Inderalaya, Sumselupdate.com – Desa Burai, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan, selama ini dikenal dengan destinasi wisata kampung warna-warni.
Jika kita berkunjung ke desa yang terletak 53,2 kilometer dari Kota Palembang dengan jarak tempuh satu setengah jam, dari kejauhan akan terlihat rumah warga dicat dengan warna warni.
Selain kampung warna-warni, Desa Burai juga sangat dikenal sebagai tempat banyak menyimpan sejarah yang belum terungkap.
Di Desa Burai yang memiliki luas wilayah 2.666,09 kilometer persegi itu, banyak menyimpan peninggalan sejarah dan makam-makam tua masa zaman kerajaan Sriwijaya.
Dikenal dengan kampung warna warni dan peninggalan sejarah dan makam-makam tua, ternyata Desa Burai memiliki ‘mutiara’ yang tak kalah menarik dan menjadi andalan perekonomian warga desa tersebut.
Mutiara tersebut adalah kerajinan tenun songket. Hampir 97 persen warga Desa Burai yang berjumlah 420 kepala keluarga dengan 1.716 jiwa menekuni profesi sebagai penenun songket.
Khodijah (56), satu dari puluhan penenun songket di Desa Burai yang hingga kini masih setia menekuni profesi ini. Ibu empat anak ini mengaku mulai belajar menenun songket tahun 1979.
Keinginannya untuk belajar menenun songket bersama kakak perempuannya karena ingin membantu perekonomian keluarga.
Khodijah mengaku, kebanyakan kaum laki-laki di Desa Burai berprofesi nelayan dan tukang kayu. Sementara mendiang suaminya Irawadi berprofesi sopir bus kota di Palembang.
Dengan keterbatasan ekonomi itu, Khodijah dan puluhan ibu rumah tangga di Desa Burai hingga kini konsisten menekuni profesi menenun songket.
Khodijah sendiri saat ini menjadi satu-satunya pembuat motif tenun songket di Desa Burai. Peningkatkan dari menjadi penenun dan kini menjadi pembuat pola songket atau dikenal pencukitan, dilatari meninggal dunianya suami tercintanya pada tahun 2001.
Otomatis selepas suaminya meninggal dunia, Khodijah menjadi tulang punggung keluarga dalam menghidupi keempat anaknya.
Tepatnya tahun 2003, Khodijah dengan keterbatasan yang ada, nekat belajar membuat motif songket di kawasan Jalan Ki Gede Ing Suro, Tangga Buntung, Palembang yang dikenal masyarakat luas di Indonesia, sentranya kerajinan songket.
“Saya belajar membuat motif songket selama satu bulan di Tangga Buntung. Dan hingga kini, saya menjadi satu-satunya pembuat motif songket di Desa Burai,” kata Khodijah.
Menurut Khodijah, membuat motif songket sangat sulit. Dibutuhkan kesabaran dan ketelitian. Tak heran, saat ini tidak banyak orang bisa menekuni profesi ini.
Dulu menurut Khodijah, saat pertama kali bisa membuat motif songket, dia bisa menyelesaikan empat sampai lima stel motif pakaian songket dalam satu bulan.
Pesanan motif songket yang diterimanya kebanyakan dari para tetangganya. Di mana satu motif songket dipatok sebesar Rp450 ribu hingga Rp500 ribu.
Adapun motif-motif songket yang biasa dibuatnya, yakni Kembang Cino, Cino Kandang, Rakam, dan motif Lepus. Empat motif songket ini dikembangkannya hingga menjadi ratusan motif. Karena motif songket ini disesuaikan dengan keinginan pembeli.
“Kalau menenun songket itu kalau kita kerjakan malam hari akan mengganggu tetangga karna suara alatnya berisik. Beda dengan membuat motif, bisa dikerjakan hingga malam hari dan tidak mengganggu orang tidur,” ujarnya.
Namun seiring usianya yang tak muda lagi, saat ini dalam satu bulan hanya bisa menyelesaikan dua sampai tiga motif songket. Hal ini lantaran kondisi tubuh tidak sekuat dulu dan ditambah matanya sudah mulai rabun.
