AS Gunakan Bom Penghancur Bunker GBU-72 Serang Situs Rudal Iran di Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Melonjak

Writer: - Jumat, 20 Maret 2026
Selat Hormuz dari udara. Foto: REUTERS/Nicolas Economou

Jakarta, Sumselupdate.com – Militer Amerika Serikat dilaporkan menjatuhkan bom berteknologi khusus penghancur bunker seberat sekitar 2.200 kilogram ke situs-situs rudal bawah tanah Iran di dekat Selat Hormuz.

Serangan besar-besaran yang diumumkan Komando Pusat Amerika Serikat tersebut terjadi di tengah memanasnya konflik, yang berdampak pada terhentinya arus pelayaran di jalur vital Teluk Persia, salah satu rute utama distribusi minyak mentah dunia.

Read More

“Beberapa jam yang lalu, pasukan AS berhasil mengerahkan sejumlah amunisi penembus dalam seberat 5.000 pon ke situs-situs rudal Iran yang diperkuat di sepanjang garis pantai Iran di dekat Selat Hormuz,” tulis CENTCOM melalui platform X.

CENTCOM menegaskan bahwa keberadaan rudal jelajah anti-kapal Iran di kawasan tersebut dinilai berisiko besar terhadap keselamatan pelayaran internasional.

Seorang pejabat AS kepada CNN menyebutkan bahwa amunisi yang digunakan adalah GBU-72 Advanced 5K Penetrator, bom penghancur bunker yang pertama kali digunakan pada 2021.

Menurut keterangan Angkatan Udara Amerika Serikat, bom ini dirancang untuk menghancurkan target yang diperkuat dan terkubur jauh di bawah tanah, serta dapat digunakan oleh pesawat tempur maupun pesawat pengebom.

Sejauh ini, hanya dua jenis pesawat yang disetujui membawa bom tersebut, yakni B-1B Lancer dan F-15E Strike Eagle.

Situasi di Selat Hormuz semakin memanas setelah Iran menutup jalur tersebut menggunakan ranjau laut, drone, dan kapal militer. Penutupan ini berdampak besar karena sekitar 27 persen pasokan energi maritim global melintasi wilayah tersebut, serta memicu lonjakan harga minyak dunia hingga menembus USD 100 per barel.

Langkah Iran disebut sebagai respons atas serangan gabungan AS dan Israel sebelumnya.

Presiden Donald Trump juga mengecam sekutu Eropa seperti Prancis dan Inggris karena dinilai tidak membantu membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.

“AS akan terus dengan cepat melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam kebebasan navigasi di dalam dan di sekitar Selat Hormuz,” ujar Laksamana Brad Cooper, Komandan CENTCOM.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts