Jepara, Sumselupdate.com – Universitas Negeri Semarang (UNNES) melalui program Inovasi Seni Nusantara mendorong penguatan identitas dan pengembangan produksi Batik Jepara melalui inovasi teknik Wax Print Screen (WPS).
Program tersebut dilaksanakan bersama Paguyuban Batik Pralodo Jepara sebagai mitra masyarakat dengan fokus pada pengembangan motif khas Jepara, penguatan identitas visual, serta peningkatan kapasitas produksi batik.
Program bertajuk ‘Penguatan Identitas dan Optimasi Produksi Batik melalui Teknik Wax Print Screen (WPS) pada Paguyuban Batik Pralodo Jepara’ ini diketuai oleh Dr. Eko Haryanto, M.Ds dari Universitas Negeri Semarang.
Dalam program tersebut, tim UNNES melakukan serangkaian kegiatan mulai dari observasi, pengumpulan data mengenai batik Jepara, koordinasi dengan perajin, pengembangan desain, hingga pendampingan penerapan teknik produksi WPS.
Dalam proses observasi dan pengumpulan data mengenai batik Jepara, tim peneliti berkoordinasi dengan Suyanti Jatmiko, selaku Ketua Paguyuban Batik Pralodo Jepara sekaligus pemilik (Narendra Batik).
Keterlibatan Suyanti menjadi bagian penting dalam memperoleh informasi mengenai kondisi, karakteristik, kebutuhan, serta perkembangan batik yang diproduksi oleh para perajin di lingkungan Paguyuban Batik Pralodo.
Sementara itu, koordinasi dan pelaksanaan program di tingkat paguyuban dilakukan bersama Suliswati, selaku koordinator Paguyuban Batik Pralodo Jepara dan pemilik Hasna Batik.
Peran tersebut mencakup koordinasi dengan para anggota paguyuban serta mendukung pelaksanaan berbagai kegiatan pendampingan dan penerapan inovasi yang dirancang oleh tim.
Paguyuban Batik Pralodo Jepara sendiri merupakan kelompok masyarakat yang bergerak di bidang seni kerajinan dengan jumlah anggota sebanyak 42 orang.
Dalam proposal program, paguyuban ini ditempatkan sebagai mitra sasaran dalam aspek sosial kemasyarakatan dan produksi.
Selain melibatkan perajin, program ini juga mendapat dukungan dari Ibu Bupati Jepara, Hj Laila
Saidah Witiarso Utomo, yang akrab disapa Bu Ella, selaku Ketua Dekranasda Jepara.
Dukungan tersebut diwujudkan melalui kerja sama, mediasi, serta bantuan dalam pelaksanaan teknis program agar kegiatan dapat berjalan dan terhubung dengan ekosistem kerajinan batik di Kabupaten Jepara.
Dr Eko Haryanto menjelaskan bahwa program tersebut tidak hanya diarahkan pada peningkatan kemampuan produksi, tetapi juga pada upaya memperkuat identitas batik Jepara melalui pengembangan motif yang berangkat dari kekayaan tradisi lokal.
“Program ini diarahkan untuk memperkuat identitas batik Jepara sekaligus mengoptimalkan proses produksinya. Karena itu, pengembangan desain dan inovasi teknik produksi ditempatkan sebagai dua hal yang saling berkaitan,” demikian fokus program yang dikembangkan oleh tim UNNES.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah teknik Wax Print Screen (WPS). Teknik tersebut dikembangkan untuk membantu mengatasi keterbatasan produksi yang selama ini masih banyak bergantung pada proses manual.
Dalam proposal program disebutkan bahwa WPS diharapkan dapat meningkatkan kuantitas sekaligus kualitas produksi, terutama untuk menghasilkan batik berciri khas Jepara dengan proses yang lebih efisien.
Pengembangan motif juga diarahkan pada penguatan identitas lokal. Tim program mengeksplorasi motif yang bersumber dari tradisi Jepara, termasuk kekayaan tradisi ukir lokal, untuk kemudian dikembangkan menjadi desain batik yang memiliki karakter khas Jepara.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat memberikan diferensiasi produk sekaligus memperkuat citra batik Jepara di tengah perkembangan tren pasar.
Program ini juga mencakup peningkatan literasi branding bagi para perajin. Para anggota paguyuban didampingi untuk memahami identitas merek, identitas visual, storytelling produk, serta strategi komunikasi produk yang berbasis pada kearifan lokal Jepara.
Dengan demikian, inovasi yang dikembangkan tidak berhenti pada teknik produksi, tetapi mencakup rangkaian proses dari penciptaan motif, produksi, penguatan identitas visual, hingga pengembangan strategi pemasaran.
Program juga menargetkan lahirnya desain motif khas Jepara yang dapat diajukan untuk perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Kolaborasi antara UNNES, Paguyuban Batik Pralodo, dan Pemerintah Kabupaten Jepara melalui
Dekranasda diharapkan dapat menjadi langkah strategis dalam memperkuat keberlanjutan batik Jepara. Tidak hanya mempertahankan tradisi, program ini berupaya mempertemukan kekayaan budaya lokal dengan inovasi desain, teknologi produksi, dan kebutuhan pasar.
Melalui kolaborasi tersebut, batik Jepara diharapkan semakin memiliki identitas yang kuat, kapasitas produksi yang lebih baik, serta daya saing yang semakin tinggi, tanpa kehilangan keterkaitannya dengan tradisi dan karakter budaya lokal.
Program Inovasi Seni Nusantara tersebut juga menempatkan pemberdayaan ekonomi Masyarakat sebagai salah satu tujuan utama.
Dalam proposal, kegiatan diarahkan untuk mendukung pemerataan ekonomi melalui pemberdayaan masyarakat berbasis batik serta transfer pengetahuan dan keterampilan kepada para perajin.











