APA yang akan anda dapatkan sebagai rakyat ketika bangsa dan daerah Anda dipimpin oleh pemimpin berkarakter aji mumpung?
Tentunya sebagai rakyat yang merupakan pemilik dan penguasa di negeri ini, anda toidak akan pernah mendapatkan sesuatu yang bisa membahagiakan anda dan mensejahterakan seluruh penduduk negeri.
Penyebabnya karena seorang pemimpin aji mumpung tidak akan pernah memikirkan dan mengurus Anda sebagai rakyatnya.
Dalam otak besar pemimpin aji mumpung bagaimana dengan jabatan dan kekuasaannya sang pemimpin bisa mendapatkan sebanyak-banyaknya kekayaan dan kehormatan untuk dirinya pribadi, keluarga dan kroninya. Soal apakah rakyat susah atau senang tidak ada dalam kamus kepemimpinanya.
Sebuah negara atau daerah kalau dipimpin oleh pemimpin bertipe aji mumpung maka itu adalah sebuah kecelakaan besar.
Karena pemimpin bertipe aji mumpung tidak akan pernah mengurus rakyat tapi bagaimana dirinya berusaha sebaik mungkin dengan kekuasaan yang dipegangnya mampu meraup sesuatu sebanyak mungkin.
Soal apakah dirinya mewariskan prestasi bagi rakyat untuk dikenang hingga akhir zaman bagi pemimpin aji mumpung itu tidak ada dalam kamus kepemimpinanya.
Ketika sebuah negara dan daerah dipimpin oleh pemimpin berkarakter aji mumpung maka kreativitas rakyat tidak akan pernah dieskalasi sesuai dengan kreativitas rakyat.
Sebab bagi pemimpin berkarakter aji mumpung rakyat hanya pelengkap penderita dan bukan faktor kardinal (penting) yang harus dipikirkan dan dimartabatkan sesuai dengan kemampuan dan kreativitas rakyatnya.
Bahkan pemimpin aji mumpung khawatir dengan kreativitas tinggi warganya dapat mengganggu kekuasaannya yang sepi dari prestasi dan kreativitas prestasi.
Yang makin memperparah kekuasaan pemimpin aji mumpung adalah bawahan yang diberinya amanah justru bukan pegawai yang memiliki prestasi dan mampu berpikir untuk kepentingan rakyat banyak.
Namun mereka adalah inheren dari pemimpin aji mumpung yang ikut menikmati kekuasaan dari gaya kepemimpinan pemimpin aji mumpung.
Mereka para pegawai yang diangkat pemimpin aji mumpung selalu berasumsi bahwa jabatan dan kekuasaan yang mareka terima adalah kekuasaan yang diberikan dan diamanahkan pemimpin aji mumpung untuk mareka sehingga mareka berdalih dengan segudang diksi bahwa tanggung jawab mereka kepada pemimpin aji mumpung dan bukan kepada rakyat yang dalam negara demokrasi merupakan pemilik negeri, bangsa, dan daerah ini.
Ketika dipimpin oleh seorang pemimpin berkarakter aji mumpung maka rakyat tidaka akn merasakan apa-apa dari kehadiran pemimpin.
Rakyat mengurus dirinya sendiri. Ketika rakyat miskin mengalami kesusahan dalam menyekolahkan anaknya sedikit sekali perhatian dan atensi yang diberikan pemerintah.
Nahkan rakyat terpaksa ke sana kemari untuk bisa mengurus anaknya bersekolah. Demikian pula ketika rakyat miskin mengalami kesusahan masalah kesehatan maka hampir dipastikan perhatian pemerintah di bawah kepemimpinan pemimpin aji mumpung tak ada sama sekali.
Rakyat hidup dengan caranya sendiri seolah-olah tanpa pemerintah dan pemimpin.Rakyat berjuang sendiri untuk hidup dan berkehidupan. Bisa dikatakan tanpa pemerintah pun rakyat bisa hidup. Dan itu terbukti di negeri ini.
Ke depan sebagai pemilik negeri dan daerah ini kita sebagai rakyat memang harus super hati-hati dalam menentukan pemimpin negeri ini.
Jangan sampai kehadiran pemimpin dan pemerintah tidak memberikan dampak apa-apa bagi kita sebagai rakyat yang notabene merupakan pemilik negeri dan daerah ini. Sudah waktunya kita cerdas dan cerdas dalam meilih pemimpin kita.
Sudah saatnya kita selektif dan menjadikan prestasi sebagai panglima dalam menentukan pilihan. Toh keledai pun tidak akan mau jatuh dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Ke depan kita sebagai pemilik bangsa dan daerah ini memang dituntut untuk mampu melahirkan pemimpin yang memang memperhatikan rakyat sebagi bagian inheren dari pemerintah dan menjadikan pemimpin dan pemerintah sebagai pelayan dan mengurus segala macam hak hidup kita sebagai penguasa di negeri ini.
Bukan pemimpin yang dengan kekuasaannya justru minta kita layani dan dengan kekuasaannya mengekploitasi bangsa dan daerah ini untuk kepentingan pribadinya, keluarganya dan kroninya.
Dan itulah tugas dan tanggungjawab kita bersama-sama dalam kurun waktu mendatang ini. Saatnya kita sebagai rakyat melahirkan pemimpin yang betul-betul melayani dan mengurus kita sebagai rakyat. Bukan melahirkan pemimpin aji mumpung. (**)
Pengirim: Rusmin Toboali











