OPINI: Tantangan Pendidikan Era Digital

Oleh: Solehun*)

Beberapa hari lalu, tepatnya Sabtu (12/3/2022) bertempat di Hotel Arista Palembang, saya berkesempatan memoderatori sebuah diskusi publik yang digelar menjelang pelantikan Pengurus Majelis Wilayah KAHMI Provinsi Sumatera Selatan Periode 2021-2026. Diskusi yang mengusung tema “Tantangan Dunia Pendidikan di Era Digitalisasi” ini menghadirkan narasumber “keren”. Mereka adalah Prof. Laode M. Kamaludin (Rektor UICI), Prof. Sirozi (guru besar/mantan Rektor UIN Raden Fatah), Riza Fahlevi, MM (Kepala Dinas Pendidikan Sumsel), dan Bursah Sarnubi (Ketua Perkumpulan Gerakan Kebangsaan).

Read More

Bagi saya, diskusi yang digelar secara hybrid atau campuran antara offline dan online ini cukup bermanfaat bagi dunia pendidikan. Dari data, analisis, dan respons yang disampaikan para pelibat diskusi, setidaknya muncul perspektif baru tentang bagaimana semestinya mengelola dunia pendidikan di era digital seperti saat ini. Persoalannya tinggal sejauhmana para stakeholder pendidikan berkomitmen mengimplementasikan perspektif baru tersebut sehingga praktik pendidikan ke depan bukan saja kontekstual dengan era digital tetapi juga mampu melahirkan lulusan bermutu yang dibutuhkan oleh perkembangan jaman.

Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0

Salah satu hal penting yang menjadi pijakan diskusi publik ini adalah kesadaran akan fakta bahwa bangsa Indonesia saat ini telah memasuki era Revolusi Industri 4.0 bahkan Society 5.0. Di era ini peran dunia digital dalam tatanan kehidupan sangatlah dominan. Berbagai instrumen dan aplikasi digital telah merambah bahkan mengubah berbagai aspek kehidupan dengan fragmentasi barunya. Karenanya, kini digitalisasi pun bukan saja telah menjadi keharusan, tetapi juga telah menjadi kebutuhan masyarakat dengan beragam latar belakang sosialnya.

Di Indonesia fakta era digital ini bukan saja dapat dilihat oleh semakin banyaknya penggunaan aplikasi digital di tengah masyarakat, tetapi juga dapat ditilik dari kian tingginya persentase penggunaan internet. Sebagai catatan, menurut Statistik Telekomunikasi Indonesia Tahun 2020 (BPS), penduduk yang mengakses internet 53,73%, penggunaan internet dalam rumah tangga 78,18%, penduduk yang menggunakan telepon seluler 62,84%.

Kondisi digital tersebut terus meningkat setiap tahunnya. Hal ini setidaknya terlihat dari laporan We Are Social, Hootsuit per Januari 2022 yang menyebut pengguna internet di Indonesia telah mencapai 204,7 juta jiwa (73,7%) dari total penduduk 277,7 juta jiwa. Sementara yang mengakses internet lewat telpon genggam sebanyak 370,1 juta jiwa (133,3%) dan lama berselancar di internet rata-rata 8 jam 36 menit.

Dominasi Generasi Z dan Milenial

Tingginya tingkat penetrasi internet di Indonesia sangat mungkin berkorelasi dengan komposisi penduduk saat ini. Sebagai gambaran, Hasil Sensus Penduduk 2020  menunjukkan penduduk Indonesia didominasi oleh Generasi Z (1997-2012) yakni 74,93 juta atau 27,94% dari total penduduk Indonesia. Generasi Z saat ini diperkirakan berusia 8 hingga 23 tahun. Selanjutnya, kelompok dominan berikutnya adalah Generasi Milenial (1981-1996) 25,87%, Generasi X (1965-1980) 21,88%, Baby Boomer (1946-1964) 11,56%, Post Gen Z (setelah 2013) 10,88%, dan Pre Boomer (sebelum 1946) 1,87%.

Lantas, bagaimana peta penggunaan internet berdasarkan tujuannya? Jika mengacu pada Databoks (Katadata), ternyata persentase anak usia 5 tahun ke atas yang mengakses internet menurut tujuan pada 2021 masih didominasi untuk bermedia sosial, yakni mencapai 88,99%. Sementara yang tujuannya untuk mengerjakan tugas sekolah baru 33,04%.

Talenta Digital

Sebuah keniscayaan bahwa saat dunia telah memasuki era digital maka kebutuhan lapangan kerja akan talenta digital pun cukup besar. Berdasarkan proyeksi Microsoft, Linkedln 2020, lapangan kerja digital di skala global pada 2025 akan didominasi oleh sektor software development (98 juta). Selanjutnya disusul oleh cloud and data (23 juta), data analysis and artificial intelegent/AI (20 juta), kemanan siber (6 juta), dan perlindungan privasi (1 juta).

Sayangnya, di tengah besarnya proyeksi lapangan kerja digital di skala global, kemampuan digital bangsa ini masih tergolong rendah. Menurut data Amazon Web Services (AWS), AlphaBeta, Februari 2021, Indonesia termasuk negara dengan proporsi angkatan kerja yang memiliki kemampuan digital tergolong rendah di Pasifik, yakni baru mencapai 19 persen. Proporsi ini masih tertinggal jauh jika dibandingkan dengan Australia (64%), Singapura (63%), Korea Selatan (62%), dan Jepang (58%).

Masih menurut Amazon Web Services, dengan proporsi kemampuan digital yang demikian, Indonesia pun disebut membutuhkan banyak pelatihan digital. Yakni, setidaknya dibutuhkan 946 juta pelatihan digital dalam lima tahun ke depan.

Pendidikan yang Adaptif  Digital

Dominasi kelompok  Generasi Z dengan preferensi karakteristiknya yang akrab dengan dunia digital mesti disikapi oleh dunia pendidikan. Untuk itu, saya pun sepakat dengan pandangan Prof. Sirozi bahwa keberadaan lembaga pendidikan, terkhusus kampus digital, bukan saja dinilai sejalan tetapi juga menjadi solusi yang tepat bagi pendidikan terutama Generasi Z.

Penegasan Kadisdik Sumsel, Riza Fahlevi, bahwa dunia pendidikan Sumsel mau tidak mau mesti siap menghadapi berbagai tantangan di era digital tentunya membawa kabar segar. Karenanya, sumber daya manusia di dunia pendidikan Sumsel pun mesti terus didorong untuk memiliki literasi digital yang mumpuni dan terus berinovasi dalam menerapkan pembelajaran digital. Pada saat yang sama, keberpihakan pemerintahan daerah terhadap besaran anggaran pendidikan pun harus terus ditingkatkan demi mendukung peningkatan kesiapan dunia pendidikan di era digital.

Saran Rektor UICI (Universitas Insan Cita Indonesia), Prof. Laode Kamaludin yang menyebut bahwa dunia pendidikan harus segera beradaptasi dengan era digital merupakan saran yang bernas. Konskuensi dari kehadiran era revolusi 4.0 dan society 5.0 adalah kita mesti membekali sumber daya manusia Indonesia dengan keterampilan yang dibutuhkan era digital. Untuk itu, dunia pendidikan harus terus membenahi ekosistemnya mulai dari kurikulum, sarana, metode, tenaga pendidikan, hingga tenaga kependidikannya agar sejalan dengan tuntutan era digital. Hal ini pula yang sedang dilakukan Majelis Nasional KAHMI melalui pendirian UICI yang notabene sebagai “kampus digital pertama” di Indonesia. Diketahui, kampus ini mengembangkan platform pendidikan baru berupa Digital Simulator Teaching Learning System (DSTLS) sehingga mahasiswa dapat kuliah dimana saja, kapan saja, dan dengan perangkat apa saja.

Keharusan beradaptasi dengan era digital ini, sambung Prof. Laode, juga berlaku bagi dunia pendidikan di Sumsel. Terlebih disebutnya, sebagaimana data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2020, pengguna internet di Sumsel mencapai 6.950.709 orang. Selain itu, kebutuhan Sumsel akan talenta digital juga cukup besar, yakni mencapai 286.700 orang.

Pentingnya penyiapan talenta digital melalui dunia pendidikan juga menjadi perhatian salah satu tokoh nasional yang peduli pengembangan SDM, Bursah Sarnubi. Hal ini diperlukan agar lulusan pendidikan di negeri ini mampu bersaing di era digital. Untuk itu, peningkatan literasi digital di dunia pendidikan pun menjadi prasyarat mutlak di tengah harapan lahirnya talenta-talenta digital yang kompetitif. Seiring dengan itu, para penentu kebijakan pendidikan di semua tingkatan juga dituntut untuk segera mampu mengatasi persoalan gap-technology yang selama ini masih mewarnai praksis pendidikan di era digital.

Demikian telah jelas nukilan data, analisis, dan perspektif terkait tantangan dunia pendidikan di era digitalisasi. Jika kita masih percaya bahwa pendidikan adalah instrumen paling efektif untuk meyelamatkan manusia dari berbagai bentuk ketertinggalan, saatnya sekarang kita kembali memprioritaskan urusan pendidikan. Mari atasi persoalan ketertinggalan talenta digital mulai dari dunia pendidikan.

*) Penulis adalah Pemimpin Umum Sumselupdate.com.

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.