Muaraenim, sumselupdate.com – Budidaya tanaman porang memiliki prospek ekonomi yang menguntungkan. Tak heran, saat ini budidaya porang pun mulai ramai dilirik bukan saja oleh petani, tetapi juga oleh para pelaku bisnis ataupun investor.
Salah satu pelaku bisnis yang tengah menekuni budidaya porang itu adalah Perusahaan Daerah Sarana Pembangunan Muara Enim (PD SPME). Dengan memanfaatkan lahan pertanian di area Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim, PD SPME saat ini telah berhasil melakukan panen umbi katak porang.
“Untuk budidaya tanaman porang yang kami lakukan saat ini telah berhasil panen umbi katak, dan ini tentunya yang pertama ada panen porang di Kabupaten Muara Enim. Hasil panen umbi katak ini merupakan bibit untuk ditanamkan kembali pada lahan yang telah kami siapkan, sekaligus untuk ditanamkan pada lahan petani yang menjadi mitra binaan”, ujar Direktur Utama PD. SPME, Novriansah Regan, S.Hut.
Menurut Novriansah, sejauh ini ada dua pola perlakuan dalam penanaman porang. Pertama, penanaman dengan memakai umbi porang yang akan lebih banyak menghasilkan katak dan umbi yang bobotnya lebih berat dibandingkan dengan menanam dari kataknya.
Kedua, penanaman porang dari katak. Menurutnya, untuk potensi pertumbuhan dari perlakuan ini prinsipnya sama. Bedanya, tanaman akan lebih kecil dibanding jika tanaman dari bibit umbi langsung. Begitu juga dengan berat umbi porang yang dihasilkan hanya bekisar 1 kg-1,5 kg, atau lebih sedikit ketimbang hasil dari bibit umbinya langsung yang beratnya bisa mencapi lebih dari 3 kg.
“Saya yakin dengan berkembangya minat masyarakat petani atau kelompok tani pada budidaya porang ini akan turut mempercepat laju perekonomian di Kabupaten Muara Enim, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat”, ungkap Novriansah.
Untuk itu, dia berharap budidaya porang ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, terutama dari jajaran pemerintahan Kabupaten Muara Enim.
Sebagai catatan, tanaman porang kini mulai banyak dibudidayakan oleh petani di sejumlah daerah. Umbi-umbian bernama latin Amorphophallus Muelleri ini biasanya dimanfaatkan dengan diolah menjadi tepung sebagai bahan baku industri kosmetik, pengental, lem, mie ramen, dan campuran makanan.
Tak heran, kini permintaan porang di pasar domestik maupun ekspor juga lumayan besar. Sementara harga porang saat ini bekisar Rp 9.000 hingga 13.000 per kg.
Dikutip dari Pertanian.go.id, tanaman porang memiliki nilai strategis untuk dikembangkan, karena punya peluang yang cukup besar untuk diekspor. Catatan Badan Karantina Pertanian menyebutkan, ekspor porang pada tahun 2018 tercatat sebanyak 254 ton, dengan nilai ekspor yang mencapai Rp11,31 miliar ke negara Jepang, Tiongkok, Vietnam, Australia dan lain sebagainya. (rel)











