Teosofi, Sudut Pandang Ronggo Warsito, Syech Siti Jenar dan RM Sosro Kartono Tentang Tuhan

Kamis, 4 April 2024

Penulis : Agus Widjajanto

Pemerhati Budaya, Sosial Politik dan Sejarah bangsa

TEOSOFI adalah paham yang dianut kepercayaan Jawa dalam konsep spiritual. Teosofi berarti Tuhan dan Sofia berarti cinta. Jika diterjemahkan secara terminologi Teosofi adalah ilmu Ketuhanan untuk mencapai kesempurnaan yang cinta kebijaksanaan bahwa Teosofi Jawa lebih mengedepankan pencarian kesempurnaan hidup yang didasarkan pada paham Monistik dan panteistik.

Monistik sendiri adalah pandangan bahwa Tuhan yang Esa itu berada, memancarkan dalam diri manusia dan beserta seluruh alam semesta (Sunatullah).

Sedangkan Panteistik adalah alam semesta jagad Raya ini menyatu dengan Tuhan. Antara Monistik dan Panteistik selalu berjalan seiring dalam konsep spiritual Jawa. Yang keduanya diyakini selalu ada tidak dapat dipisahkan alias manunggal.
Berpijak dari pemikiran Keeler ( Stange 1998: 253-254) Teosofi itu bercirikan pada rasa, Teosofi dalam spiritual Jawa adalah paham yang memanfaatkan rasa (olah batin )dalam proses pencarian Tuhan.

Dimana kedepan Teosofi Jawa menjadi sebuah paham yang memanfaatkan rasa dan laku, dimana ketika orang Jawa berpikir tentang semesta, mengguakan konsep simbol, di antanya dengan konsep wayang bersifat simbolik.

Hal itu akar dari Teosofi Jawa, bahkan kalau mau jujur hidup keagamaan spiritual Jawa juga tergambar dalam kisah pewayangan. Dalam kisah pewayangan ada penguasa tertinggi yaitu Dewa yang bisa menjelma pada diri manusia setelah melalui laku tirakat yang bisa merembes sebagai suprahuman kepada diri manusia.

Itu sebab dapat dikatakan Teosofi pandangan yang selalu memuja Tuhan berada dalam diri manusia yang keberadaan nya lebih dekat dari urat nadi kita sendiri.

Dimana Dzat Tuhan sebagai Dzat tunggal diindentifikasi sebagai kekuatan Imanen dan Transenden. Dalam hidup manusia teremanasi dari Dzat yang sempurna menguasai seluruh alam semesta oleh keyakinan spiritual Jawa Dzat itu dalam keadaan kosong (suwung) yang tidak dapat ditangkap adalah ide sinkretis dari Hindu dan Bhudis me bahwa dzat Tuhan itu halus merasuk dalam diri manusia bagi keyakinan Jawa. Secara terus menerus akan selalu berupaya menemukan kesejatian Dzat jati itu sendiri.

Dalam paham mistik kejawen berawal dari emanasi kekuatan sentral mahluk secara fisik dari unsur kosmik membentuk alam Makrocosmos dan mikrokosmos.
(Prof Suwardi Endraswara, agama Jawa ajaran, amalan dan asal usul kejawen)
Raden Ngabehi Ronggo Warsito sebagai pujangga penutup paling ternama dalam kesusastraan Jawa.

Beberapa tulisanya menjelaskan tentang persoalan keberadaan Allah sebagai Tuhan penguasa semesta. Beliau menyatakan Allah merupakan Dzat yang maha suci yang Qadim Azali abadi.

Sebelum Allah menciptakan sesuatu dia tegak sendiri di alam yang masih kosong dan ketika telah menciptakan mahluk maka mahluk tersebut merupakan tajalli nya Dzat Yang Maha Suci oleh Ronggo Warsito. Karena kekuasaan dan keberadaan Tuhan berdiri sendiri , sebagai Dzat yang Suci maka diibaratkan Tuhan sebagai hal nya huruf ” Alif ” yang disifati dengan wujud , dimana keberadaan nya ada dari Dzat itu sendiri tanpa menciptakan dimana keberadaan nya merupakan suatu yang wajib dan mustahil jikalau tidak ada.”

Sesungguhnya tidak ada apa apa segala sesuatu yang tersebut tadi bukan merupakan Tajjali Dzat Tuhan. Artinya bukan manifestasi Tuhan yang maha suci dimana yang Maha suci Maha mulia, Maha kuasa hanyalah aku (Tuhan) sebelum ada barang sesuatupun di alam raya yang ada hanyalah Dzat Yang Mahasuci yang bersifat Esa. Dinamakan Dzat yang mutlak yang kadim Azali abadi” ….kata Ronggo Warsito .
Menurut Ronggo Warsito terdapat keterkaitan yang sangat erat antara Dzat, Sifat, dan Af’ Al ( perbuatan ) / Prof Simuh 1988: 285 ) dalam disertasi Prof Simuh memberikan penjelasan mengenai gagasan Ronggowarsito dengan mengatakan bahwa hubungan antara Dzat dan sifat ditamsilkan laksana hubungan antara madu dan rasa manisnya, dimana ada madu pasti ada rasa manisnya yang tidak bisa dipisahkan. Demikian juga sifat dan asma Tuhan laksana hubungan matahari pasti ada sinar mentari nya, sedangan antara asma dan Af’ Al ( perbuatan ). Ditamsilkan seperti hubungan benda dimuka cermin dengan bayang bayang yang terlihat dicermin, gagasan Ronggo Warsito soal Dzat, Sifat, Asma dan Af’ Al agak mirip dengan gagasan Syech Abdul Karim Al- Jilli yang tertuang dalam buku insan Kamil.

Sedang pandangan Syeh Abdul Jalil atau Syech Siti Jenar, mengajarkan sasagidan serta ilmu ma’ Rifat dan hakekat dalam bentuk sufisme wilujudiyah atau wahdatul wujud. Dimana Tuhan wujud yang tidak kasat mata dapat bersatu dengan dirinya pribadi yang merubah bahasa wahdatul wujud, menjadi Manunggaling Kawulo lan Gusti yang dikenal dikalangan masyarakat Jawa, ajaran atau kepercayaan dalam kejawen yang bermakna menyatunya mahluk , orang ( Kawulo ) dengan Raja dalam menghadapi sang Pencipta yang gagasan spiritual nya adalah manusia dan alam semesta berada dalam kesatuan illahi.
Bahwa wahdatul wujud adalah suatu ajaran yang membicarakan tentang wujud Atau keberadaan Tuhan yang dikaitkan dengan alam sebagai ciptaannya. Ajaran ini awalnya dibawa Ibnu Arabi dan kemudian dikembangkan Hamzah Fansuri yang menuai pro dan kontra hingga saat ini. Dan di Jawa dikonsep ulang oleh syech Abdul Jalil atau Syech Siti Jenar syech lemah Abang di Jepara di desa Keling kab Jepara saat ini.

RM Sosro Kartono seorang ahli kebatinan Jawa yang mengajarkan falsafah Jawa hingga kini menjadi pedoman dalam pengajaran Budi pekerti terhadap anak anak orang tua, yang isi nya adalah : Sugih Tanpo Bondo (kekayaan yang utama itu kaya hati, bukan mesti harta benda, itu lebih bisa bermanfaat kata beliau), Digdoyo Tanpo aji (tak terkalahkan tanpa kesaktian) Ngluruk Tanpo Bolo (menyerbu musuh tanpa pasukan / prajurit) menang Tanpo ngasorake (menang tanpa merendahkan lawan yang dikalahkan).

Selama hidup di bandung RM Sosro Kartono dihabiskan sisa umur nya untuk mengajar pada yayasan taman siswa dan melakukan pengobatan kepada masyarakat melalui kekuatan batin yang selalu menggunakan media kertas bertuliskan huruf “Alif ” yang arti dan maknanya oleh Sosro Kartono, Dzat yang Suci yang berdiri sendiri segala sesuatu tergantung padanya sebagai penguasa alam semesta yabg keberadaan nya sangat dekat dengan diri kita lebih dekat dari urat nadi kita yang menyatu pada diri insan Kamil yang intinya orientasi pandangan spiritualnya juga menganut paham Spiritual Jawa, Manunggaling Kawulo lan Gusti dalam pencapaian Secara Ma’krifatullah , dalam keadaan Kasaf dimana diri kita hanya sarana. Mahluk yang tiada daya apapun.

Pendapat penulis dalam konsep Spiritualisme Jawa yang berkaitan dengan Teosofi dimana Dzat adalah Yang Maha Suci dan maha agung, sifat yaitu mempunyai sifat sifat Allah sesuai Asmaul Al Husna yang berjumlah 99 , diantara nya adalah ar Rahman, Ar Rahim, Al Malik, Al Quddus, As Salam Al Mu’min dan seterusnya.

Sedang wujud adalah Sesuai Sunatullah, bahwa keberadaan Tuhan adalah bersemayam dalam nukat Ghaib yang tidak sama dengan alam kosong dan menyinari seluruh mahluk yang ada alam raya dan muka bumi, pantulan cahaya Illahi itulah sesungguh nya dalam olah Rasa bagaikan menyatunya antara Kawulo lan gustinya padahal sejatinya adalah dua hal yang berbeda tapi menyatu dalam insan Kamil yang keduanya tidak bisa dipisahkan ( Roro Ning tunggal ) tetap dalam kondisi Transenden bukan Imanen.

Sedang makrifat adalah suatu kondisi dimana dalam spiritual Jawa , manusia sudah mencapai tingkatan mengenal diri nya sekenal kenalnya hingga bisa memahami dan mengerti siapa dan apa serta dimana Tuhan yang Esa , tersebut , yang hidayah nya diberikan kepada Mahluk yang dicintainya , dan ingin menyatu dengan nya. Secara Transenden melalui Roro Ning tunggal secara harfiah
Itulah konsep , Dzat, Sifat , Wujud, Makrifat. (**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts