LAYAR TANCAP
Bergegas kilat menyeruak dalam kerumunan mata
Duduk diam bersama saksama
Di sebuah tanah lapang di sebuah desa
Terpaku alur ceritera terpampang di layar jelas
Hanya cerita biasa oleh sutradara ternama
Dengan para pelakon pemenang citra
….
Tak ada sorak sorai dan tepuk tangan membahana
Tak ada air mata menguras emosi jiwa
Karena cinta dan bahagia hanyalah simbol belaka
Tanpa makna
Ketika nilai kebaikan lenyap dalam gelap
Kejujuran terjebak di labirin isi kepala
Keburukan menyamar di setiap sudut dalam retorika
Mengelabui kewarasan
Membenamkan keluhuran
….
- Gerimis datang tak membuat bubar
Tetap berharap sederhana
Selesai bahagia di akhir cerita
Bandung,7 September 2022
YANG NAIK YANG JATUH
Kesesuaian dan kenaikan merobek sisi-sisi di saku
Lantang teriak di tengah terik siang yang bolong
Bergema-gema menyeret banyak bayangan
Seperti berjudi dengan kartu domino
Bernama sembako
Mengubah perubahan
Hanya saja cuma menjadi teriakan
Kesesuaian dan kenaikan menyayat setiap tetes keringat
Nyaris tak terdengar tentang orang hidup banting tulang
Untuk makan dan bayar cicilan
Bukan untuk kaya atau pun raya
Untuk normal menjalani kehidupan
Ksesuaian dan kenaikan membuat mual dan muntah
Saat suara lewat di telinga-telinga yang sudah pekak
Hanya dapat menulis pesan singkat
Untuk istri tercinta
“Percayalah, uang belanja tak ikut-ikutan naik….”
Bandung, 7 September 2022
HIDUP
Menangislah sepuasnya sederas hujan
Rasa sakit akan terpuaskan pergi
Tertawalah lepas selepas udara
Labuhkan bahagia atas rasa suka
Hidup adalah penghayatan
Anugerah dalam hikmah
Meniti banyak batasan tipis
Di antara nalar dan logika
Agar bertemu kesempurnaan
Meski tak mesti harus sempurna
Karena memang tak akan bisa sempurna
Bandung, 7 September 2022
PENULIS

Heddy WSalam lahir di Palembang dan saat ini berdomisili di Cimahi, Bandung.
Penulis buku antologi puisi “Lebay” & antologi cerpen “Panorama Hati”.











