Ketua DPD RI Sampaikan 2 Fokus Utama Jawab Tantangan Bonus Demografi

Ketua DPD RI LaNyalla Mattaliti

Jakarta, sumselupdate.com – Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, mengatakan ada dua fokus yang harus disiapkan menjawab tantangan bonus demografi menuju Indonesia Emas tahun 2045.

Tantangan pertama penyiapan sumber daya manusia yang mampu berintegrasi dengan Era Industri 4.0.

Bacaan Lainnya

Dijelaskan, perlu revitalisasi di sektor pendidikan serta memperkuat Pendidikan Vokasi untuk mendukung hal ini.

“Pendidikan vokasi bertujuan menciptakan sumber daya manusia dinamis, terampil, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta berdaya saing global,” ujar LaNyalla di Malang, Kamis (15/4).

Menurut LaNyalla, Pendidikan Vokasi perlu mengembangkan kurikulum. Ke depan, Pendidikan Vokasi tidak hanya menyiapkan tenaga siap kerja, namun juga mampu berpikir kreatif dengan melihat peluang bisnis yang ada.

Sedangkan fokus kedua, kata LaNyalla, melahirkan entrepreneur yang siap melakukan optimalisasi keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimiliki Indonesia.

“Indonesia harus mulai fokus kepada sektor komoditi yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif yang tidak dimiliki negara lain. Misalnya, sektor pangan, yang meliputi pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan dan kelautan,” katanya.

Di samping itu, dia menyebut jika sektor alam yang bisa dioptimalkan untuk destinasi pariwisata. Termasuk keunggulan kehutanan dan keanekaragaman hayati, baik flora maupun fauna, juga rempah dan tanaman obat-obatan.

“Ini semua harus dijadikan target utama posisi tawar, sekaligus keunggulan Indonesia dalam menjawab bonus demografi. Sehingga mengubah tantangan menjadi peluang,” jelasnya.

Ditegaskan, Ketahanan Pangan adalah ketahanan masa depan. Perang antar negara di masa depan, bisa saja dipicu persoalan kebutuhan pangan.

“Maka, mindset atau pola pikir yang keliru tentang petani harus kita ubah dari sekarang. Terutama anggapan petani seorang pekerja sektor informal dengan strata sosial di bawah,” tuturnya.

Dikatakan, kesalahan inilah yang menjadi alasan sedikitnya jumlah petani muda Indonesia.

“Petani adalah entrepreneur. Mindset ini perlu ditanamkan dari sekarang. Bahwa petani adalah entrepreneur,” papar Senator dari Jatim tersebut. (duk)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.