Opini: Kontemplasi Seni: Disinterestedness ke Religi

Writer: - Sabtu, 9 Maret 2024
Nandhy Prasetyo

Saya mengambil jarak dari aksioma…

JIKAusaha’ adalah tindakan yang dinamis, dan tidak ada pengetahuan yang paripurna, maka kesadaran tidak hanya berhenti pada objeknya yang sekarang, melainkan sampai pada mengakui pengakuan sebelumnya. Konsep ‘pengakuan’ di sini tidak dalam pengertian yang wajar, bahkan etik maupun estetis, namun dalam konotasi filosofis yang khusus.

Read More

Oleh karena itu, dalam rangka mencari hakikat terdalam, manusia mestinya dibekali keinsyafan dan juga kesadaran, bahwa esklusifitas menjadikan nilai kebenaran semakin licin. Esensi nilai itu  bersembunyi pada ruang privat yang sangat subjektif dan otonom, sehingga sulit diakses untuk kemudian dimunculkan sebagai kebenaran universal.

Semakin kebenaran itu dikokohkan, akan semakin jelas bahwa kecurigaan atas kebenaran itu pada hakikatnya, hanyalah tafsiran-tafsiran atas kebenaran itu sendiri. Sehingga diperlukan sikap reflektif untuk membenamkan ego dan memahami, bahwa kebenaran memiliki cara, cerita dan jalurnya sendiri.

Dengan kerangka alur berfikir diatas, penting kiranya kita mencari titik tekan persamaan, demi terhindarnya deferensiasi perfektif yang kian meluas. Reifikasi mendamaikan persepsi diatas adalah melalui pengetahuan, di mana secara apriori kita sepakat bahwa untuk memperoleh pengetahuan tentang realitas, diperlukan adanya kesatuan antara subjektivitas dan objektivitas. Persinggungan pengetahuan dari dalam diri mestinya dikokohkan dengan analisis objek diluar diri atau sebaliknya, analisis objek diluar diri memantapkan pengetahuan didalam diri. Apapun itu esensi yang mendasarinya tidak lain, bahwa realitas mencakup sekumpulan data-data objektif, fakta konkret, serta persepsi manusia atas realitas itu sendiri. Premis ini cukup mensyaratkan bahwa satu-satunya kefinalan adalah “perubahan” itu sendiri, oleh karenanya kubangan atas apapun bentuk lipatan pengetahuan sangat bersifat dinamis.

Pengakuan pengetahuan maupun persepsi atas pengetahuan yang lama silih berganti dimutasi dan diperbaharui oleh pengetahuan yang baru, begitu seterusnya. Namun demikian, tidak dibenarkan memahami pengetahuan maupun persepsi atas pengentahuan lama dibuang seluruhnya, dan digantikan oleh pengetahuan atau persepsi atas pengetahuan baru secara total. Perenungan terkait pengetahuan maupun persepsi atas pengetahuan, harus didasarkan pada “tidak ada satupun pengetahuan, yang sama sekali baru”.

Dengan bahasa yang cukup sederhana, pengetahuan maupun persepsi atas pengetahuan lama, dijadikan lentera yang menerangi pengetahuan maupun persepsi atas pengetahuan yang baru. Fragmentasi seperti ini tidak hanya mengisolir wilayah pengetahuan dengan sangat spesifik, tetapi menjamah ruang-ruang kebudayaan dimana seni menjadi bagian integral didalamnya.

Berkenaan dengan itu Freire (2007) menuliskan, sebuah kebudayaan baru yang dianggap berkebalikan dengan masa sebelumnya, justru menjadi penjelas bagaimana kebudayaan dihasilkan melalui proses yang berkesinambungan, dan dipengaruhi oleh kebudayaan sebelumnya. Efek budaya mondial harus diinsyafi sebagai formulasi lahirnya kebudayan modern, setidaknya ditilik dari (bentuk, isi, dan penafsiran maknanya).

Representasi seni tradisi sebagai kultus budaya, secara linier merepresentasikan sejarah perkembangan yang pastinya sama, yakni seni mondial memformulasikan seni-seni modern yang ada.  Oleh karena itu pergeseran pengetahuan atau persepsi pengetahuan, budaya, maupun seni seperti yang sudah diterangkan, dapat kita petakan dengan jernih.

Terkait seni sebagai focus kajian, penulis bermaksud memberikan analisis pemetaan atas persoalan disinterestedness ke religi (secara spesifik). Dimana titik tolak sejarah perkembangan seni, dijadikan dasar perenungan penulis, dalam menjawab ambang batas antara kemurnian dan pamrih seni.

Secara apriori transformasi pergeseran seni mondial ke seni modern (formulasi seni modern), dapat generalalisasikan kedalam dua ketegori, yakni pengindraan dan penghayatan seni. Domain pengindraan dalam melihat pergeseran seni mondial ke seni modern, bertalian dengan dunia materiil (objek seni, benda seni, karya seni), sehingga memerlukan kerja murni indrawi yang bersifat sensorik. Pada wilayah pengindraan yakni percecapan atas objek seni, pada dasarnya tidak mementingkan kemampuan khusus, karena bersentuhan dengan penglihatan maupun pendengaran.

Bahkan dalam banyak hal proses transformasi seni mondial ke seni modern pada patron pengindraan, lebih didominasi oleh penglihatan. Proses transformasi pengindraan seni mondial ke seni modern, tercermin pada bentuk maupun isi (komposisi). Terkhusus kesenian genjring atau terbangan Jawa, yang dijadikan objek analysis dalam mengkaji persoalan disinterestedness ke religi secara historis. Indikasi transformasi domain pengindraan pada kesenian ini, termanifestasi dari adanya pergeseran bentuk yang berafiliasi pada tampilan seperti: cara penyajian pertunjukan, alur pertunjukan, penambahan maupun pengurangan jumlah pemain.

Sementara itu manifestasi pergeseran isi (komposisi), tercermin dari adanya perbedaan jumlah pemain, penambahan instrument, maupun gubahan aransemen pada seni mondial ke seni modern. Transformasi seni mondial ke seni modern ditingkat pengindraan, pada dasarnya merupakan pergeseran yang bersifat parsial, karena hanya membicarakan bagian-bagian kulit (luaran) atas seni. Atau apabila mau diradikalkan dan ditarik garis lurus, berkenaan dengan judul penulisan ‘Disinterestedness Ke Religi’ domain pengindraan, hanya mendamaikan persoalan pada tingkatan pemfungsian seni dan pragmatism seni.

Pengandaian akomodasi seni hanya dibicarakan pada tataran kepentingan yang sangat telanjang serta fulgar, karena diakumulasikan dari sudut pemfungsiannya yang pamrih. Namun demikian, terkait dalam pemfungsian seni atau kepentingan seni itupun bila dianalisa dengan cukup radikal, mestinya dibedakan pada dua kontek: pemfungsian public/ kepentingan public dan inself (person siseniman). Untuk kategori pemfungsian atau kepentingan public, jelas tidak dapat disangkal dan diperdebatkan pasti menggugurkan konsep disinterestedness.

Berbeda halnya dengan pemfungsian atau kepentingan inself (person siseniman), dapat diradikalkan secara otonom atas kepentingan yang lebih sublime dan bermakna. Kepentingan pribadi seniman atas karya seni, tidak bisa direduksi hanya pada persoalan-persoalan pragmatis biasa. Tidak jarang pergaulan seniman dengan karyanya, mengejawantahkan peleburan kepuasan batiniah, bahkan lebih jauh bersinggungan dengan aspek keTuhanan. Pada batasan ini pemfungsian atau kepentingan inself (person siseniman), dapat terpigmentasikan dengan konsep disinterestedness.

Sama halnya dengan bersandar pada pemfungsian atau kepentingan inself siseniman, domain penghayatan atas transformasi seni Mondial ke seni modern juga berpretensi pada konsep disinterestedness. Lebih jauh lagi, domain penghayatan atas transformasi seni Mondial ke seni modern, tercermin dari bagaimana siseniman dalam melihat karya seni secara jernih. Domain penghayatan atas transformasi seni, berkelindan dengan wilayah-wilayah intuisi siseniman.

Ungkapan serta pemaknaan siseniman atas karya seni menjadi basis utama, untuk menerangkan domain penghayatan transformasi seni Mondial ke seni modern. Dalam kaitan ini, secara tegas penulis membedakan antara sisi subjektifitas siseniman dan subjektifitas penanggap seni, dalam memaknai pesan pada karya seni.

Begitu juga pemisahan signifikan antara pemahaman makna dari siseniman Mondial dan siseniman modern. Secara moderat pemisahan antara subjektifitas siseniman dan subjektifitas penanggap seni, tidak perlu diterangkan dengan lugas mengingat subjektifitas penanggap seni bisa diradikalkan memiliki pemaknaan universal, sementara subjektifitas seniman lebih memegang konsep disinterestedness.

