Belum 100 Persen, Tol Palindra Bisa Digunakan di H-5

Senin, 12 Juni 2017
Gerbang Tol Palindra

Palembang, Sumselupdate.com – Setelah melalui proses pengerjaan yang dihadapkan dengan kendala medan rawa, akhirnya Jalan tol Palembang Inderalaya (Palindra) Seksi 1 dengan panjang 9 kilometer, jika tidak ada halangan sudah bisa dilalui saat arus mudik Lebaran 2017 mendatang.

Pimpinan Proyek Tol Palindra dari PT Hutama Karya (Persero) Divisi Pengembangan Jalan Tol, Hasan Turcahyo, Senin (12/06/2017) mengatakan Tol Seksi 1, sudah bisa dilalui pada penghujung Juni atau H-5 Lebaran mendatang, meski secara keseluruhan belum rampung.

Read More

“Untuk seksi 1, sudah bisa dilalui pada penghujung Juni atau H-5 Lebaran nanti,” ujarnya.

Dikatakannya, untuk pembangunan ruas tol pertama di Provinsi Sumsel, sebenarnya  tidak menemui kendala berarti,  sebenarnya pengerjaan tol Palindra bisa lebih cepat  dari target jika saja tidak berada lahan rawa.

“Sebenarnya sudah selesai, kalau saja pengerjaan tidak berada di lokasi rawa,” ungkapnya.

Untuk diketahui, dari total lahan tol Palindra sepanjang 22 kilometer, 17 kilometer dari titik nol atau Desa Ibul Besar, Kecamatan Pemulutan, merupakan tanah rawa. Sedangkan 5 kilometer sisanya ke arah Kecamatan Inderalaya Induk, merupakan lahan kering.

Menghadapi medan rawa, ada teknik khusus yang dilakukan dan itu  berbeda dengan lahan jalan tol Indonesia pada umumnya, PT Hutama Karya (Persero) selaku Badan Usaha Jalan Tol Trans Sumatera memutuskan perbaikan tanah lunak di ruas tol Palindra dengan melakukan preloading menggunakan teknologi Vacuum Consolidation Method (VCM).

Teknologi ini digunakan untuk mengurangi kadar air dan kadar udara dari butiran tanah yang di atasnya akan dibangun konstruksi pengerasan lahan untuk jalan tol.

“Teknologi VCM yang digunakan tol Palindra ini merupakan yang pertama digunakan untuk pembangunan jalan tol di Indonesia. Tahun 1950-an, teknologi ini sudah  diaplikasikan di negara-negara Eropa, namun yang banyak mempraktikkan teknologi ini adalah negara Cina,” kata Hasan.

Lebih lanjut dijelaskan Hasan, teknologi VCM bekerja menciptakan tegangan negatif di dalam tanah rawa, untuk mengeluarkan kadar air dan udara dari butiran tanah dan mempercepat proses konsolidasi tanah yang merupakan lahan rawa tersebut. Proses mengkonsolidasi lahan rawa inilah yang menurut Hasan cukup menyita waktu.

“Nah dengan metode vacuum ini diperlukan waktu 3 hingga 4 bulan sehingga tanah tersebut mengalami 90 persen konsolidasi dan memadat. Untuk kemudian dilaksanakannya sesuai tahapan pekerjaan,” jelas Hasan. (adi) 

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts