Opini: Memahami Sebuah Wacana Menggunakan Metode Analisis Wacana Kritis

Writer: - Rabu, 6 Maret 2024
Nauval AS, SPd.

MENURUT  Baryadi (2002:2), istilah ‘wacana’ dan ‘discourse’ digunakan dalam linguistik. Baik wacana lisan maupun tertulis selalu mencerminkan hasil interaksi sosial, jadi wacana adalah satuan terlengkap dalam hierarki utuh yang dapat dipahami oleh pembaca (Kridalaksana, 2008:259; Purwoko, 2008:10).

Penggunaan istilah dalam wacana lisan dan tulisan berbeda. Sementara istilah “wacana” lebih mengacu pada tulisan dengan struktur berita yang berisi tentang suatu peristiwa yang dipublikasikan di surat kabar, ‘teks’ lebih mengacu pada lisan (Coulthard, 1979; Badara, 2012).

Read More

Dibandingkan dengan produksi wacana di media, kita dapat melihat ketidaksesuaian dan kepentingan penulis, yang memungkinkan kita untuk memilih dan memilah mana informasi yang akurat.

Namun, melakukan analisis wacana akan memungkinkan kita untuk mengetahui motivasi atau ideologi yang tersembunyi di balik artikel berita. Artinya, analisis wacana adalah metode membaca yang lebih mendalam.

Analisis wacana kritis pada hakikatnya merupakan kajian tentang fungsi bahasa atau penggunaan bahasa sebagai sarana komunikasi.

Baca Juga: OPINI: Manunggal Kawuloning Gusti atau Manunggal Kalawaning Gusti dalam perspektif Kepemimpinan Nasional

Tujuan utama analisis wacana kritis adalah untuk mengungkap hubungan antara bahasa, masyarakat, kekuatan, ideologi, nilai, dan pendapat dengan teks yang akan dikaji (realitas sosial).

Analisis wacana kritis berfokus pada analisis hubungan sosial antara pihak-pihak yang terlibat dalam wacana tersebut.

Analisis wacana kritis melakukan kritik terhadap linguistik dan perkembangan dalam domain-domain sosial dan kultural dengan tujuan menjelaskan dimensi linguistik kewacanaan fenomena sosial dan kultural dan proses pembelajaran.

Menurut paradigma kritis, analisis wacana adalah upaya untuk melihat lebih dekat bagaimana pesan wacana disusun, digunakan, dan dipahami. Paradigma kritis analisis wacana menggunakan bahasa teks yang dianalisis, tetapi analisis wacana kritis berbeda dari studi bahasa tradisional.

Analisis wacana kritis melihat bahasa dalam hubungannya dengan konteks. Dalam konteks ini, bahasa digunakan untuk tujuan tertentu, termasuk praktik kekuasaan.

Pendekatan kritis berpendapat bahwa bahasa selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan, terutama dalam membentuk subjek dan berbagai bentuk representasi di masyarakat. Karena itu, bahasa harus dianalisis dalam konteks, yaitu tujuan dan praktik tertentu.

Analisis wacana kritis (AWK) adalah upaya atau proses penguraian untuk memberi penjelasan dari teks (realitas sosial) yang diinginkan atau sedang dikaji oleh seseorang atau kelompok dominan dengan tujuan tertentu (Darma, 2009:49).

Baca Juga: OPINI: Capaian Retribusi Daerah OKU Timur Tahun 2022 Rendah, Apa Solusinya?

Artinya, pentingnya dalam sebuah konteks harus diakui. Oleh karena itu, penting untuk diperhatikan dalam analisis yang akan datang bahwa penulis tentu telah mempengaruhi teks wacana dengan sejumlah faktor. Selain itu, penting untuk diingat bahwa kepentingan dan makna yang diinginkan ada di balik wacana.

Analisis wacana kritis AWK Norman Fairclough mencakup analisis teks, relasi teks, dan konteks sosial.

Analisis Teks

Analisis linguistik dilakukan untuk memeriksa tata bahasa dan koherensi teks. Aspek tata bahasa termasuk ketransitifan, modalitas, dan aspek, sedangkan koherensi terdiri dari pronomina dan konjungsi. Anda juga harus mempertimbangkan leksikal, atau kata kunci, yang ada dalam teks.

Tata bahasa: Analisis tata bahasa mencakup aspek seperti ketransitifan, modalitas, dan aspek.

Koherensi: Pertalian atau jalinan yang ada di antara kata atau kalimat dalam teks yang memungkinkan dua fakta berbeda terhubung sehingga membuat teks terlihat berhubungan. Koherensi mengacu pada cara seseorang menggunakan wacana secara strategis untuk menjelaskan fakta atau peristiwa, apakah dianggap sebagai peristiwa terpisah, berhubungan, atau bahkan sebagai akibat dari peristiwa lain. Pemilihan pronomina dan konjungsi adalah dasar untuk menilai koherensi wacana ini.

Relasi Teks

Relasi teks, juga dikenal sebagai praktik percakapan, adalah aspek yang berkaitan dengan bagaimana teks dibuat dan dikonsumsi. Teks berita pada dasarnya dibuat melalui berbagai proses produksi teks, seperti pola kerja, bagan kerja, dan prosedur produksi berita.

Konteks Sosial

Jika ditelaah lebih jauh, konteks sosial cukup menarik jika dilihat dari konteks penggalan wacana tersebut. Hubungan antara teks atau wacana dengan kondisi sosial di masyarakat didefinisikan secara garis besar sebagai ‘konteks sosial’.

