PALI, Sumselupdate.com – Petani karet di Kabupaten PALI mengeluhkan anjloknya harga karet. Bahkan petani menuntut janji kampanye Presiden Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 lalu.
Dalam kampanye Pilpres 2014 lalu, pasangan Jokowi-JK, menyampaikan pesan kepada warga melalui alat peraga kampanye spanduk bertulis sebagai berikut. ‘Mau rege (harga) getah naik pilih nomor 2 Jokowi-JK Solusinya 2014’
Dalam spanduk berukuran panjang sekitar 1 x 4 meter tersebut, di pasang pada waktu Pilpres 2014 lalu, tepat di gubuk getah jual beli karet di Desa Air Itam, Kecamatan Penukal, PALI.
Di spanduk tersebut, terdapat foto pasangan Pilpres 2014 lalu, Jokowi-JK dan pojok kanan terdapat foto, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDIP Sumsel, Giri Ramanda dan anggota DPRD PALI Asri Ag.
Kini petani karet di Bumi Serepat Serasan, menagih janji presiden Jokowi, seperti halnya disampaikan oleh Kandar, menurutnya ia memilih Jokowi-JK pada Pilpres 2014 karena terpengaruh spanduk kampanye, dengan menulis menjanjikan harga getah naik.
“Aku baca tulisan di spanduk, pas jual getah, dalam spanduk itu tertulis ‘Mau rege (harga) getah naik pilih nomor 2 Jokowi-JK Solusinya 2014’, jadi waktu Pilpres 2014 aku pilih Jokiwi -JK,” keluh Kandar, warga Penukal, Jumat (14/7/2017).
Kandar berharap kepada Presiden RI, Jokowi, agar mendengar aspirasi rakyat bawa yang di ada pelosok desa, khususnya petani karet. Untuk menunaikan janjinya agar menaikkan harga karet.
“Sekarang harga karet basah cuma Rp 4 ribu, perkilogram, dulu harga karet basah bisa tembus di angka Rp 10 ribu per kilogram,” harapan Kandar, yang mewakili petani karet lainnya.
Dikatakan Kandar, suara Jokowi- JK mengungguli rival Prabowo-Hatta di Pilpres 2014 lalu, khususnya di desa yang lebih dominan mata pencarian petani karet.
Masih anjlok harga karet, petani karet merasa tertipu dengan janji kampanye yang disampaikan melalui alat peraga kampanye yang dipasang oleh tim sukses Jokowi -JK. “Katanya pilih Jokowi-JK harga karet naik, tapi kenyataan harga getah masih anjlok dan kami merasa tertipu dengan kampanye itu,” jelas Kandar. (adj)











