Cerpen: Cerita Kita Dua Puluh Tahun Mendatang

Ilustrasi

Kau lagi-lagi duduk menghadap meja di dalam kamar kita saat aku pulang kerja. Di depanmu, pensil warna-warni berserakan di sekitar kertas yang penuh coretan. Sudah hampir jam 9 malam, tetapi kau tampak masih bersemangat untuk merancang sampul sebuah novel.

Aku lalu duduk di sampingmu tanpa bersuara. Kembali menilik dan menebak akhir dari rancangan gambarmu dengan tidak mengusik. Di dalam hati, aku yang tak punya kepekaan soal seni visual, hanya bisa berdoa semoga imajinasimu bekerja dengan baik dan segera merampungkannya.

Read More

Detik demi detik lantas merongrong gerakan pensilmu yang terbata-bata. Berkali-kali kau merangkai pola abstrak di sekitar sketsa sepasang kupu-kupu, tetapi kau lekas menghapusnya dengan kesal. Aku pun khawatir kalau kau telalu memaksakan pikiranmu dan jadi lupa diri.

“Kau pasti belum makan malam gara-gara urusan desain itu, kan?” tebakku, seturut kebiasaanmu yang tidak suka mengulur waktu untuk menyelesaikan perkerjaan, meski untuk hitungan rehat.

Kau lalu mengangguk pelan dengan wajah cemberut.

“Ya, sudah. Ayo kita makan. Aku sudah beli seblak kesukaanmu.” Aku lalu menggenggam tanganmu dan mencoba melucuti pensilmu. “Ingat, tak baik kalau perutmu keroncongan. Asam lambungmu bisa parah.”

Tetapi kau malah menepis tanganku dan menggeleng keras.

Dengan serta-merta, aku membaca kebulatan tekadmu untuk tetap berkutat dengan pensil dan kertas. Aku pun pasrah dan berharap kau akan mengalah sendiri setelah imajinasimu benar-benar buntu.

Akhirnya, aku kembali terdiam dan hanya menontonimu bekerja sebagai desainer sampul profesional. Aku mesti bersabar, sebab untuk merancang sebuah mahakarya, kau senantiasa menghabiskan banyak waktu demi memuaskan watak perfeksionismu.

Untungnya, aku memang tak jemu-jemu berada di sampingku. Aku malah akan bersemangat karena punya kesempatan untuk memerhatikan keluguan wajahmu yang menawan. Apalagi, ekspresimu akan tampak begitu menggemaskan kala kau sedang berpikir serius.

Namun beberapa lama kemudian, emosimu tiba-tiba melonjak. Kau lantas meremukkan kertas gambarmu dan melemparkannya ke sudut ruangan.

Seketika pula, aku merangkulmu dan menarikmu ke dalam pelukanku. “Istirahatlah. Sudah hampir setengah 10 malam. Kau perlu jeda agar pikiranmu kembali segar untuk meramu ide,” nasihatku, sembari berharap kau tak begadang lagi demi pekerjaanmu seperti kemarin-kemarin.

Tetapi kau malah menyergah kesal. “Bagaimana bisa aku istirahat? Rancangan desainku sama sekali belum jelas. Padahal, besok, aku harus mengirimkannya kepada si pemesan.”

Aku lantas mengusap-usap rambutmu yang tampak mulai beruban. “Sudahlah. Jangan dipaksakan. Tak mengapa kalau molor. Aku yakin, penulis novel itu akan memaklumimu. Apalagi, kalian memang bersahabat, kan?” tanggapku, pura-pura tak mengerti soal kedekatan kalian di masa lalu.

Kau lantas menarik kepalamu dari pundakku, kemudian mengangguk-angguk. “Tetapi justru karena itulah aku harus menepati janjiku,” tuturmu, tegas.

Lagi-lagi, aku menyerah.

Dengan tekad yang tampak keras, kau lantas kembali mengambil selembar kertas yang baru dan memegang pensilmu. Kau lalu berkhayal-khayal lagi, seolah-olah kau masih begitu yakin kalau kau akan mendapatkan ilham desain yang apik.

Akhirnya, karena peduli, aku berupaya membantumu sekuat daya. Sekian lama berselang, aku pun mendapatkan ide beserta alasan sekenanya. Aku lalu mengusul, “Kupikir, gambar ekspresi-ekspresi wajah kartun yang dahulu kau unggah di laman Facebook-mu, bisa jadi latar desain sampulmu.”

Kau tampak menimbang-nimbang. “Kenapa kau berpikir begitu?”

“Dengan judul ‘Cerita Kita setelah Dua Puluh Tahun Perpisahan’, lalu dengan kisah yang berliku dan penuh emosi antardua tokoh, gambar kumpulan wajah kartunmu itu kukira pas untuk menyiratkannya. Ya, biarkanlah setiap orang menafsir soal keterkaitan maknanya. Itu lebih bagus,” tanggapku.

Perlahan-lahan, wajahmu tampak berseri. “Saranmu kedengarannya tepat di waktu yang mendesak ini.”

“Dan aku jamin, sang penulis novel itu akan sepakat,” timpalku.

Kau pun melayangkan senyuman kecil. Dengan sikap antusias, kau lalu memainkan lagu favoritmu, lagu Ariana Grande berjudul Almost Is Never Enough, lantas kembali mencoret-coret kertas di depanmu.

Seiring itu, aku kembali memerhatikanmu dengan penghayatan. Sudah 18 tahun kita hidup bersama, dan aku selalu merasa beruntung memiliki dirimu yang menyenangkan. Perihal kecantikan wajahmu atas pipimu yang tembam, matamu yang tajam, garis bibirmu yang tegas, dan hidungmu yang mungil. Pun, perihal sikap keperempuananmu yang menenteramkan kehidupanku.

Sejak kita berkontak di Facebook 20 tahun yang lalu, seketika aku merasa kau adalah sosok yang istimewa. Setelah aku menjelajahi perihal dirimu di media sosial dan jadi banyak tahu tentangmu, aku pun jatuh hati begitu dalam kepadamu. Aku yakin kau adalah perempuan yang kucita-citakan. Karena itu, aku tak ingin menyesal dengan melewatkan kesempatan untuk hidup bersamamu.

Tetapi tekadku untuk menyatukan kita, sempat goyah juga. Bagaimanapun, perkenalan dan keakraban kita terjadi di dunia maya, sehingga kita tidak benar-benar saling mengenal. Aku pun jadi meragukan penerimaanmu terhadapku. Apalagi, senyatanya, aku hanya lelaki dengan tampilan fisik yang pas-pasan, juga perekonomian yang lemah di tengah upayaku menjadi pengacara.

Namun cinta telah membuatku bertindak nekat. Setelah 2 tahun kita berkomunikasi lewat Facebook, aku pun meninggalkan kotaku di pulau seberang untuk menemuimu, lalu menikahimu. Aku melakukannya cepat-cepat, sebab aku tahu kalau kau sudah tak sabar menunggu penyatuanmu dengan seseorang lelaki sebagai pasangan hidup di usiamu yang lebih dari seperempat abad.

Namun untuk sampai pada titik itu, aku memilih menutupi dan merahasiakan tentang diriku yang kau kenal di dunia maya. Diam-diam, aku menetap saja di kotamu dan menyambung hidup dengan bekerja di sebuah kantor pengacara. Aku pun tinggal di sebuah kontrakan yang tak jauh dari rumahmu, demi melancarkan rencana untuk mendekatkan diriku kepadamu.

Hari demi hari, aku pun kerap hadir di dalam medan kehidupanmu. Aku sering membayangimu dengan menandangi warung seblak favoritmu, atau melintasi jalan di depan rumahmu. Hingga akhirnya, satu hari, aku memberanikan diri berkenalan denganmu. Setelahnya, kita pun makin akrab, sampai aku nekat meminangmu. Beruntung, kau dan keluargamu bersedia menerimaku.

Tentu banyak problem yang menghiasi kebersamaan kita sebagai suami-istri. Kelabilan emosimu, kerap mengubahmu menjadi sosok yang berbeda. Kita lalu bercekcok hanya karena persoalan sepele. Kau lantas akan membisu dan bersikap acuh tak acuh terhadapku, hingga aku merasa bersalah sendiri dan pasrah untuk meminta maaf.

Namun akhirnya, aku membaca penyebab kelabilan perasaanmu. Aku menaksir kalau ruang hatimu telah terbagi untuk sosok di masa lalumu. Kukira, kau masih berharap untuk bersanding dengan lelaki lain yang kau anggap lebih baik dariku, yaitu salah satu di antara ratusan pendambamu, sebagaimana penuturanmu di masa perkenalan kita via Facebook.

Lambat laun, aku pun mengerti perihal perselingkuhan perasaanmu itu, hingga aku sadar kalau aku memang bukanlah raja di relung hatimu. Aku memahami kalau kau ternyata masih terus mengidamkan sesosok lelaki yang dahulu telah menanamkan kesan-kesan membahagiakan di dalam kalbumu. Sesosok lelaki yang merupakan penulis fiksi idamanmu.

Sosok penulis cerpen itu, tampak jelas masih mengusai hati dan pikiranmu. Kehadirannya dalam ruang mayamu di masa lalu, seolah-olah telah meninggalkan kenangan yang menghalangi jalanku untuk menghiasi khayalmu. Kau seakan-akan menganggap sosok mayamu itu sebagai lelaki tak bercela, sedang aku yang nyata untukmu adalah lelaki berkekurangan.

Kau memang tampak telah tenggelam di dalam imajinasimu perihal kesempurnaan sosok penulis itu. Aku yakin kalau kau telah menamatkan banyak karya fiksinya yang melankolis. Kau lalu berkhayal-khayal kalau ia adalah sosok yang sesempurna tokoh utama dalam cerita romannya, hingga kau ingin pula menjadi perempuan yang spesial untuknya.

Keyakinanku perihal perasaanmu kepadanya, tidaklah mengada-ada. Aku tahu jelas soal komunikasi hangat kalian lewat aplikasi Messenger pada 2 dekade yang lalu. Entah obrolan perihal hobi, kesenangan, cita-cita, pandangan hidup, agama, ataupun asmara. Hingga akhirnya, hubungan kalian mengerat, dan kalian jadi terbiasa berbagi kata sayang dan emotikon cinta.

Tetapi akhirnya, kalian tak sepaham soal masa depan hubungan kalian. Kau memintanya cepat-cepat menikahimu, tetapi ia malah menganggap pernikahan bukanlah hal yang urgen. Kau lalu berpasrah dan memberinya kesempatan selama 2 tahun untuk menyatakan hubungan kalian. Kau mengaku tak sanggup menuruti kehendaknya yang tak beralasan bahwa ia baru akan mau menikah 20 tahun kemudian.

Karena ketidaksepahaman itu, komunikasi kalian akhirnya bermasalah. Kau kerap tak membalas pesannya dan tak menjawab panggilan telepon Messenger-nya. Kau bahkan sering bersikap emosional dan melayangkan ancaman untuk memblokir akun Facebook-nya. Kau seolah berharap kalau dengan begitu, ia akan berubah pikiran dan segera meminangmu. Tetapi ternyata, tidak.

Dan akhirnya, setelah obrolan yang putus-sambung di Messenger selama sekitar 3 bulan, ia pun mengambil keputusan sepihak untuk mengakhiri komunikasi kalian. Ia beralasan kalau kalian rentan kecewa berat kalau terus membangun kedekatan tanpa kesepahaman soal pernikahan. Ia ingin segera mengakhiri hubungan kalian untuk menghindari luka hati yang parah.

Belum lagi, menurutnya, waktu itu adalah saat yang tepat untuk berpisah. Paling tidak, meski hati kalian terpaut, tetapi kalian belum terjerat perkara fisik. Kalian hanya saling membaca wajah pada berkas foto lama atau foto berkabur di laman Facebook. Kalian tak pernah bertemu secara langsung, atau sekadar berkomunikasi melalui panggilan video. Sebab itu, kalian masih mungkin untuk saling melepaskan dengan mudah.

Tetapi anehnya, ia meminta kesepakatanmu untuk memutuskan hubungan tanpa status kalian dengan cara yang tak lazim. Ia meminta persetujuanmu untuk menuliskan sebuah cerpen tentang kalian sebagai tanda perpisahan, juga sekaligus membalas goresan pensilmu tentang dirinya. Ia beralasan, dengan begitu, kalian akan sama-sama ringan untuk saling merelakan, juga terlepas dari utang budi yang bisa membuat hati kalian tetap merasa bersinggungan.

Kau yang hanya bisa pasrah, bersepakat saja dengan usulan perpisahan darinya. Kau bahkan bilang kepadanya kalau kau sama sekali tak mengapa bila kalian putus hubungan. Kau mengaku biasa saja dan tak akan bermasalah. Sampai akhirnya, komunikasi kalian benar-benar terhenti setelah cerpennya perihal angannya tentang kalian di masa depan, terbit di sebuah media daring.

Setelah 2 tahun perpisahan kalian, aku pun masuk ke dalam kehidupanmu. Aku bermaksud menyelamatkan keadaan hatimu. Dan tampaknya, kehadiranku berhasil menghindarkanmu dari kedukaan yang mendalam dan berlarut. Aku lantas meminangmu, dan kau menerimaku, seolah-olah bagimu, aku memang pantas menggantikan sosok penulis idamanmu tersebut.

Tetapi sepanjang pernikahan kita, aku akhirnya menyadari kalau kehadiranku tak pernah benar-benar berhasil menggantikan sosok penulis itu di dalam lubuk hatimu. Aku bisa membaca bahwa kau masih merindukan dan mengharapkannya. Kau tampak terus mengkhayalkannya sebagai sosok yang sempurna bagimu, yang membuat nilai diriku berkurang di matamu.

Selama kebersamaan kita, aku tentu berusaha mendapatkan hatimu seutuhnya. Aku terus meninggikanmu dengan pujian, dan memanjakanmu dengan kejutan. Namun nyatanya, aku harus menerima kenyataan bahwa sepanjang langkah kita ke masa depan, separuh hatimu tetap tertinggal di masa lalu bersamanya. Kau mengatakan cinta kepadaku, sembari membayangkan dirinya.

Akhirnya, aku menyerah dan pasrah jika kau terus mengabadikannya di dalam memorimu. Aku menerima kemenduaan hatimu terhadap kami. Setidaknya, tubuh indahmu masih menjadi milikku, tanpa peduli soal kerelaanmu. Setidaknya, senyuman manismu masih menghiasi hidupku, tanpa peduli soal ketulusanmu.

Namun penerimaanku yang seadanya itu, ternyata masih terusik juga. Sisi fisikmu yang menjadi kepunyaanku, kadang kala tak dapat kunikmati akibat keserongan hatimu. Seperti pula kini, saat kau bersikap dingin kepadaku karena tingkah sosok penulis itu. Pasalnya, 2 hari yang lalu, kau mendapatkan pesan Messenger darinya. Pesan yang pasti tak kau duga-duga itu, berisi naskah novelnya beserta permintaannya agar kau membuatkan desain sampulnya secara mandiri.

Kuterka, perasaanmu kacau untuk menanggapinya. Ia jelas telah mengambil keputusan untuk berpisah darimu, tetapi sekonyong-konyong, ia kembali menghubungimu. Dan parahnya, ia tega memintamu mendesain sampul novel perdananya. Padahal, novel itu adalah perluasan cerita dari cerpennya yang merupakan pertanda perpisahan kalian 20 tahun silam, yang ia sambung dengan cerita sepihaknya bahwa kalian akhirnya menjadi sepasang suami-istri pada masa kini.

Karena kekalutanmu pula, kau kehilangan kejernihan pikiran kala mengonsepkan desain sampul untuk novelnya itu. Kau seolah kehilangan bakat senimu. Tetapi kau tetap berjibaku untuk merampungkannya. Kau seolah ingin menyuratkan kepadanya kalau kau sungguh baik-baik saja setelah kalian putus kontak selama 2 dekade. Kau berhasrat membuktikan kebahagiaanmu.

Sebagai suamimu, aku tentu tak mau seseorang mengacaukan perasaanmu. Apalagi jika tujuannya untuk merebut perhatianmu. Tetapi aku tetap berupaya berdamai dengan perkara masa lalumu dan belajar mengabaikan kecemburuanku. Asal kau bahagia, aku pun bahagia. Karena itulah, aku tak mempermasalahkan kala kau mendesain sampul novel milik sosok idamanmu itu, bahkan aku sedia membantumu.

Dan akhirnya, di tengah renunganku perihal kisah kita dan kalian, kau pun melenguh dan menarik perhatianku. Kau ternyata telah berhasil menyusun gambar-gambar kartun dengan beragam karakter. Kau merangkai ekspresi wajah-wajah itu sehalaman kertas, terkecuali pada bagian tengah yang kau tulisi dengan judul dan nama pena sosok penulis novel itu.

Kau lantas menolehiku dengan raut yang menyiratkan kelegaan. “Bagaimana menurutmu?”

“Sempurna!” tanggapku, bersemangat. “Aku yakin penulis novel itu akan menyepakatinya untuk diramu menjadi bentuk yang jadi.”

Seketika, kau tersenyum lepas. Kau lantas memfoto karyamu itu dengan ponsel, kemudian mengirimkannya kepada sang sosok penulis via Messenger.

“Sudah?” tanyaku.

Kau mengangguk tegas dengan mimik ceria.

“Kalau begitu, ayo kita makan, sebelum asam lambung membuatmu tuli dan kehilangan kewarasan,” ajakku, setengah bercanda.

Kau sontak cemberut manja dan menepuk pundakku.

Tanpa menunda lagi, aku lalu menggandeng tanganmu menuju ke meja makan. Kau pun turut saja sembari melantunkan senandung religi dengan suara merdumu, seolah-olah kau sangat bersyukur telah berhasil menyelesaikan rancangan desainmu.

Sampai akhirnya, kita makan bersama. Kau tampak lahap menyantap seblak kesukaanmu, hingga kau menandaskannya dengan cepat.

Waktu kemudian bergulir.

Kini, kita telah menggosok gigi, mencuci muka, dan mengenakan pakaian tidur. Kita lantas berbaring bersampingan di atas kasur dengan seprai berwarna cokelat tua dan bermotif persegi-putih. Kau lalu menumpukan kepalamu pada bantal boneka burung hantu kesayanganmu, di bawah naungan tanganku yang terus mengusap-usap kepalamu.

“Aku mau bertanya, tetapi kau jangan berpikiran macam-macam terhadapku. Boleh?” tanyamu, segan.

“Tentu saja,” jawabku.

“Apakah selama ini kau benar-benar mencintaiku dengan segala yang belum engkau ketahui tentangku?” selidikmu.

Lekas saja aku mengangguk. “Ya, pasti. Aku mencintaimu sepenuh hatiku. Percayalah!” Aku lantas berganti keisengan dengan mengelus-elus pipimu. “Kau terhadapku, begitu juga, kan?”

Sontak, kau terlihat gamang. Kau lantas mengangguk kecil dan tersenyum kaku. “Ya,” balasmu, begitu saja.

Diam-diam, aku bisa membaca gejolak hatimu yang masih menggantung dan berayun di antara aku dan sosok penulis idamanmu itu. Tetapi aku tak mau menyidik dan menyudutkanmu. Aku memang tak sepatutnya menyalahkanmu atas apa yang terjadi di masa lalu.

Hening beberapa saat, hingga kau menuturkan harapanmu, “Mudah-mudahan saja penulis novel itu benar-benar menyetujui rancangan desain yang tadi kukirimkan kepadanya.”

“Aku yakin ia akan setuju,” tanggapku, membesarkan harapanmu. “Kalau tebakanku salah, ya, berarti tebakanku tidak benar.”

Kau pun tergelak mendengar candaan recehku, lantas menghembuskan napas yang panjang.

“Sudah lewat tengah malam. Waktunya kita tidur,” kataku.

“Ya. Tetapi tolong kau matikan lampu. Itu tugasmu, karena tadi, aku yang menyalakannya,” pintamu, manja.

Dengan senang hati, aku pun bangkit untuk menunaikan permohonanmu, kemudian kembali merebahkan tubuhku di sampingmu.

“I love you,” kataku, berbisik.

I love you too,” balasmu.

Serta-merta, aku merasa kebahagiaan yang tiada taranya.

Sesaat kemudian, di tengah kegelapan dan kehangatan kita, aku lantas menetapkan rencana untuk mengirimkan pesan kepadamu esok pagi. Sebuah pesan yang akan kau dapatkan sebagai balasan dari akun Messenger lamaku. Sebuah pesan bahwa aku menyetujui rancangan sampulmu untuk novel perdanaku. Sebuah pesan dari aku yang dahulu merasa rendah diri untuk muncul dari balik tabir dunia maya pertautan kita, kemudian hadir sebagai sosok lain di dalam kehidupan nyatamu. Dari aku, yang tiada lain adalah sosok penulis idamanmu itu.(**)


Ramli Lahaping. Kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Menulis di blog pribadi (sarubanglahaping.blogspot.com). Bisa dihubungi melalui Instagram (@ramlilahaping).

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.