Karya: Muhammad Lutfi
SEPULUH hari telah berlalu. Tapi lelaki itu belum datang juga. Dokter sudah menunggunya. Terpaksa dia dilewatkan lebih dahulu supaya pasien yang antrE tidak berdesakan. Masuklah pasien A ke kamar klinik. Dokter memeriksa tensi darahnya.
Darahnya rendah, kurang makan sayur. Dokter menyarankan supaya makan sayur karena bisa menambah tensi darah . kemudian minum air putih banyak-banyak agar tidak dehidrasi. Dokter kemudian memanggil pasien selanjutnya setelah memberikan secarik kertas kepada pasien tadi.
Pasien B masuk kamar klinik. Dokter menyuruhnya duduk di kursi. Diperiksanya darah dan degup jantung orang itu. Jantungnya lemah, tidak mampu untuk beraktivitas yang berat-berat. Dokter membuat resep lalu memberinya ke pasien B.
Pasien selanjutnya, tetapi keburu bunyi sirine ambulans datang. Seorang lelaki dibawa ke UGD. Tubuhnya lebam dan tak sadarkan diri. Dokter masih melanjutkan pemeriksaan ke pasien selanjutnya.
Kerumunan di luar kemudian ingin melihat siapa yang dibawa oleh para perawat tadi. Mereka semua penasaran. Saling tanya dan mengintipnya di pintu yang ada kacanya itu. Disusul oleh beberapa orang di belakangnya yang berpakaian serba hitam.
Mereka adalah polisi. Mereka mengenalkan tanda bukti di kalung mereka kepada perawat. Seorang lelaki yang dirawat di UGD itu adalah seorang buron yang ditembak polisi tepat di kaki sebelah kanan. Dua polisi itu membikin ruangan tampak gelap dan seluruh isi tubuhku juga gemetaran. Mereka berdua dengan sigap menunggu hasil pemeriksaan.
Seorang dokter dari dalam ruang UGD keluar sambil memberikan hasil forensik kepada dua polisi itu. Lelaki yang badannya penuh tato itu juga keluar memakai tongkat kaki. Kakinya pincang sebelah. Dia tergopoh-gopoh jalannya.
Polisi membawa dia masuk ke dalam mobil. Mereka tutup pintu mobil dan kaca mobil. Semua tertutup rapat. Lalu lekas pergi mobil itu meninggalkan rumah sakit. Aku bertanya pada dokter, “Itu tadi siapa, Dok?” dokter memberitahu sesuai dugaanku. Dia adalah buron yang ditembak polisi.
Tapi wajahnya tertutup rambut yang ikal dan badannya penuh tato. Aku tak ahu orang tadi siapa. Hanya tergerai rambutnya menutupi seluruh mukanya.
Esok hari aku mendengarkan acara berita di televisi. Berita utama tentang seorang napi yang jadi tersangka gembong narkoba telah tertangkap polisi. Wajahnya di televisi sama persis seperti wajah yang tadi malam aku jumpai.
Dia adalah seorang buron yang sudah lama jadi incaran polisi. Sebagai bandar narkoba, dia mempunyai beberapa bawahan yang semuanya juga terciduk oleh polisi. Polisi tidak main-main. Kesemuanya ditangkap.
Terlihat di dalam televisi itu, ada sekitar lima orang anak buahnya yang tertangkap. Badannya semua besar-besar. Bertato semua. Wajahnya sangar-sangar. Ada satu yang badannya kecil. Rambutnya panjang. Polisi menyibakkan wajahnya dan mendongakkan wajahnya ke kamera wartawan.
Itu adalah kakakku. Dia lelaki yang sudah lama merantau. Tetapi kini dia tertangkap polisi. Ada jalan takdir yang membuat dia sampai di jalan itu. Kenapa harus jalan seburuk itu yang dia pilih, sedangkan jalan yang baik masih banyak.
Aku lupa dan tidak mengenali wajahnya karena tato di badannya. Rambutnya juga terburai panjang. Badannya dulu tidak sekurus itu. Dia dulu gemuk dan berisi. Sekarang badannya cungkring dan sulit mengenali dirinya seperti itu.
Aku buru-buru menelpon kakakku. Siapa tahu orang yang ditangkap polisi itu bukan dia. Hanya sepintas mirip saja. Tetapi telpon tidak terjawab. Aku ulangi lagi, tidak ada panggilan terjawab. Aku menghubungi ibuku. Memintanya melihat siaran di televisi.
Ibu sambil menangis kutelpon. Dia terisak tangis. Aku jadi semakin bersedih. Suasana hatiku tidak karuan. Aku segera saja mengunjungi rumah ibuku. Aku takut terjadi apa-apa pada ibuku. Setibanya di sana, dia masih menangis di kursi.
“Ibu, jangan menangis!” pintaku untuk meredamkan kesedihan hatinya. Hati seorang ibu telah menahan malu dan sedih. Dia tak tahan melihat anaknya terjerat kasus narkoba dan harus dipidana mati.
Sebagai keluarga, kami tidak tega kehilangan salah satu keluarga kami. Bagaimanapun dia tetaplah keluarga kami. Dia terlahir dari ibuku. Pada saat terakhirnya, kami ingin menengoknya untuk terakhir kali.
Kami setiba di penjara, dikenakan uang masuk. Setiap orang harus membayar jika mau membesuk. Waktunya hanya setengah jam. Kakakku didatangkan dari selnya untuk menemui kami. Wajahnya lemas tanpa harapan.
Dia menangis memegang tangan ibuku. Dia memohon maaf atas segala kesalahan yang telah dia perbuat. Jika ada hal yang bisa dia lakukan, maka mungkin ini terakhir kalinya. Dia sudah berpikir tentang kematian.
Raut mukanya sangat memelas dan pucat semua. Aku yang melihatnya jadi sedih. Air mataku keluar. Buih-buih tangisanku membasahi sampai bibirku. Dia menyuruh aku mendekat padanya. Dia pegangi tanganku.
Dia berkata kepadaku untuk menjaga ibuku. Sebab dia sudah tidak tahan lagi. Dia akan dihukum mati. Sudah tidak ada harapan pada wajahnya. Hanya pasrah pada keadaan. Genggamannya makin kuat memegang tanganku.
Aku berusaha menenangkan dirinya. Supaya dia tidak kepikiran untuk segera mati dan putus harapan. Walaupun semuanya sudah berjalan sesuai dengan hukum. Dia memintaku mendekatkan telinganya di balik kaca.
Dia meminta dibawakan sejadah, peci, dan sarung, dan lainnya buat dia ibadah. Dia ingin bertaubat. Sebelum ajal menjemputnya. Selesai berbisik, dia melepaskan tanganku. Dua orang sipir membawanya kembali ke dalam sel.
Aku melihatnya meronta dan tertunduk. Dia seperti tersiksa di dalam sana. Aku sangat kasihan melihatnya. Hanya beberapa permintaan itu yang dia inginkan. Aku besok akan kemari lagi.
Esok harinya aku membawakan apa yang dia pinta. Tetapi kali ini, dia membuatkan aku surat. Dia robek kertas dan menulisnya. Lalu ditaruh dalam amplop. Dia berpesan kalau itu hanya boleh dibaca oleh ibu saja. Jangan dibuka jika dia belum mati.
Aku penasaran dengan apa yang dia tulis. Mungkin saja itu sebuah surat wasiat sebelum dia mati. Dia tak bisa berkata panjang lebar lagi. Hanya ucapan terimakasih dari mulutnya kepadaku. Dan berpesan untuk menjaga diri baik-baik.
Seminggu sebelum perjalanan menuju kematian, lelaki yang telah dijatuhi hukuman mati itu harus menunggu saatnya tiba. Dia memakai peci, sarung, dan menggelar sejadah. Narapidana yang lain ada yang tidak terima.
Dia dipukul sampai jatuh. Dia bangkit lagi. Mau dipukul lagi. Dia berusaha menameng pukulan itu. Mendengar kegaduhan, sipir datang dan membuka sel. Dua sipir menggebuki lelaki itu dan satunya lagi yang telah melakukan pemukulan.
Sipir hanya ingin suasana penjara tenang dan damai. Setelah semuanya seolah tenang, sipir kembali keluar. Menutup pintu sel dan menguncinya. Lelaki itu menggelar sejadah lagi. Sejadahnya ditendang.
Napi-napi di situ tidak senang dengan kehadirannya. Napi-napi itu tidak senang dengan kelakuan lelaki itu. Lelaki itu memberi alasan bahwa dia hanya ingin melakukan shalat pada Maha Kuasa. Bagi narapidana yang lain itu sangat menganggu.
Dia didorong dan dipukuli lagi. Dia berteriak, tetapi tak ada sipir yang datang. Dia babak belur dalam sel penjara. Setelah dia tersungkur hampir pingsan dan benjol di tubuhnya. Dia didatangi oleh napi.
Napi itu berkata dengan mengegrtak dan kasar sekali, “Kamu berulah lagi?” dengan suara keras dan membentak, membikin jiwa lelaki itu makin kecil. Dia merasa sangat takut. Dia berkata kepada penjaga sel itu supaya dirinya diizinkan shalat. Itu saja.
Napi itu merasakan bersyukur, bagaimana orang bebas bisa sembahyang di mana saja. Di rumah, di mushola, di masjid, di tepi sungai, dan dimana-mana. Di sini mau sembahyang saja godaan dan sulitnya bukan main.
Akhirnya lelaki itu mengalah. Dia memilih waktu malam hari saja untuk sembahyang, ketika semua napi tertidur pulas. Sembahyangnya dilakukan dengan cepat. Kalau sampai ada narapidana lain yang tahu, dia bisa dalam bahaya lagi.
Badannya cungkring dan tak bisa membela diri. Dia tidak bisa menahan amukan dari narapidana-narapidana lainnya. Seusai sembahyang, air matanya berderai membasahi pipinya. Sungguh dia menyesal telah melakukan perbuatan dosa semacam itu.
Dia merasakan hidupnya sia-sia saja. Tidak ada yang bisa dilakukannya sekarang ini. Berpasrah diri kepada kehendak Maha Kuasa saja. Hanya itu yang dia tahu. Dia merasa menyesal sudah salah jalan dalam menempuh hidup ini.
Keluarganya masih peduli, dia dikirimi beberapa lauk dan nasi. Tetapi terkadang ada uang jatah juga buat sipir yang mau mengantarkan nasi itu padanya. Dia makan dan mau berbagai dengan narapidana yang lain.
Lama-kelamaan narapidana dalam satu sel-nya berbaik hati. Mereka Sudah tidak mengganggu dia ketika sembahyang. Hanya saja kadang perbuatan mereka suka usil. Suka disuruh mijitin dan teriak membentak pada lelaki itu.
Pada hari itu, semua keluarganya sudah berkumpul. Mereka menanti sebuah ambulan mengantarkan jasad lelaki yang dipenjara itu. Semua keluarganya sudah berdoa demi keselamatan dirinya. Dan derai air mata membasahi seisi rumahnya.
Desember 2022
Tentang Penulis

Muhammad Lutfi, S.S. lahir di Pati, tanggal 15 November 2002. Merupakan anak pertama dari pasangan Slamet Suladi, Spd., Mpd., dan Siti Salamah, Spd. Sedang melanjutkan kuliah pascasarjana di UNNES. Bidang sarjana sastra Indonesia diselesaikan di UNS.
Buku yang pernah ditulis, puisi: Aku dari East City, Taka, Gugat, Mata Sengsara. Cerpen: Bunga Dalam Air, Tabula Rasa, Pelaut. Novel: Senja, Bisma Pahlawan Hidup Kembali, Berlayar, Zahra dan Kotak Pandora. Drama: Asuh, Elegi. Buku filsafat: Kakawin Wiradarma, Serat Tri Aji.
Bekerja sebagai guru bahasa Indonesia di SMP N 1 Jaken. Bergiat di komunitas Rumput Sastra. Mendirikan TBM Rumput Sastra dan mendirikan redaksi cyber sastra. Dulu juga sempat bekerja sebagai jurnalis selama 4 bulan, kemudian sebagai guru di SMK swasta.
Juara yang pernah diraih: juara 1 penulisan puisi, juara 1 tulis puisi, juara 2 penulisan puisi UNS, juara 3 lomba puisi di sastra Asean Vaganza. Beberapa karyanya berupa esai, cerpen, kritik sastra, dan puisi, serta naskah drama dipublikasikan di: solopos, apajake, balai bahasa bali, balai bahasa semarang, Kompas, koran amanah, koran Selangor, koran suara serawak, semesta seni, ellipsis. (**)











