Budi Daya Ikan Lele di Kolam Wermess Dakota, Inspirasi Usaha Masyarakat Urban

Kamis, 18 Juni 2020
Syaiful Islam saat menerima kunjungan mahasiswa dan warga ke Wermess Dakota, Minggu (14/6/2020)

Palembang, sumselupate.com – Selama ini masyarakat yang tinggal di perkotaan atau masyarakat urban kerap bingung dalam memulai usaha budidaya ikan. Persoalan utamanya biasanya terkait dengan keterbatasan lahan untuk membuat kolam.

Namun, persoalan lahan kolam bagi masyarakat urban ini ternyata bisa diatasi dengan teknologi kolam buatan dengan rangka baja yang beralaskan terpal. Hal ini seperti terlihat pada area usaha budidaya ikan “Wermess Dakota”, yang beralamat di Jln Tanjung Api Api, Lr. Dakota, Talang Kedondong, Kecamatan Sukarami, Kota Palembang.

Read More

Pemilik usaha kolam Wermess Dakota, Ir. Syaiful Islam mengatakan, saat ini jumlah kolam pada usaha budidaya ikannya telah mencapai seratus kolam. Dari jumlah kolam itu, sekitar sembilan puluh persen berbentuk kolam terpal bulat yang terbuat dari rangka baja.

Hal lain yang menarik dari Wermess Dakota, ternyata usaha kolam ini berada di tengah kawasan perkotaan. Lahan yang digunakan adalah gedung bangunan yang tua, kosong dan belum selesai dibangun dengan ukuran sekitar 800 meter persegi.

“Mungkin di Indonesia kolam yang paling mewah ada di sini. Ada kamar-kamar presiden sweet dijadikan kolam lele. Kolam renang juga kita fungsikan untuk memelihara ikan. Jadi sebenarnya berkolam itu bisa dilakukan oleh kita yang tinggal di perkotaan meski berlahan sempit. Itu bisa disiasati dengan penggunaan media kolam terpal bulat,” ujar Syaiful kepada sumselupdate.com.

Kolam terpal bulat rangka baja memenuhi area Wermess Dakota

 

Dijelaskan Syaiful, usaha budidaya ikannya sudah dimulai sejak 1,5 tahun lalu. Ada dua jenis ikan yang dipeliharanya yaitu ikan lele dan ikan patin.

Terkait ide usahanya, mantan anggota DPRD Sumsel dua periode ini menungkapkan bahwa semua bermula dari hasil diskusinya dengan sesama teman aktivis tentang bagaimana upaya peningkatan ekonomi masyarakat. Dari hasil dikusi itu, lalu diekskusi dengan program budidaya ikan seperti sekarang.

Berbeda dari usaha bisnis serupa lainnya, usaha ini ternyata tidak semata-mata berorientasi bisnis. Wermess Dakota juga memiliki misi menebarkan kebaikan dengan cara memberikan pelatihan gratis bagi para aktivis, mahasiswa ataupun masyarakat yang ingin belajar budidaya ikan.

“Kolam ini terbuka untuk kunjungan aktivis, mahasiswa atau masyarakat untuk belajar bisnis secara gratis. Diharapkan nanti selain memiliki wawasan teknis budidaya ikan, mereka juga memiliki keberanian untuk memulai usaha”, terang mantan aktivis 98 ini.

Ketika ditanya kenapa harus budidaya ikan, ia pun menyahutinya dengan gaya humor.

“Karena ada unsur rekreasi. Bagi orang yang berpikir serius seperti aktivis, bisa dilampiaskan dengan melihat ikan yang menari biar fresh. Jadi gak perlu hiburan lain seperti karaoke”, ujarnya santai.

Di tengah kesibukannya memberi pakan ikan, Syaiful pun tidak menampik bahwa setiap jenis usaha apa pun memiliki resiko. Karenanya, sebelum memulainya kita mesti belajar dulu tentang seluk-beluk bisnis tersebut.

Di tempat yang sama pengelola kolam Wermess Dakota, Riski berkenan memberikan kiat agar usaha budidaya ikan sukses.

Sebelum mulai usaha, pertama kali yang harus dipelajari adalah bagaimana menjaga ekosistem air agar kualitasnya sama dengan habitat aslinya. Setelah ekosistem siap, baru dimasukkan bibitnya.

“Di sini ada juga kolam pembibitan. Ini untuk kesinambungan pengisian bibit. Untuk siap dipelihara bibit itu ukuran 3-5 cm. Dalam 1 kolam berdiameter 2m tinggi 120 cm ini diisi 1000 ekor, dan selama tiga bulan masa budidaya diharapkan hasilnya minimal 100 kg per kolam”, ujar Riski.

Dalam masa pembesaran, Riski mengingatkan agar pembudidaya memperhatikan pakannya. Karena ikan lele termasuk jenis carnivora, maka makanannya harus berprotein tinggi. Saat ikan berukuran 3-4 cm mesti diberi pakan jenis PF 500, ukuran 5-7 cm beri PF 1000, dan ukuran 11-12 cm pakai Profit min-1 untuk menggenjot pembesaran ikan.

“Kita juga harus memperhatikan tingkat kepadatan ikan. Jika berlebihan, tingkat stres dan kematian ikan akan tinggi. Di kolam ini maksimal 1000 ekor ikan, dengan target panen minimal 100 kg. Alhamdulillah, target ini selalu bisa dicapai”, papar alumni UIN Raden Fatah ini.

Riski juga mengungkapkan jika usaha budidayanya sejauh ini menguntungkan. Menurutnya, biaya yang dibutuhkan untuk pembuatan satu kolam hingga panen sekitar Rp 1.180.000. Biaya itu untuk penyiapan sarana kolam termasuk pemasangannya 1,4 juta. Ketahanan terpal kolam ini hingga 5 tahun dan rangka bajanya bisa belasan tahun.

Selanjutnya, untuk biaya bibit 1000 ekor ikan sebesar Rp 180 ribu. Pakan 100 kg yang diperlukan mulai dari awal hingga panen per kolam Rp 1 juta. .

“Dengan hasil ikan minimal 100 kg dan harga ikan Rp 18.000 per kg, maka dalam per kolam menghasilkan Rp 1.800.000. Jadi keuntungan per kolam berkisar Rp 620 ribu. Kalau kita bisa menjual dengan harga lebih tinggi maka keuntungannya tentu lebih besar”, urainya.

Selama ini, imbuh Riski, banyak warga berkunjung untuk bertanya seluk-beluk budidaya ikan lele sampai penjualan. Terkadang mereka bingung dalam penjualan. Terkait ini Wermess Dakota memberi solusi, pihaknya siap membeli hasil panen sehingga masyarakat tidak bingung.

“Bagi yang ingin memesan kolam terpal bulat rangka baja juga dipersilahkan karena Wermess Dakota juga memproduksinya sendiri dengan harga Rp 1,4 juta per kolam’, pungkasnya. (shn)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts