Palembang, Sumselupdate.com — Kualitas udara Kota Palembang berada dalam kondisi berbahaya di tengah tingginya kejadian kebakaran lahan.
Berdasarkan data Pemerintah Kota Palembang hingga 17 September 2026, tercatat 406 kejadian kebakaran lahan dengan luas terdampak mencapai sekitar 254,23 hektare.
Sehari berselang, kondisi kualitas udara Palembang juga memburuk. Nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) tercatat mencapai 302 pada Jumat (18/9/2026) pukul 04.00 WIB atau masuk kategori berbahaya.
Kondisi karhutla dan kualitas udara tersebut menjadi perhatian dalam kunjungan kerja Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago ke Sumatera Selatan, Jumat.
Djamari bersama Wali Kota Palembang Ratu Dewa meninjau Posko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kantor Kecamatan Kertapati, Jalan Sriwijaya Raya KM 14, Palembang.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru serta jajaran Komandan Operasi Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Sumsel.
Dalam arahannya, Djamari menekankan pentingnya pemetaan wilayah rawan serta prediksi lokasi kemunculan api sebagai dasar pengerahan personel dan peralatan.
“Penanganan karhutla harus dilakukan secara terukur dengan memusatkan kekuatan pada wilayah yang memiliki potensi kebakaran tinggi,” kata Djamari.
Menurutnya, efisiensi pengerahan sumber daya diperlukan agar personel dan peralatan dapat segera dikirim ke lokasi yang membutuhkan penanganan.
“Pemetaan titik rawan dan prediksi lokasi kemunculan api menjadi bagian penting agar personel dan sumber daya dapat dikerahkan secara efektif,” ujarnya.
Djamari juga menekankan bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya dilakukan setelah api muncul. Upaya pencegahan dan pengawasan di wilayah rawan harus diperkuat.
Titik Panas Sumsel Masih Tinggi
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan sejumlah wilayah di Indonesia masih menghadapi tingginya titik panas, termasuk Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Riau dan Jambi.
“Sumatera Selatan menjadi salah satu provinsi dengan jumlah titik panas yang tinggi. Meski trennya menunjukkan penurunan, kondisi ini tetap membutuhkan kewaspadaan,” kata Raja Juli.
Menurutnya, titik panas yang tidak segera diantisipasi berpotensi berkembang menjadi kebakaran lahan.
Penanganan dilakukan melalui kombinasi kekuatan darat, operasi water bombing, pemetaan titik panas serta patroli untuk mencegah munculnya titik api baru.
406 Kebakaran Lahan Terjadi di Palembang
Wali Kota Palembang Ratu Dewa mengatakan, berdasarkan data hingga 17 September 2026, terdapat 406 kejadian kebakaran lahan di Kota Palembang dengan luas terdampak sekitar 254,23 hektare.
“Berdasarkan data kondisi terkini hingga 17 September 2026, tercatat sebanyak 406 kejadian kebakaran lahan dengan luas terdampak sekitar 254,23 hektare,” ujar Ratu Dewa.
Kecamatan Kertapati menjadi wilayah dengan jumlah kejadian terbanyak, yakni 64 kejadian. Disusul Gandus 60 kejadian, Alang-Alang Lebar 56 kejadian, Ilir Barat I 50 kejadian dan Sukarami 49 kejadian.
Sementara pada tingkat kelurahan, kejadian terbanyak tercatat di Kelurahan Gandus sebanyak 39 kejadian, Bukit Baru 30 kejadian dan Sukamulya 28 kejadian.











