BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 di Sumsel Maju 20 Hari, Mayoritas Wilayah Mulai Juni dan Berpotensi Lebih Kering

Writer: - Kamis, 26 Maret 2026
Ilustrasi. (Foto; Sumselupdate.com/Istimewa)

Palembang, Sumselupdate.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan memprediksi awal musim kemarau 2026 di wilayah Sumatera Selatan akan datang lebih cepat dibandingkan kondisi normal.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, mengatakan sebagian wilayah Sumsel diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada Mei hingga Juni 2026. Bahkan, beberapa daerah mengalami pergeseran lebih cepat sekitar 20 hari dari biasanya.

Read More

“Mayoritas wilayah Sumatera Selatan mulai memasuki musim kemarau pada awal sampai pertengahan Juni, sedangkan sebagian wilayah lainnya lebih dulu pada akhir Mei. Ini menunjukkan musim kemarau tahun ini datang lebih awal dibanding pola normal,” ujarnya.

Ia merinci, sekitar 29 persen wilayah Sumatera Selatan diprediksi mulai mengalami musim kemarau pada akhir Mei. Sementara itu, sekitar 64 persen wilayah lainnya akan memasuki periode kemarau pada awal hingga pertengahan Juni.

Selain datang lebih cepat, sifat musim kemarau tahun ini didominasi kondisi bawah normal atau curah hujan yang lebih rendah dibandingkan rata-rata tahunan. Hanya sebagian kecil wilayah yang diperkirakan memiliki curah hujan normal, sedangkan sebagian besar wilayah berpotensi lebih kering.

Kondisi ini dinilai perlu menjadi perhatian serius karena dapat meningkatkan risiko kekeringan, terutama di daerah yang bergantung pada pasokan air hujan untuk pertanian maupun kebutuhan sehari-hari.

BMKG juga memprediksi puncak musim kemarau di Sumatera Selatan akan terjadi pada Juli di sebagian kecil wilayah. Sementara mayoritas daerah diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus.

Meski demikian, karakteristik musim kemarau di setiap wilayah tidak sepenuhnya sama. Sebagian daerah diperkirakan mengalami puncak kemarau sesuai pola normal, sebagian maju sekitar satu bulan, dan sebagian lainnya mundur lebih dari satu bulan.

“Perbedaan ini menunjukkan karakteristik musim antarwilayah di Sumatera Selatan cukup beragam, sehingga masyarakat perlu memperhatikan perkembangan cuaca di daerah masing-masing,” katanya.

Untuk durasi, musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung antara tujuh hingga 15 dasarian atau sekitar dua hingga lima bulan. Wilayah bagian tengah Sumatera Selatan diprediksi mengalami durasi kemarau paling panjang.

Di kawasan tersebut, musim kemarau dapat berlangsung selama 13 hingga 15 dasarian atau sekitar empat hingga lima bulan, yang tergolong cukup panjang untuk wilayah Sumatera.

BMKG mengimbau pemerintah daerah, petani, dan masyarakat untuk mengantisipasi dampak musim kemarau lebih awal, terutama dalam pengelolaan sumber air, pencegahan kebakaran lahan, serta penyesuaian pola tanam.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts