Tokyo, Sumselupdate.com – Kasus bunuh diri di kalangan pelajar Jepang mencapai angka tertinggi dalam sejarah pada tahun 2024.
Sebanyak 529 pelajar tercatat mengakhiri hidupnya sendiri, meningkat 16 kasus dibandingkan tahun sebelumnya. Data ini dirilis oleh Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang.
Dari jumlah tersebut, terdapat 15 pelajar sekolah dasar (SD), 163 siswa sekolah menengah pertama (SMP), dan 351 siswa sekolah menengah atas (SMA).
Laporan dalam Buku Putih tentang Pencegahan Bunuh Diri (White Paper on Suicide Countermeasures) edisi 2025, yang disahkan dalam rapat kabinet pada Jumat (24/10), mencatat bahwa angka bunuh diri di kalangan siswa SMP menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah.
Dalam laporan itu disebutkan, masalah yang berkaitan dengan sekolah menjadi faktor paling umum di balik kasus bunuh diri di kalangan pelajar berusia di bawah 19 tahun. Faktor lainnya mencakup permasalahan kesehatan dan keluarga.
Selain itu, laporan juga menemukan banyak mahasiswa berusia 21 tahun yang bunuh diri, diduga karena tekanan menghadapi masa transisi menuju dunia kerja atau kelanjutan pendidikan.
Secara keseluruhan, angka bunuh diri di kalangan pemuda berusia 15 hingga 29 tahun masih tinggi, dengan lebih dari 3.000 kasus setiap tahun sejak 2020.
Fenomena serupa juga terjadi pada wanita muda berusia 20-an tahun, di mana sekitar 40 persen dari mereka yang meninggal akibat bunuh diri sebelumnya pernah mencoba mengakhiri hidupnya.
Sementara itu, total kasus bunuh diri di Jepang pada 2024 mencapai 20.320 kasus, turun 1.517 dari tahun sebelumnya. Meski menurun, jumlah tersebut tetap menjadi yang tertinggi kedua sejak pencatatan statistik dimulai pada 1978.
(**)











