Palembang, Sumselupdate.com – Limbah tulang ikan gabus yang selama ini dianggap tidak bernilai, kini berhasil diolah menjadi produk pangan bergizi dengan nilai jual tinggi.
Inovasi ini lahir dari program pengabdian masyarakat dana Program Pendanaan Skema Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi No SP DIPA – 139.04.1.693320/2025 Untuk UMKM.
Program Pendanaan Skema Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi No SP DIPA – 139.04.1.693320/2025 BIMA yang dipimpin oleh Ayu Kalista, Ketua Program BIMA, dengan menggandeng UMKM Cek Aat, pelaku usaha olahan ikan di Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Kota Palembang.
Wilayah Seberang Ulu I dikenal sebagai sentra pengolahan ikan, mulai dari pempek hingga kemplang, yang setiap harinya menghasilkan limbah tulang ikan dalam jumlah besar.
Di UMKM Cek Aat sendiri, produksi ikan gabus segar mencapai 10–15 kilogram per hari, dengan limbah tulang sekitar 1,5–3,75 kilogram. Selama ini, tulang ikan tersebut hanya dibuang sehingga menimbulkan bau tidak sedap dan berpotensi mencemari lingkungan.
“Padahal, tulang ikan gabus kaya akan kalsium dan sangat potensial diolah menjadi tepung tulang sebagai bahan tambahan pangan bergizi. Sayangnya, keterbatasan alat, pengetahuan, serta pemasaran membuat potensi ini belum tergarap,” jelas Ayu Kalista, Ketua Program BIMA.
Teknologi Tepat Guna dan Pemberdayaan UMKM
Program pengabdian menghadirkan pendekatan inovatif dengan memadukan teknologi pangan ramah lingkungan dan penguatan kapasitas UMKM.
Dua alat utama yang diberikan adalah mesin pengering (oven) dan mesin penggiling tulang. Teknologi ini memungkinkan proses pengolahan limbah tulang ikan gabus menjadi tepung tulang yang higienis, tahan lama, dan memenuhi standar mutu pangan.
Tidak hanya pelatihan teknis, kegiatan juga mencakup sosialisasi, pelatihan, penerapan serta pemasaran digital. “Kami ingin UMKM bukan hanya bisa memproduksi, tetapi juga mengelola usaha dengan baik dan menjangkau pasar lebih luas, baik offline maupun online,” tambah Ayu Kalista.
Hasil Nyata: Produk Bermutu, Pasar Makin Luas
Dampak program terlihat nyata. Mitra mampu meningkatkan keterampilan teknis pengolahan, efisiensi produksi, hingga pengemasan produk sesuai standar keamanan pangan.
Dengan hasil tersebut, tepung tulang ikan gabus berpotensi dipasarkan sebagai bahan tambahan pangan bergizi tinggi.
Menuju Model Pemberdayaan Holistik
Keunikan program ini terletak pada integrasi teknologi pangan tepat guna dengan pemasaran modern. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kualitas produk, tetapi juga memperkuat daya saing UMKM di pasar yang semakin kompetitif.
“Program ini diharapkan menjadi model pemberdayaan UMKM yang holistik, mencakup aspek produksi, manajemen, hingga pemasaran digital seperti shopee, tiktok dan web pemasaran. Ucapan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, karena limbah ikan yang dulu menjadi masalah kini justru menjadi peluang ekonomi,” pungkas Ayu Kalista, Ketua Program Pendanaan Skema Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi No SP DIPA–139.04.1.693320/2025 Program Studi Agribisnis Pangan di Politeknik Negeri Sriwijaya Kampus Banyuasin.
(**)











