Polri Tolak Pemberitaan ‘Mudik Maut’

Ruas Pejagan-Brebes Timur dipadati kendaraan pemudik hingga 23 kilometer pada Sabtu malam (2/7/2016). (Foto: Kompas.com)

Palembang, Sumselupdate.com – Terkait pemberitaan mengenai jatuh korban jiwa pada saat kemacetan parah di pintu keluar Tol Brebes, pihak Polri masih menelusuri soal informasi tersebut. Karena menurut informasi yang diterima Polri, tidak ada pemudik yang meninggal dunia di tol tersebut.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Humas Polri Brigjen Pol Agus Rianto mengaku telah memastikan informasi tersebut kepada posko penjagaan di wilayah Brebes.

Bacaan Lainnya

“Kejadian itu sebenarnya tidak ada. Data yang kami dapat untuk korban meninggal di jalan tol, sampai saat ini belum kami temukan,” ujar Agus di Kompleks Mabes Polri, Jakarta, Rabu (13/7/2016) sebagaimana dikutip dari laman Kompas.com.

Menurut Agus, data 17 korban tewas tersebut merupakan akumulasi kecelakaan lalu lintas yang terjadi di luar jalan tol Brebes Timur.

Ia mengatakan, ada pemudik yang meninggal setelah sebelumnya dirawat di rumah sakit setempat. Kemudian, ada juga yang meninggal karena kecelakaan motor yang dipastikan bukan terjadi di jalan tol Brebes.

Meski begitu, ia memastikan bahwa pihaknya menelusuri kepastian informasi tersebut hingga ke keluarga korban. Langkah itu dilakukan atas instruksi Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti.

Polri keberatan atas pemberitaan yang menyebut mudik maut.

“Kami akan telusuri ke pihak keluarga. Kami minta teman di wilayah untuk koordinasikan seperti apa,” kata Agus.

“Ini menjadi perhatian penuh Kapolri. Di media ditulis ‘mudik maut’, ini membesar-besarkan,” lanjut dia.

Sebanyak 17 pemudik meninggal dunia selama arus mudik Lebaran, sejak 29 Juni hingga 5 Juli 2016 di wilayah Kabubaten Brebes, Jawa Tengah. Sebagian dari korban tersebut meninggal saat kemacetan parah.

Kepala Pusat Krisis Kemenkes RI Achmad Yurianto melalui keterangan tertulisnya menjelaskan bahwa terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan para korban meninggal dunia.

“Kelelahan dan kekurangan cairan dapat berdampak fatal, terutama untuk kelompok rentan seperti anak-anak, orangtua, dan mereka yang memiliki penyakit kronis (hipertensi, diabetes, atau jantung),” ujar Yurianto.

“Ditambah kondisi kabin kendaraan yang kecil, tertutup, dan pemakaian AC yang terus-menerus. Hal ini akan menurunkan kadar oksigen dan meningkatkan CO2,” tambah dia. (adm3)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.