Cap Go Meh Ditiadakan, Begini Respon Warga Tionghoa

Gara-gara pandemic Coronavirus Disease 2019 (Covid-19), perayaan Cap Go Meh sebagai akhir dari rangkaian Tahun Baru Imlek di Pulau Kemaro, Palembang, pun terpaksa ditiadakan.

Palembang, Sumselupdate.com – Gara-gara pandemic Coronavirus Disease 2019 (Covid-19), perayaan Cap Go Meh  sebagai akhir dari rangkaian Tahun Baru Imlek di Pulau Kemaro, Palembang, pun terpaksa ditiadakan. Meski demikian, umat Budha dan keturunan Tionghoa sendiri menilai hal tersebut bukan berarti tidak menghormati tradisi.

Biasanya, setiap tahun perayaan Cap Go Meh di Pulau Kemaro mendatangkan ribuan pengunjung baik dari Palembang, kabupaten/kota di Sumsel, provinsi lain, bahkan dari luar negeri.

Bacaan Lainnya

Menanggapi hal tersebut, umat Budha di Vihara Dharmakirti, Bhante Bhadra Mukti mengatakan, umat tidak bisa memaksakan ritual harus berjalan lancar. Apalagi mengakibatkan sesuatu hal yang tidak diinginkan, bahkan tradisi perayaan Cap Go Meh harus menyesuaikan kondisi saat ini.

Menurutnya, sebagai keturunan Tionghoa, harus bisa menyesuaikan kondisi jika tahun ini Cap Go Meh ditiadakan dengan alasan karena pandemi. Maka sebagai umat Budha harus bisa menyadari dengan baik.

“Bukan berarti kita tidak menghormati tradisi, bukan berarti kita tidak menghargai leluhur tradisi. Tapi kita berpikir untuk kebersamaan,” katanya.

Menurutnya, umat Budha merupakan elemen masyarakat Indonesia, khususnya yang ada di Palembang.

“Nanti, misalkan kita mau ngotot mengadakan Cap Go Meh, tapi efeknya tidak baik. Ya sama saja, kita tidak mau ada hal yang tidak diinginkan. Cukup berdoa saja, meminta kebaikan,” katanya.

Sebagai unsur masyarakat, tetap harus mentaati aturan yang ada. Bukan malah menjadi salah satu penyebab hal yang tidak baik, makanya kita harus bijaksana.

“Mudahan dengan kita berdoa di awal tahun ini, kemudian kita tetap ikut protokol kesehatan (prokes) yang ada. Dan kita menjadi penyebab untuk orang-orang bisa semakin sadar akan pentingnya kesehatan kita sejak saat ini,” katanya.

Ia berharap, tahun berikutnya ketika pandemi berakhir bisa melaksanakan Cap Go Meh lagi, sehingga Kota Palembang bisa ramai lagi.

“Bukan hanya umat Budha, tapi semua masyarakat, jika tetap dilaksanakan semua nanti kena efek dari sini. Makanya kita bijak, walaupun tahun ini tidak ada Cap Go Meh,” katanya.

Senada dengan hal tersebut, Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Kota Palembang, Sukantek, menambahkan, pihaknya mengikuti aturan dari pemerintah, dalam hal ini dengan ditiadakannya perayaan Cap Go Meh guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

“Karena itu akan menimbulkan kerumunan, tentunya umat susah untuk menjaga jarak. Yang pastinya akan ramai orang yang berkunjung, maka dari itu kita mengikuti aturan yang ada,” katanya. (Iya)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.