Selain Yeşim, ada juga Midas, kucing Angora Turki yang memiliki empat telinga karena mutasi genetik langka. Akun Instagram-nya (@midasthefourth) memiliki lebih dari 336.000 pengikut, dan foto-fotonya sering dibagikan di Reddit dan Twitter. Kondisi Midas, yang disebut sebagai “polydactyl mutation”, sebenarnya jarang terjadi tetapi tidak membahayakan kesehatannya dan menjadikannya unik (National Geographic, 2021). Popularitas Midas menunjukkan bagaimana keunikan fisik dapat menjadi daya tarik besar di media sosial, sekaligus meningkatkan kesadaran tentang keberagaman genetik pada hewan.
Perlindungan Hukum dan Bagian Identitas
Masyarakat Turki tidak hanya mencintai kucing secara informal, tetapi juga melindungi mereka melalui hukum dan tradisi. Pemerintah Turki memiliki Undang-Undang No. 5199 tentang Perlindungan Hewan, yang menyatakan bahwa membunuh atau menyiksa hewan jalanan adalah tindakan kriminal (Animal Rights in Turkey, 2021). Selain itu, banyak restoran dan toko yang secara sukarela memberi makan kucing liar, seperti yang dilakukan Ikram Korkmazer untuk Yeşim.
Budaya merawat kucing liar juga tercermin dalam “Kedi” (2016), film dokumenter yang mengeksplorasi kehidupan kucing Istanbul. Film ini sukses secara internasional dan memperlihatkan bagaimana kucing telah menjadi bagian dari identitas kota Istanbul (The New York Times, 2017). Bahkan, ada “Cat Village” di Cihangir, Istanbul, di mana warga setempat membangun rumah-rumah kecil dan menyediakan makanan untuk kucing jalanan (CNN Travel, 2020).
Dari Gli yang menjadi penjaga Hagia Sophia hingga Yeşim yang menjadi bintang media sosial, kucing-kucing Turki telah mencuri perhatian dunia. Mereka bukan hanya hewan peliharaan, tetapi bagian dari sejarah, budaya, dan kehidupan sosial Turki. Media sosial telah memperkuat popularitas mereka, sementara undang-undang dan tradisi lokal memastikan mereka tetap dilindungi. Keunikan mereka baik dari kisah hidup, pose ikonik, atau mutasi genetik kemudian menjadikan kucing-kucing ini sebagai simbol kasih sayang dan penghormatan terhadap hewan di Turki.
(**)
Yollanda Vusvita Sari, M.Pd
Dosen IBI Kosgoro 1957 dan Peneliti Cakramandala Institute