Maksud dari pernyataan ini adalah bahwa karena hubungan antara teks dan sosial adalah resiprokal, teks dapat mempengaruhi keadaan sosial seseorang, dan wacana atau teks juga dapat mempengaruhi keadaan sosial orang lain.

Baca Juga: Opini : Tantangan Perubahan Zaman, disertai Pandemi, Menuntut Sumber Daya Indonesia Perkuat Karakter

Menurut Van Dijk, yang dikutip Fauzan (2014), tindakan, konteks, histori, kekuasaan, dan ideologi adalah elemen penting dari analisis wacana kritis.

Tindakan

Analisis wacana kritis melihat wacana sebagai tindakan. Artinya, dalam wacana, seseorang menggunakan bahasa untuk memberi tahu, memerintah, mempengaruhi, dan membujuk orang lain untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Saat menulis tulisan yang bersifat menguraikan, seseorang berusaha menjelaskan wacana dengan detail sehingga pembaca mendapatkan pemahaman yang jelas tentang subjek yang dibahas.

Konteks

Selain mempelajari bahasa (teks) itu sendiri, analisis wacana kritis juga harus mempelajari elemen di luar bahasa (konteks).

Sobur, yang dikutip Fauzan (2014), menyatakan bahwa wacana terdiri dari teks dan konteks. Bukan hanya kata-kata yang tercetak di kertas; teks mencakup semua bentuk komunikasi, ucapan, musik, gambar, efek suara, citra, dan lainnya.

Konteks terdiri dari semua keadaan dan hal-hal di luar teks, seperti komponen bahasa, kondisi saat teks dibuat, tujuan, dll. Menurut Van Dijk, Fairclough, dan Wodak, yang dikutip oleh Fauzan (2014), analisis wacana kritis memasukkan konteks seperti latar, situasi, historis, kekuasaan, dan ideologi.

Konteks situasi dan latar belakang dalam analisis wacana kritis dapat disamakan dengan konteks situasi dan latar belakang pengetahuan dalam analisis wacana pragmatis.

Histori

Aspek historis, selain aspek tindakan dan konteks, harus dipertimbangkan karena wacana tidak dapat dipahami tanpa mempertimbangkan aspek ini. Menurut Eriyanto (2001), memanfaatkan elemen historis adalah salah satu cara untuk memahami teks. Memberikan elemen sejarah apa, mengapa, di mana, dan kapan teks dibuat akan membantu memahaminya.

Kekuasaan

Eriyanto (2001) menyatakan bahwa wacana yang ditulis, ujaran, dan lainnya adalah hasil dari pertarungan kekuasaan karena aspek kekuasaan merupakan salah satu hubungan wacana dengan masyarakat. Karena, menurut Van Dijk (dalam Eriyanto, 2001), hubungan, pengetahuan, dan pengalaman kelompok yang dominan biasanya lebih baik dan lebih banyak daripada kelompok yang lemah atau termarjinalkan.

Ideologi

Ideologi merupakan bagian penting dari analisis wacana kritis. Mengatakan bahwa gagasan, ucapan, dan lainnya adalah bagian dari ideologi tertentu, menurut Eriyanto (2001).

Kelompok dominan menciptakan ideologi dengan tujuan untuk memproduksi ulang dan mengesahkan eksistensi kelompok tersebut. Ideologi menciptakan jati diri kelompok. Setiap wacana memiliki ideologi yang berbeda untuk mendominasi dan mengambil alih, jadi wacana bukanlah sesuatu yang netral.

Ada banyak metode yang digunakan para ahli untuk menganalisis wacana kritis. Antara lain:

Metode analisis wacana kritis Norman Fairclough menggambarkan wacana sebagai praktik sosial. Oleh karena itu, ada hubungan dialektikal antara proses wacana dan praktik sosial: wacana mempengaruhi tatanan sosial dan tatanan sosial mempengaruhi wacana.

Metode analisis wacana kritis yang dikembangkan Van Leeuwen menjelaskan bagaimana orang-orang tertentu dan aktor sosial muncul dalam wacana. Bagaimana kelompok yang dominan memiliki kontrol yang lebih besar, dan kelompok yang lebih rendah dianggap buruk.

Metode analisis wacana kritis yang dikembangkan oleh Van Dijk adalah pendekatan kognitif sosial yang tidak hanya berpusat pada analisis bahasa wacana, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana wacana dibuat dan alasan di baliknya.

Pendekatan ini menjelaskan bahwa apa yang ditulis seseorang dalam wacana akan menentukan karakteristik dan kerangka wacana itu sendiri.

Metode analisis wacana kritis yang dikembangkan oleh Wodak adalah pendekatan wacana historis. Metode ini menjelaskan cara melakukan analisis wacana dengan mempertimbangkan aspek historisnya.

Sara Mills menggunakan pendekatan analisis wacana kritis sebagai perspektif feminis/feminist stylistics. Pendekatan ini berfokus pada bagaimana perempuan dimunculkan dalam wacana karena selama ini mereka telah disingkirkan dan berada dalam situasi yang tidak adil, dan mereka tidak diberi kesempatan untuk membela diri.

Analisis wacana kritis adalah jenis studi linguistik yang mempelajari wacana secara kontekstual daripada hanya secara linguistik. Karena dasar teoretis analisis wacana didasarkan pada perkembangan sejarah dalam teori sosial dan filsafat pengetahuan, elemen-elemen sosial, historis, dan ideologi adalah sumber utama dari kerangka kerja analisis wacana kritis. Tujuan utama analisis wacana kritis adalah untuk memperbaiki ketidaksamaan yang ada dalam wacana. (**)

Penulis         : Nauval AS, SPd

Pekerjaan     : Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Simpang Teritip

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts