Siswa di Tanjung Keling dan Tanjung Taring Pagaralam Bertaruh Nyawa Demi Mendapatkan Sinyal Provider

Pondok daring yang berada satu kilometer dari Dusun Tanjung Keling dan Tanjung Taring, Kelurahan Burung Dinang, Kecamatan Dempo Utara, Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan, Selasa (18/5/2021).

Laporan: Novrico Saputra

Pagaralam, Sumselupdate.com – Sejumlah siswa di Dusun Tanjung Keling dan Tanjung Taring, Kelurahan Burung Dinang, Kecamatan Dempo Utara, Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan, terpaksa kembali belajar di pondok daring hasil swadaya masyarakat guna mengikuti pelajaran online.

Read More

Mereka terpaksa mengambil risiko dan bertaruh nyawa demi mendapatkan sinyal internet yang stabil.

Para siswa tersebut berasal dari SMP dan SMA bahkan mahasiswa yang berasal dari Dusun Tanjung Keling dan Tanjung Taring, Kelurahan Burung Dinang, Kecamatan Dempo Utara, Pagaralam, harus menempuh perjalanan satu kilometer menuju pondok daring.

Para penerus bangsa ini tetap semangat menembus terjalnya jalan yang berliku. Nyawa para pelajar ini pun terancam hilang, sebab jalan menuju pondok daring dipenuhi hewan liar.

Meski berisiko tinggi, para pelajar dan mahasiswa dari dua dusun yang terletak 20 kilometer dari ibukota Pagaralam dan menjadi salah satu desa terjauh di kota yang terkenal dengan obyek wisata kebun teh Gunung Dempo itu, tetap semangat untuk mengikuti kelas online.

Pondok daring sendiri diketahui merupakan satu–satunya lokasi atau spot yang memungkinkan para siswa untuk mendapatkan jaringan internet untuk ponsel mereka. Kegiatan ini sudah menjadi rutinitas mereka selama masa pandemi Covid-19.

Siswa SMP, SMA, dan bahkan mahasiswa belajar online di pondok daring yang berada satu kilometer dari Dusun Tanjung Keling dan Tanjung Taring, Kelurahan Burung Dinang, Kecamatan Dempo Utara, Kota Pagaralam, Sumsel, Selasa (18/5/2021).

Di bawah pondok yang dulu dibangun oleh hasil swadaya masyarakat dan beralaskan papan mereka tetap serius mengerjakan tugas–tugas yang diberikan oleh guru mereka.

Selain tempat yang sangat terbatas, mereka juga harus belajar bersama, dikarenakan sejumlah siswa tidak memiliki ponsel atau perangkat pintar untuk mengikuti pelajaran.

Ketua RT 07, RW 02, Endang mengatakan, siswa-siswi sekolah sudah lama belajar di pondok daring semenjak sekolah mereka ditutup akibat wabah virus Corona.

Mereka terpaksa belajar bersama di lokasi tersebut lantaran beberapa siswa tidak memiliki ponsel pintar untuk mengikuti pelajaran.

“Sebagian besar anak-anak ke sini untuk mengerjakan tugas secara kelompok yang telah diberikan oleh guru,” kata Endang, Selasa, (18/5/2021).

“Di lokasi tersebut, anak-anak sudah terbiasa dan tidak takut meski mengerjakan tugas di tepi dusun. Mereka memilih lokasi itu karena titik tersebut terdapat jaringan seluler yang sulit ditemukan di tempat lain. Anak-anak juga sewaktu-waktu belajar mengajar melalui media daring bagi yang memiliki HP android,” tambahnya.

Endang berharap agar wabah Covid-19 ini segera hilang supaya anak-anak kembali melakukan aktivitas belajar mengajar di sekolah.

“Tahun kemarin sudah ada upaya dari pihak provider membangun tiang sinyal, namun beberapa minggu terakhir sinyal kembali hilang yang belum diketahui penyebabnya. Tentunya kita sama-sama berharap agar kondisi ini kembali normal dan anak-anak bisa belajar seperti biasa,” harapnya. (**)

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.