Martapura, Sumselupdate.com – Terus meningkatnya produksi padi di Kabupaten OKU Timur ternyata belum sepenuhnya dinikmati petani. Ini karena petani lebih memilih menjual hasil panennya secara langsung pada saat panen tiba.
Lebih jauh, ini disebabkan karena tidak adanya gudang penampungan yang bisa dijadikan tempat penyimpanan gabah, sehingga berdampak pada harga jual padi yang murah.
Bupati OKU Timur M Kholid Mawardi mengatakan, dengan belum sepenuhnya gabah yang dapat diserap gudang penampungan padi, membuat petani langsung menjual gabah maupun beras setelah selesai panen.
“Petani membutuhkan biaya dan terburu-buru menjual gabah. Akibatnya, harga rendah dan petani tetap berada di posisi yang dirugikan,” terangnya saat diwawancarai, Senin (27/2/2017).
Salah satu contohnya, harga beras yang langsung dijual setelah panen sekitar Rp 7 ribu per kilogram. Jika ada gudang dan beras bisa disimpan, harganya akan lebih baik dan mencapai pada kisaran Rp 9 ribu dan tentunya petani akan lebih diuntungkan.
Karena itu, lanjut Kholid, sudah saatnya tiap desa maupun kecamatan memiliki gudang penampungan maupun penyimpanan gabah. Pemerintah Kabupaten OKU Timur akan menggalakkan pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), bahkan akan dibuat Perdanya.
Untuk pengelolaan anggaran desa sendiri nantinya akan didampingi dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD). Sementara itu, pada 2017 penggunaan dana desa sebesar 30 persen difokuskan untuk pembentukan BUMDes.
“Dengan adanya lembaga pengelolaan ekonomi berupa BUMDes diharapkan mampu meningkatkan dan memperbaiki tata kelola ekonomi masyarakat desa,” pungkasnya. (yul)











