang masih hidup untuk selalu berbuat baik kepada sesama,” ujar warga yang lain.

“Ngomong-ngomong, apa benar wafatnya pegawai Pak Lurah karena awer?,” tanya seorang warga.

Para warga Kampung Kami yang sedang asyik ngobrol ngolor ngidul seketika terdiam. Tada ada suara jawaban dari mulut mereka. Seketika suasana hening. Tak ada suara. Sepi. Hanya kesunyian yang merayap dalam jiwa mereka.
Sementara dari corong pengeras suara masjid, kembali terdengar pemberitahuan tentang telah berpulangnya seorang warga Kampung kami menghadap Sang Maha Pencipta.(**)

Karya : Rusmin Toboali

Pwngirim : Rusmin Toboali

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts