Palembang, sumselupdate.com – Dampak Covid-19 memang terasa di seluruh sektor kehidupan. Tidak terkecuali pada usaha kecil menengah, seperti usaha Bakso Wong Pitu yang terletak di Jalan Tegal Binangun, Kota Palembang.
Owner Bakso Wong Pitu, Setiogo Hadi atau biasa dipanggil Mas Setio, menuturkan jika pandemi Covid-19 telah berdampak pada menurunnya omset penjualan baksonya hingga berkisar tiga puluh persen.
“Selain daya beli masyarakat menurun, kekhawatiran mereka untuk keluar rumah di tengah wabah corona telah berpengaruh pada penurunan omset usaha apa pun termasuk usaha bakso ini,” ujar Setio saat berbincang santai dengan Ketua Umum KONI Sumsel sekaligus Manajer Sriwijaya FC Hendri Zainuddin yang sengaja mampir dan makan bakso di kedai Bakso Wong Pitu, Sabtu (30/5/2020).
Sembari berharap wabah corona segera berakhir, Setio pun mengaku harus kreatif bersiasat agar usahanya tetap bertahan.
“Dengan tetap mempertahankan segementasi konsumen yang golongan menengah ke bawah, di tengah suasana sekarang saya harus bersiasat bagaimana agar harga bakso ini tetap terjangkau. Untuk itu dilakukan pengurangan jam kerja karyawan dari dua shift menjadi satu shift kerja. Juga bersiasat dengan membuat varian bakso dengan harga tetap terjangkau dan memaksimalkan penjualan online via go food,” tutur alumni FKIP Unsri yang juga berprofesi sebagai ASN guru di salah satu SMP Negeri di Kota Palembang ini.
Dia menambahkan, varian baksonya kini cukup banyak. Sebut saja, ada bakso iga, bakso tulang, dan bakso ayam bangkok yang memang menjadi menu favoritnya. Selain itu, ada juga bakso sapi, bakso telor, dan bakso tumpeng.
“Wong Pitu juga menjual bakso bakar, mie ayam, ayam bakar dan pecel lele serta aneka minuman. Varian bakso Wong Pitu harganya cukup terjangkau, merentang di harga Rp 8 ribu hingga 12 ribu”, imbuhnya.
Di tengah hingar-bingar upaya pemerintah mengurangi dampak Covid-19 pada sektor usaha, Setio berharap pemerintah tidak melupakan kelompok UMKM yang keberadaannya diakui sangat menopang ekonomi masyarakat kecil.
“Harapannya sih ada bantuan dari pemerintah, terutama dalam aspek permodalan selama terdampak Covid-19. Selain itu, ke depan yang tak kalah pentingnya adalah bantuan dalam hal urusan sertifikasi kesehatan dan kehalalan usaha”, tegasnya.
Meski mengaku sedikit terseok oleh dampak corona, sosok asal Belitang ini merasa bersyukur karena usaha yang dirintis sejak 2014 itu masih bisa bertahan tanpa harus merumahkan sepuluh karyawannya .
“Soal omset memang otomatis ikut menurun, tapi alhamdulillah masih mencapai rata-rata 2 juta per hari. Cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membantu biaya hidup karyawan”, tutup Setio merendah. (shn)