Kini, berkat menekuni profesi menenun dan membuat motif songket, remaja-remaja Desa Burai sudah ada peningkatan kualitas pendidikan.
Seperti anak ketiga dari Khodijah bernama Azom Azory yang hampir menyelesaikan studinya di Jurusan Teknik Mesin Universitas Sriwijaya. Azom Azory bisa kuliah di perguruan tinggi negeri, selain berkat bisnis tenun songket, juga dibantu beasiswa Bidik Misi.
Sementara anak pertama Khodijah yakni Redi tinggal di Kabupaten Ogan Ilir, Ican tinggal di Lampung, dan anak bungsunya Izatil Alya saat ini honorer di Dinas Sosial Kabupaten Ogan Ilir.
Penenun Kekurangan Modal
Khodijah dan penenun songket lainnya seperti Widarti, Lindawati, Farhana, Mizati Lalia, dan puluhan ibu di Desa Burai, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan, mengaku sulit mengembangkan lebih besar usaha yang mereka tekuni puluhan tahun ini.
Tak heran, usaha menenun songket ini di Desa Burai hanya sebatas usaha rumahan. Hal ini berbeda dengan usaha songket di kawasan Jalan Ki Gede Ing Suro, Tangga Buntung, Palembang yang sudah dikenal di kancah nasional dan internasional.
Khodijah mengaku, perbedaan mencolok antara penenun songket di Desa Burai dan penenun songket di Tangga Buntung, terletak di modal usaha dan harga jual.
Jika di Tangga Buntung, masyarakatnya banyak menjadi pegawai dari pengusaha songket. Nah, di Desa Burai masing-masing keluarga, selain menjadi penenun songket sekaligus pemodal dari usahanya sendiri.
Sementara dari harga jual, songket dari kawasan Tangga Buntung cukup tinggi karena benang songket terbuat dari sutera. Sedangkan harga jual hasil tenun songket dari Desa Burai berkisar Rp1 juta-Rp1,5 juta per stel lantaran benangnya super.
Meski harga terpaut cukup jauh, akan tetapi dari segi kualitas hasil tenun songket dari Desa Burai tak kalah jika dibandingkan dengan hasil tenun songket dari kawasan Tangga Buntung.
“Songket hasil tenun di Desa Burai ini kualitasnya tak jauh beda dengan di Tangga Buntung. Namun karena keterbatasan modal, jadi kami hanya bisa membeli benang-benang songket kualitas super. Beda dengan di sentra kerajinan songket di Tangga Buntung yang benang-benangnya terbuat dari sutera,” kata Khodijah yang saat itu didampingi penenun songket lainnya.
Selain terkendala modal, penenun songket dari Desa Burai kesulitan untuk memasarkan hasil karyanya. Promosi yang hanya mengandalkan dari mulut ke mulut, membuat hasil tenunan masyarakat Desa Burai hanya menunggu pesanan dari luar desa.
Bantuan PKM Polsri
Berangkat dari persoalan tersebut, salah satu kelompok tenun songket binaan Politeknik Negeri Sriwijaya (Polsri) adalah kelompok Tenun Songket Melati yang mendapatkan bantuan tersebut.
Melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Polsri, tim pelaksana kegiatan yang diketuai oleh Mariskha, Z, SE, MM dari Jurusan Administrasi Bisnis dan Dr Rita Martini, SE, MSi, Ak,CA dari Jurusan Akuntansi, tergugah untuk membantu mengatasi persoalan tersebut.
Tim pelaksana kegiatan PKM membantu dari sisi keuangan seperti permodalan, pemasaran, dan bidang Teknologi Informasi (IT).
Pemodalan dalam bentuk menyediakan bahan baku, menetapkan harga jual, membantu laporan.
Sementara dari pemasaran dibantu dari sisi kemasan dan pemasaran di media sosial. Sedangkan bidang IT, tim pelaksana kegiatan PKM Polsri menyediakan website bisnis, di mana para pembeli bisa langsung berkomunikasi dengan para penenun di Desa Burai. (edo)











