Setelah Inggris Brexit, Uni Eropa Tidak Harus Terpuruk dalam ‘Depresi’

Inggris brexit dari Uni Eropa (foto:getty)

Berlin, sumselupdate.com– Menteri Luar Negeri Jerman, Frank-Walter Steinmeier mengatakan Uni Eropa (UE) tidak harus jatuh dalam “depresi dan lumpuh” setelah Inggris meninggalkan organisasi tersebut.

Seperti dilansir BBC, Sabtu (25/6), Steinmeier menyatakan hal itu menjelang pertemuan darurat enam anggota pendiri UE di Berlin untuk membahas hasil referendum Inggris, Sabtu (25/6).

Mereka akan mempertimbangkan upaya percepatan proses ‘perceraian’ Inggris dari UE, dan cenderung membahas bagaimana melakukan pencegahan negara lain melakukan hal yang sama.

Keenam negara yang menghadiri pertemuan di Berlin – Jerman, Perancis, Italia, Belgia, Luksemburg dan Belanda -merupakan pendiri UE pada 1950-an dan merupakan anggota inti UE.

Konferensi tingkat tinggi, KTT, pertama pemimpin UE, yang tanpa dihadiri Inggris, akan digelar pada Rabu (29/06).

UE sebelumnya telah mendesak Inggris untuk segera memulai negosiasi setelah pengunduran dirinya dari UE. Sementara, Kepala Komisi Eropa Jean-Claude Juncker menekankan “Uni Eropa dengan 27 anggota yang tersisa akan berjalan terus”.

Pasar saham dunia anjlok setelah hasil referendum Inggris memastikan mereka harus meninggalkan UE.

Sekitar 52% warga Inggris mendukungnya yang kemudian membuat nilai mata uang poundsterling turun draktis. Usai penghitungan hasil referendum, Perdana Menteri Inggris David Cameron – yang mendukung opsi bertahan dalam Uni Eropa – memilih mundur dari jabatannya dan menyerahkan negosiasi lanjutan kepada penggantinya.

Pernyataan Cameron ini kontan saja dipertanyakan Uni Eropa. “Tidak masuk akal menunggu sampai Oktober untuk melanjutkan negosiasi,” kata Kepala Komisi Eropa, Jean-Claude Juncker.

Inggris akan berhenti membayar anggaran UE begitu resmi meninggalkan kelompok tersebut. Jadi sumbangan netto Inggris saat ini sebesar £8,5 miliar atau Rp158 triliun per tahun akan tetap berada di Inggris, yang berarti bisa dipakai untuk layanan kesehatan National Health Service atau menghapus pajak pertambahan nilai BBM.

Tetapi petani Inggris tidak akan lagi menerima pembayaran langsung dari Uni, senilai £2,4 miliar atau Rp44 triliun seperti yang diterima pada tahun 2015.

Inggris juga akan berusaha mengurangi imigran dari Uni Eropa, kemungkinan lewat sistem berdasarkan angka seperti Australia, dengan memberikan prioritas kepada pekerja berketerampilan tinggi dan menolak yang berketerampilan rendah. Sebagian besar pencari kerja dari EU akan diperintahkan untuk pergi.

Tetapi Inggris pertama-tama harus memastikan status hampir 2,2 juta pekerja EU yang tinggal di Inggris. Peraturan tentang pertemuan keluarga juga akan menjadi lebih ketat. Tetapi pembatasan pergerakan ini tidak akan diterapkan dalam dua tahun.

Saat ini sekitar dua juta warga Inggris tinggal di negara-negara Uni Eropa, sehingga kemungkinan besar mereka akan mengalami perlakuan yang sama. (shn)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.