Palembang, Sumselupdate.com – Dokter spesialis yang menangani tenaga kerja khususnya untuk bidang keselamatan dan kesehatan pekerja hingga kini dinilai masih belum bisa memenuhi kebutuhan. Demikian diakui Ketua Umum Perhimpunan Dokter Okupasi Indonesia (Perdoki), Dr Nusye E Zamsiar, MS, SpOK.
Menurut Dr Nusye E Zamsiar, MS, SpOK, minimnya dokter spesialis tersebut dikarenakan terbatasnya tempat pengajar, saat ini cuma ada satu perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki program studi okupasi
“Hingga saat ini cuma ada satu perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki program studi okupasi, yakni Universitas Indonesia,” ucapnya usai bertemu Gubernur Sumsel di Griya Agung, Senin (3/10/2016).
Lebih lanjut ia menyampaikan untuk di Indonesia, jumlah dokter spesialis okupasi hanya berkisar 200 orang dan itu masih belum mencukupi kebutuhan secara umum.
“Mengantisipasi kekurangan ini kita akan buka prodi khusus okupasi di salah satu perguruan tinggi di Makasar,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Perdoki Sumsel, Dr Anita Masidin menuturkan, untuk wilayah Sumsel jumlah dokter spesialis okupasi masih kurang dan masih dalam hitungan jari.
“Untuk Sumsel baru ada tiga orang, dua orang di Palembang, satunya lagi di Muara Enim, Nah di Sumsel memang belum ada, minimal harus ada lulusan strata tiga (S3), tapi sekarang hanya ada lulusan S2. Jadi masih sangat lama untuk membuka prodi ini di Sumsel,” tutupnya. (adi)











