Taufiq Ismail: Pengajaran Sastra Indonesia Telantar

Kamis, 19 Mei 2016
Budayawan, Taufiq Ismail

Bandarlampung, sumselupdate.com – Pengajaran sastra, mengarang, dan berbicara dalam studi bahasa dan sastra Indonesia di SMA, kata budayawan Taufiq Ismail, terlantar 66 tahun selama masa kemerdekaan. Kondisi ini menuntut adanya paradigma baru dalam pengajaran sastra di sekolah.

Menurut Taufiq, dalam Seminar Penguatan Karakter Bangsa melalui Gamitan Pembelajaran Bahasa dan Sastra, di Bandarlampung, Kamis (19/5), pada masa penjajahan dulu, siswa AMS Hindia Belanda-A di Yogyakarta (1939-1942) diwajibkan membaca 25 judul buku sastra. Sementara siswa AMS Hindia Belanda-B di Malang (1929-1932)diwajibkan membaca 15 buku sastra.

“Jumlah ini setara dengan jumlah buku sastra yang harus dibaca siswa SMA di negara-negara maju seperti Jerman, Prancis, Belanda, Jepang, Swiss, dan Amerika Serikat. Artinya, justu di zaman penjajahan kita bisa bersaing dengan negara maju itu dalam soal literasi sastra,” ujarnya.

Taufiq pun membandingkan keadaan sangat terbalik dengan kondisi saat ini. “Sangat parah, parah sekali karena saat ini siswa SMA Indonesia di mana pun nol buku sastra,” katanya.

Begitu pula dalam menulis karangan, lanjut Taufiq, pelajar AMS Hindia Belanda wajib menulis satu karangan per minggu, 18 karangan per semester, 36 karangan per tahun, dan 108 karangan per 3 tahun.

Sekarang, menurutnya, siswa SMA hanya menulis 3-15 karangan per tahun. “Banyak sekali tugas mengarang cuma satu kali setahun seperti Salat Idulfitri. Itu judulnya sama dari Sabang sampai Merauke: Berlibur ke rumah nenek,” cetusnya.

Menyinggung pembelajaran sastra, menurut sastrawan Angkatan 66 ini, cara pandang baru pengajaran sastra di sekolah harus membuat siswa memasuki sastra secara asyik, nikmat, dan gembira.

“Siswa membaca langsung karya sastra, seperti puisi, cerita pendek, novel, drama, dan esai. Bukan melalui ringkasannya,” sarannya.

Karena itu, ujar dia, buku-buku yang disebut dalam kurikulum mesti tersedia di perpustakaan sekolah. Setiap buku wajib harus tersedia sebanyak 50 eksemplar.

Selain itu, lanjutnya, kelas mengarang harus diselenggarakan secara menyenangkan. Kemudian, ketika membicarakan karya sastra, aneka ragam tafsir harus dihargai. Terkait pengetahuan tentang sastra baik teori, definisi, ataupun sejarah, sebutnya, itu tidak utama.

Paling penting, menurut Taufiq, pengajaran sastra mestilah mendidik karakter pelajar, membangun perilaku siswa, serta menyemai nilai-nilai luhur dan sifat akhlak mulia pada siswa. (shn)

Sumber : Antara

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts