Laporan: A Putra
Lahat, Sumselupdate.com – Bicara soal pertanian, tidak melulu tentang komoditi yang sudah banyak ditanam, seperti padi, sayuran holtikultura, kopi, karet, dan sawit. Namun ada komoditi yang saat ini dilirik mancagenara, yakni porang.
Sekretaris Asosiasi Petani Porang Sumsel Aprial Gunawan mengatakan permintaan ekspor porang terbilang tinggi di luar negeri, seperti negara negara di Asia bahkan saat ini negara di Eropa juga menjadikan porang untuk bahan pangan dan sejumlah produk lainnya.
“Memang saat ini porang belum dikenal masyarakat secara umum. Ini terlihat, petaninya di Sumsel ini masih sedikit sekali, apabila kita bandingkan dengan jumlah lahan pertanian yang tersedia. Dan masih banyaknya masyarakat yang belum tahu, bentuk batang, dan daun tanaman ini. Orang masih ada yang heran melihat tanaman porang ditanam di lahan pertanian,” kata dia, Minggu (6/2/2022).
Padahal, pertanian porang dengan potensi tinggi, bisa menjadi salah satu pilihan petani, untuk meningkatkan taraf hidup petani karena hasil panen porang cukup menjanjikan dengan presentase kegagalan yang kecil.
“Kalau berdasarkan pengalaman saya, di beberapa kabupaten dan kota di Sumsel, yang sudah ada petani porangnya, rata rata mereka berhasil membudidayakan porang, karena memang hampir tidak ada hamanya. Namun, namanya tumbuh-tumbuhan, pastilah ada hama penggangu, seperti ulat pemakan daun, namun tidak banyak,” ungkap dia.
Masalah lainnya, yakni porang biasa terkena serangan jamur pada bagian pangkal batangnya, namun jumlahnya pun hanya berkisar 15 hingga 20 persen, itu sudah paling banyak.
“Kalaupun terserang jamur, umbinya tidak apa apa, hanya batangnya yang diserang. Batangnya bisa mati, namun umbinya tetap bisa dipanen. Cara pengendaliannya, kalau ulat, disemprotkan insektisida, kalau jamur dikasih fungisida. Karena ini jenis umbi, babi hutan biasanya doyan dengan umbi-umbian, namun tidak suka dengan porang,” ungkapnya.
Sementara itu, Ivan Albar, petani porang di Deda Geramat, Kecamatan Mulak Ulu, Kabupaten Lahat mengatakan, dia bersama rekannya Jikermansyah, memperkenalkan porang di Kecamatan Mulak Ulu, hingga kini susah ada 20 orang petani porang.
“Awalnya memang orang heran, namun sejak tahu kegunaan porang, dan potensinya tinggi, orang mulai tertarik menanam porang,” ujar dia.
Ditambahkan Ivan, potensi panen porang bisa mencapai 80 ton dalam satu hektar lahan, dan apabila dibiarkan selama tiga sampai lima musim, umbi porang akan terus bertambah besar.
“Kami tanam porang sudah satu musim, terus kami tanamkan lagi, sehingga umbinya bertambah besar. Artinya, kalau kita buat dua musim, panen bisa mencapai 80 ton per hektar, harga saat ini stabil Rp5.000 per kilogram. Berarti pendapatan kotor bisa mencapai Rp400 juta,” tuturnya.
Senada disampaikan Jikermansyah, petani porang di Desa Sukananti, Kecamatan Mulak Ulu.
Dia mengaku tergabung dalam Asosiasi Petani Porang Sumsel, sehingga bisa mendapatkan pengalaman dari para petani lainnya dengan study banding ke kebun petani di daerah lain.
“Selain itu, asosiasi bisa bantu kita cari bibit, atau jual umbi porang. Karena asosiasi punya link ke PT Paidi Indo Porang, orang pertama yang membawa porang di Indonesia, dan sekarang sudah sukses dengan ekspor porang ke luar negeri,” terangnya
Jiker menambahkan, petani porang juga harus tahu, bahwa umbi porang mengandung zat racun sebanyak 20 persen, dan Glukomanan 80 persen, jadi petani tidak boleh mengonsumsi umbi porang secara langsung.
“Mentang-mentang umbi bisa jadi bahan pangan, seperti beras porang dari jepang, yang terkenal itu Sirataki, dan Konyaku, akan tetapi tidak bisa dikonsumsi secara langsung, orang kita belum punya ilmu memisahkan Glukomanan dari zat racunnya, makanya kita hanya ekspor porang kering dalam bentuk chip, atau yang sudah dipotong tipis-tipis seperti keripik, dan orang luar negeri yang mengelolanya menjadi beras porang, mie porang, kosmetik, bahkan bahan baku lem,” pungkasnya. (**)











