Sidang Masjid Sriwijaya, Syarifudin: Kata Marwah M Diah Atur Rp50 M Biar Kebagian Semua

Sidang dugaan korupsi pembangunan Masjid Sriwijaya, JPU menghadirkan tiga orang saksi pada kehadapan Majelis Hakim yang diketuai Hakim Abdul Azis SH MH, di PN Tipikor Palembang, kamis (14/10/2021)

Palembang, Sumselupdate.com – Pada sidang dugaan korupsi pembangunan Masjid Sriwijaya, JPU menghadirkan tiga orang saksi kehadapan Majelis Hakim yang diketuai Hakim Abdul Azis SH MH, di PN Tipikor Palembang, kamis (14/10/2021)

Pada sidang ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Sumsel, Roy Riady SH MH, menanyakan kepada saksi Syarifudin terkait pengajuan penawaran PT Brantas Abipraya.

Read More

“Yudi Arminto mengajukan penawaran PT Brantas Abipraya, akhir Juli 2015 penetapan lelang Rp668 miliar nilainya. 5 Agustus 2015 kontrak ditandatangani,” ujar Syarifudin saat menjadi saksi Mukti dan Ahmad Nasuhi.

JPU juga menanyakan soal dana hibah tahun 2015 senilai Rp50 Milyar, Saksi Syarifudin mengatakan, jika dirinya menyampaikan dana tersebut ke Marwah M Diah

“Kata Pak Marwah M Diah, aturlah Rp50 milar biar kebagian semua,” ungkap saksi.

JPU juga menanyakan terkait penemuan catatan aliran dana bertulisan untuk Sumsel 1, Rp2,5 milyar dan Rp2,43 milyar, dan ada juga nama saudara dicatatan tersebut.

Saksi Syarifudin membantah terkait penemuan catatan tersebut.

“Saya sudah ditahan di Pakjo. Saya, tidak tahu,” kata saksi.

JPU juga tanyakan kepada saksi terkait tiket pesawat, saksi sebut jika dirinya membeli tiket dengan uang pribadi.

“Saya beli tiket pakai uang pribadi,” kilahnya.

JPU Kejati Sumsel, meragukan keterangan saksi Syarifudin

“Dak apa ngak jujur, saudara bisa bohong tapi akan kami bongkar,” tegas JPU

Sebelumnya, saat skorsing sidang, saksi Syarifuddin, mengatakan, pihaknya hari ini menjadi saksi untuk dua terdakwa Mukti Sulaiman dan Ahmad Nasuhi.

Disinggung mengenai adanya dokumen mengenai pembagian fee yang ditemukan di rumahnya, Syarifuddin mengatakan bahwasanya itu hanya berdasarkan katanya saja.

Pasalnya, menurut Syarifuddin, saat penggeledahan dan penyitaan yang dilakukan di rumahnya, saat itu dirinya sudah dilakukan penahanan.

“Sehingga, saya tidak tahu apa benar dokumen itu dari rumah saya atau bukan. Selain itu ketua RT yang diundang untuk menyaksikan penggeledahan di rumah saya itu tidak ditunjukan dokumen-dokumen yang dimaksudkan,” ungkap Syarifuddin.

Dirinya menambahkan munculnya dokumen tersebut setelah di kejaksaan Tinggi Sumsel.

Disinggung mengenai adanya pembagian fee yang dilakukan dirinya dalam perkara ini, syarifuddin dengan tegas membantah hal tersebht.

“Saya tidak membagikan dan tidak menerima apapun terkait fee dalam proyek masjid ini,” tutupnya. (Ron)

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.