Chicago, Sumselupdate.com – Harga minyak menguat pada Rabu (6/9/2023), membalikkan penurunan sesi sebelumnya karena para trader mengantisipasi berkurangnya persediaan minyak mentah AS menyusul pengurangan produksi berkepanjangan di Arab Saudi dan Rusia
Harga minyak mentah berjangka Brent ditutup naik 56 sen menjadi US$ 90,60 per barel dan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berjangka bertambah 85 sen menjadi US$ 87,54.
“Persediaan minyak mentah cukup rendah di AS, karena berkurangnya minyak mentah dalam jumlah besar selama beberapa minggu sehingga memicu kenaikan harga,” kata Direktur Energi Berjangka Mizuho, Bob Yawger.
Enam analis yang disurvei Reuters memperkirakan rata-rata persediaan minyak mentah AS turun sekitar 2,1 juta barel dalam pekan yang berakhir 1 September. Jajak pendapat tersebut dilakukan menjelang laporan kelompok industri American Petroleum Institute (API), yang akan dirilis pada Rabu. Sementara Administrasi Informasi Energi AS dijadwalkan akan mengumumkan pasokan minyak pada Kamis (7/9/2023).
Arab Saudi dan Rusia memperpanjang pengurangan pasokan minyak hingga akhir tahun. Pemotongan Saudi sebesar 1 juta barel per hari (bpd), sedangkan Rusia telah memangkas 300.000 barel per hari. Jumlah ini melebihi pemotongan pada April yang disepakati beberapa produsen OPEC+ dan berlaku hingga akhir tahun 2024.
Sementara data menunjukkan Indeks Manajer Pembelian (purchasing manager index/PMI) non-manufaktur ISM berada di 54,5, dibandingkan ekspektasi 52,5.
Adapun dolar menguat ke level tertinggi 105,00, di atas level tertinggi 6 bulan pada 104,90 hari sebelumnya. Penguatan dolar dapat membebani permintaan minyak karena membuat minyak mentah lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Para analis mengatakan bahwa kenaikan harga minyak dapat menekan permintaan ketika kilang-kilang AS memasuki periode pemeliharaan pada September-Oktober.
Hal lain yang membebani pasokan minyak adalah produksi lebih banyak dari Iran, Venezuela, dan Libia. (bsc)











