Program Cetak Sawah Pengabuan Belum Digarap, Cuaca Kembali Disalahkan

Minggu, 25 Februari 2018

PALI, Sumselupdate.com – Sebanyak 1.730 hektar lahan sawah baru yang terletak di Desa Pengabuan, Kecamatan Abab Kabupaten PALI masih saja belum berani digarap petani setempat lantaran cuaca yang belum mendukung.

Berdasarkan pantauan media ini, terlihat hanya rumput yang tumbuh tinggi di lahan pesawahan yang diresmikan Bupati PALI itu. Bahkan dari kejauhan terlihat, lahan sawah mulai kembali jadi semak belukar dan seolah terbengkalai tanpa adanya pengelolaan dari petani.

Read More

Sarbeni, Ketua Kelompok Tani Maju Bersama Desa Pengabuan Timur menjelaskan bahwa selain cuaca, kurangnya sarana pendukung, seperti kanal induk yang saat ini mulai mendangkal menyebabkan air yang berlebih ditimbulkan karena intensitas hujan yang tinggi terhambat mengalir juga jadi kendala.

Serta kurangnya peralatan juga menjadi masalah tersendiri, karena menurut Sarbeni, alat traktor pembajak sawah terbatas, sementara luas lahan yang ada sekarang mencapai 1.730 hektar.

“Kami butuh peralatan serta sarana pra sarana pendukung lainnya seperti memperbaiki kanal induk yang mulai dangkal. Kami juga butuh dibuatkan kanal cacing, tanggul penangkis serta pintu air. Sebab, di daerah kami bukan kekurangan air, tapi kelebihan air, membutuhkan saluran kanal atau irigasi yang lancar agar air cepat keluar,” ucap Sarbeni, Minggu (25/2/2018).

Pintu air dijelaskan Sarbeni gunanya ketika musim kemarau, kanal bisa menampung air dan meminimalisir kekeringan apabila pintu air ditutup.

“Kendala seperti kelebihan air maupun saat kemarau kami yakin bisa teratasi apabila sarana pendukung telah dibangun,dan petani juga kapan saja bisa menebar benih padi. Kalau sudah demikian, panen dua kali dalam setahun bisa dicapai dan cita-cita pak Bupati menjadikan PALI salahsatu lumbung padi mudah-mudahan terwujud,” harapnya.

Setelah sarana dan prasarana lengkap, ditambahkan Sarbeni bahwa pendampingan juga sangat diperlukan bagi petani. Karena dasar bertani warga lokal adalah menanam padi yang hanya bisa panen satu tahun sekali.

“Kami minta pendampingan dengan mendatangkan ahli tani padi dari luar daerah PALI atau mendatangkan petani padi dengan sistem dua kali panen dalam setahun. Karena itu perlu untuk menambah pengetahuan petani lokal, yang selama ini belajar otodidak,” sarannya.

Sementara itu, Akhmad Joni, Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten PALI menyatakan bahwa pihaknya siap melakukan pendampingan, serta membantu pemberian bibit serta pupuk.

“Bibit dan pupuk sudah kita bagikan melalui kelompok-kelompok tani. Untuk bibit dan pupuk saya yakin tidak ada kendala. Pendampingan juga kami telah siapkan penyuluh lapangan agar petani tepat dalam mengelola lahan sawahnya. Untuk saat ini lahan sawah di desa Pengabuan belum digarap, karena cuaca saat ini belum memungkinkan, mungkin pada pertengahan bulan Maret, petani sudah mulai turun untuk menggarap sawahnya,” urainya.

Sekedar informasi, bahwa cetak sawah merupakan program antara kementerian pertanian bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang mulai digarap sejak akhir 2015. (adj)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts