Saat Literasi Digital Menentukan Nilai

Writer: - Minggu, 17 Agustus 2025
Ilustrasi ANBK di Palembang (Sumsleupdate.com/ Ist)

Di ruang kelas sebuah sekolah menengah negeri di Jakarta, suasana mendadak riuh ketika bel ujian berbunyi. Namun bukan lagi lembaran kertas ujian yang dibagikan guru, melainkan tablet yang telah terhubung dengan jaringan sekolah. Inilah wajah baru ujian di era literasi digital: menuntut siswa tidak hanya cerdas dalam materi pelajaran, tetapi juga piawai menavigasi perangkat teknologi.

Transformasi ujian ke arah digital sebenarnya sudah berlangsung beberapa tahun terakhir. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) sejak 2015 mulai memperkenalkan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Kini, meski Ujian Nasional resmi dihapus pada 2021, berbagai bentuk asesmen digital tetap dilanjutkan melalui Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK). Tujuannya bukan lagi semata mengukur kemampuan kognitif siswa, tetapi juga menilai literasi, numerasi, dan karakter.

Read More

Namun, di tengah upaya pembaruan itu, muncul ujian yang jauh lebih besar: bagaimana memastikan generasi muda memiliki kecakapan literasi digital yang mumpuni. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2024 mencatat jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 221 juta orang, atau sekitar 79,5 persen dari total populasi. Angka ini fantastis, tetapi sekaligus memunculkan paradoks: tingginya penetrasi internet tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas literasi digital.

Fenomena penyebaran hoaks, perundungan siber, hingga kebocoran data pribadi memperlihatkan masih rapuhnya fondasi literasi digital masyarakat. Kasus yang menimpa ratusan ribu data pribadi pengguna platform e-commerce besar di Indonesia pada 2020, misalnya, menjadi alarm betapa rentannya keamanan digital. Ironisnya, sebagian pelajar justru menjadikan internet sekadar ruang hiburan, alih-alih sebagai sarana pembelajaran.

UNICEF Indonesia dalam laporannya tahun 2023 mencatat, meski 9 dari 10 anak usia sekolah di perkotaan memiliki akses internet, hanya sekitar 35 persen yang menggunakan perangkat digital untuk kegiatan belajar secara konsisten. Sisanya lebih banyak memanfaatkan gawai untuk media sosial dan gim daring. “Tantangannya bukan hanya soal akses, tapi juga pola pemanfaatan,” kata Robert Jenkins, Director of Education UNICEF, dalam sebuah konferensi di Jakarta, April 2023.

Kondisi ini menunjukkan bahwa ujian besar era literasi digital sesungguhnya berlangsung setiap hari, bukan hanya saat asesmen formal di sekolah. Guru, orang tua, dan pemerintah perlu memastikan anak didik mampu berpikir kritis, memilah informasi, serta menjaga etika di ruang digital.

Di tingkat global, Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) menekankan literasi digital sebagai keterampilan dasar abad ke-21. Laporan UNESCO tahun 2022 menegaskan bahwa literasi digital bukan lagi pelengkap, melainkan prasyarat untuk partisipasi aktif dalam masyarakat modern. Indonesia, sebagai negara dengan populasi digital besar, tak bisa abai terhadap mandat ini.

Meski demikian, praktik di lapangan masih menghadapi banyak kendala. Tidak sedikit sekolah di daerah pelosok yang kesulitan menggelar ujian berbasis komputer akibat keterbatasan perangkat dan jaringan internet. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 menunjukkan bahwa masih ada sekitar 12 ribu desa di Indonesia yang belum memiliki akses internet memadai. Situasi ini membuat kesenjangan literasi digital antara kota dan desa semakin menganga.

Sebagian pihak menilai, ujian berbasis digital justru berpotensi menciptakan ketidakadilan baru. Anak-anak di perkotaan dengan fasilitas lengkap lebih siap menghadapi asesmen digital, sementara siswa di daerah tertinggal harus berjibaku dengan infrastruktur yang minim. Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) bahkan sempat meminta pemerintah meninjau ulang penerapan ANBK penuh sebelum persoalan infrastruktur benar-benar teratasi.

Namun di sisi lain, ada kisah-kisah inspiratif. Seorang guru matematika di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah—yang enggan disebutkan namanya—mengaku harus menyiasati keterbatasan dengan mengajak murid-muridnya berlatih mengerjakan soal lewat ponsel. “Tidak ideal, tapi anak-anak jadi terbiasa dengan format digital,” katanya. Kisah ini menunjukkan bahwa inovasi di tingkat akar rumput tetap mungkin dilakukan, meski kondisi belum sempurna.

Lalu, apa yang harus dipersiapkan untuk menghadapi ujian besar era literasi digital? Pertama, penguatan kurikulum yang tidak hanya menekankan pada penggunaan perangkat, tetapi juga pada aspek etika, keamanan, dan kemampuan berpikir kritis. Kedua, pemerataan akses teknologi agar tidak tercipta jurang literasi antara kelompok masyarakat. Ketiga, kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan komunitas untuk menyediakan konten edukatif yang relevan bagi anak muda.

Di era ketika algoritma media sosial kerap lebih menentukan pandangan anak muda dibandingkan buku pelajaran, ujian sesungguhnya adalah mempertahankan daya kritis dan integritas. Bukan hanya siswa, guru pun ditantang untuk terus belajar, menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi, dan menanamkan kesadaran digital kepada murid-muridnya.

Seperti ujian sekolah yang selalu datang dengan soal berbeda tiap tahun, ujian literasi digital pun akan terus berkembang seiring kemajuan teknologi. Generasi muda Indonesia dituntut tak sekadar lulus ujian akademis, tetapi juga tangguh menghadapi ujian besar peradaban digital.(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts