Teheran, Sumselupdate.com – Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menyalahkan sikap Amerika Serikat (AS) yang dinilai mengedepankan tuntutan maksimalis serta ancaman blokade militer sebagai penyebab gagalnya perundingan damai kedua negara.
Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi melalui unggahan di platform X pada Senin (13/4/2026) waktu setempat. Ia menyebut negosiasi yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu (11/4/2026) sebenarnya hampir mencapai kesepakatan.
Menurut Araghchi, Iran telah menunjukkan itikad baik dalam upaya meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Namun, situasi berubah ketika pihak AS dinilai mengajukan tuntutan yang terus berubah serta mengancam dengan blokade militer.
“Dalam pembicaraan intensif di tingkat tertinggi, kami hanya tinggal selangkah lagi dari kesepakatan. Namun, kami justru menghadapi tuntutan maksimalis, perubahan sikap, dan ancaman blokade,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa hubungan kedua negara sangat bergantung pada sikap saling menghormati. “Niat baik akan dibalas dengan niat baik, sementara permusuhan akan melahirkan permusuhan,” tambahnya.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa Angkatan Laut AS akan mulai memblokade kapal-kapal yang masuk dan keluar dari Selat Hormuz, menyusul kegagalan perundingan tersebut.
Menanggapi hal itu, Komandan Angkatan Laut Iran Shahram Irani menyebut ancaman tersebut sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Ia menegaskan bahwa pihaknya terus memantau pergerakan militer AS di kawasan.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa setiap kapal militer yang mendekati Selat Hormuz dengan alasan apa pun akan dianggap melanggar gencatan senjata dan berpotensi mendapat tindakan tegas.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis perdagangan energi dunia. Ketegangan di kawasan ini berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi global, khususnya distribusi minyak dan gas.
(**)