Jawabannya singkat, bahwasanya senimanlah yang mampu menerangkan makna atas karya seni secara rinci dan cukup mendalam. Pada sisi yang lain, pemisahan pemahaman seniman dalam memaknai karya seni juga cukup berbeda, antara yang Mondial dan modern. Dimana secara samar pemaknaan seniman atas karya seni, baik yang mondial maupun modern bersimplifikasi atas tujuan (pemfungsiannya).

Bukan kontradiksi, pemisahan antara pemaknaan dan fungsi dalam kaitan ini, justru dijadikan lentera penerang yang otentik dalam memaknai seni mondial dan modern. Pemaknaan seniman Mondial dalam melihat karya seni, seperti pemfungsiannya yang otonom. Seni dipisahkan dan dialienasikan dari kehidupan praktis.

Karya seni dalam pengertian mondial diciptakan dan disiarkan demi seni itu sendiri, yakni mengejar tercapainya kepuasan bahkan ekstase. Terkait hal ini Sumardjo (2006) menuliskan, karya seni pra modern lahir untuk dirinya sendiri. Lebih lanjut Ia mencontohkan, orang melukis atau membuat patung dimaksudkan untuk lukisan maupun patung itu sendiri. Peristiwa berkesenian Mondial atau pra modern, dinikmati dalam perenungan untuk mencapai kondisi, pengalaman spiritualitas (yang tidak harus bersifat keagamaan), maupun transenden.

Makna seni Mondial dalam kaitan ini melegesikan konsep disinterestedness, yakni melampaui persoalan yang bersifat profan. Diskursus itu sangat berbeda, bila dihadapkan dengan pemahaman seniman dalam memaknai karya seni modern. Dimana penciptaan karya seni dan syiar modern, bukan untuk seni itu sendiri. Pandangan secular (“) mengabadikan karya seni untuk religi dan nilai praktisnya, sehingga menyatu dengan kehidupan.

Dalam pengertian ini makna seni modern lebih terkesan atas kegunaan nilai praktisnya (religious). Meskipun tidak menutup kemungkinan, bahwa dengan pemaknaan yang serius sisi religious seni modern, dapat mengantarkan pada hal yang bersifat adikodrati.

Transformasi ‘kesenian genjring atau terbangan Jawa di Desa Petunjungan’ akan mengurai kegamangan pembaca, dalam melihat pergeseran konsep disinterestedness ke religi. Secara spesifik historisitas perkembangan ‘kesenian genjring atau terbangan Jawa yang ada di desa Petunjungan’ penulis paparkan antara yang mondial dan modern. Dengan demikian, pemahaman kontempalasi seni: disinterestedness ke religi sebagaimana judul penulisan menjadi tuntas.

1. Kesenian genjring atau terbangan Jawa (Mondial)

Keberadaan terbang Jawa atau terbangan Jawa di Desa Petunjungan tidak dapat diketahui secara pasti, mengingat beberapa informan pokok didalam penelitian ini sangat terbatas. Seluk beluk yang dapat penulis gali terkait dengan eksistensi terbang Jawa atau terbangan Jawa, diperoleh dari keturunan pertama pelaku seninya (yang dalam pemahaman dewasa ini dapat dikatakan sebagai ketua grup).

Diungkapkan bahwa eksistensi terbang Jawa atau terbangan Jawa  berlangsung pada saat PG. Banjaratma aktif berproduksi, yakni sekitar tahun 1950an. Pendasaran lain mengenai eksistensi terbang Jawa atau terbangan Jawa, juga dikuatkankan informan pada titik tolak masa kepemimpinan pemerintah Desa Petunjungan. Guna memperoleh gambaran secara spesifik, terkait dengan eksistensi dari terbang Jawa atau terbangan Jawa di Desa Petunjungan, berikut ini penulis lampirkan hasil wawancaranya:

Saya ingat betul bahwa keberadaan terbang Jawa atau terbangan Jawa berlangsung pada saat PG. Banjaratma beroperasi, sekitar tahun 1950. Untuk mencari kepastiannya, agak sulit pasalnya pada saat itu usia saya sekitar (kurang lebih 10 tahunan). Kenapa berkaitan dengan aktifitas PG. Banjaratma, karena mayoritas  para pelaku seninya merupakan pegawai dari Pabrik Gula tersebut, termasuk mendiang Alm. Bapak (Wujud) yang kebetulan bekerja sebagai Juru Tulis. Selain berpedoman pada aktifnya produktifitas dari PG. Banjaratma, keberadaan terbang Jawa atau terbangan Jawa yang Alm. Bapak Wujud motori adalah pada saat pemerintahan antara Lurah Mbah Sholeh  dan Lurah Mbah Dali. Kalau dari urutan tata kepemimpinan pemerintahan Desa, insyaAlloh saya hafal mulai dari Mbah Sholeh sampai sekarang. Dapat saya jelaskan nama-nama Lurah yang saya alami pernah memimpin Desa Petunjungan diantaranya: Mbah Soleh, Mbah Dali, Kartikeran (pejabat sementara), Sayuti, Khaer (2 kali massa Jabatan), Topari, Nurtauhid (2 periode), dan Slamet Tohani (yang memimpin sekarang). Dari Tarik ini, sekiranya saya dapat menjelaskan perkiraan periodenisasi keberadaan terbang Jawa atau terbangan Jawa di Desa Petunjungan ini”. (Bapak Cahyono)

Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat diterangkan bahwa, eksistensi terbang Jawa atau terbangan Jawa yang pernah hidup dan berkembang di Desa Petunjungan aktif pada saat PG. Banjaratma masih menjalankan mobilitasnya.

Kesenian terbang Jawa atau terbangan Jawa yang pernah tumbuh dan berkembang di Desa Petunjungan, dimainkan oleh 5 orang pemain diantaranya: 1 Pemain terbang induk, 1 Pemain terbang induk polos, 1 Pemain terbang pengiring, 1 Pemain terbang penengah, dan 1 Pemain terbang kempling.

Secara organologi masing-masing instrument musik pada kesenian terbang Jawa atau terbangan Jawa di Desa Petunjungan, diterangkan Bapak Cahyono, sebagai berikut: a. Terbang induk (terbuat dari kayu dengan bentuk menyerupai rebana, satu sisi berongga sementara pada sisi lainnya tertutup oleh kulit kambing, kerbau maupun sapi. Terbang induk memiliki ukuran berdiameter kurang lebih 60 cm, oleh karenanya terbang induk merupakan terbang terbesar di antara beberapa instrument yang ada, b. Terbang induk polos (terbuat dari kayu menyerupai instrument rebana, dimana satu sisinya berongga yang dimaksudkan sebagai pegangan pemain, sementara pada sisi lainnya tertutup membrane yang terbuat dari kulit kambing, kerbau maupun sapi. Terbang induk polos memiliki ukuran lebih kecil setingkat dari terbang induk, dengan diameter sekitar 45 cm), c. Terbang pengiring (terbuat dari kayu menyerupai rebana, dengan diameter ukuran kurang lebih 25-30 cm), d.  Terbang penengah (terbuat dari kayu, dengan ukuran instrument terbilang sedang. Diantara beberapa instrument lain yang ada dalam kesenian terbang Jawa atau terbangan Jawa, hanya terbang penengahlah yang memiliki bentuk lonjong), e. Terbang kempling (instrument ini terbuat dari kaya dengan bentuk menyerupai rebana.  Adapun dari segi ukurannya, terbang kempling memiliki ukuran terkecil diantara instrument-instrumen lain).

Terkait dengan eksistensinya, terbang Jawa atau terbangan Jawa yang dipimpin Alm. Bapak wujud, tidak memiliki spesifikasi yang jelas dalam memainkan instrumentnya. Artinya setiap pelaku seni dapat memainkan sembarang instrument, bergantung dari siapa yang datang terlebih dulu di rumah Alm. Bapak Wujud. Selain tidak memiliki spesifikasi tetap dalam memainkan alat, kesenian terbang Jawa atau terbang Jawa yang pernah hidup dan berkembang di Desa Petunjungan, juga tidak memiliki penyanyi.

Semua orang yang terlibat dalam memainkan instrument musik, secara bersama-sama menyanyikan lagu sholawat atau berzanji. Adapun lagu-lagu yang sering dinyanyikan adalah lagu-lagu sholawat, seperti: Sholawat Badar, Asshol dan ya Nabi salam alaika. Semua aktifitas yang melibatkan kesenian terbang Jawa atau terbang Jawa di desa Petunjungan, tidak dapat dikatakan sebagai proses latihan karena tidak ada jadwal yang mengikat secara formal.

Implementasi pelaksanaannya lebih pada ajang silaturahmi, bersantai, dan kepuasan pribadi dari pemain, karena tidak memiliki target pencapaian apapun setiap kali memainkan kesenian terbang Jawa atau terbangan Jawa. Pelaksanaan terbang Jawa atau terbangan Jawa dilakukan tanpa konsep, sehingga proses berkumpul dari semua anggota dapat dikatakan suatu hal yang kebetulan. Biasanya prosesi awal berkumpul, lebih dimanfaatkan sebagai ajang bersantai dan mengobrol (terkait rutinitas pekerjaan pabrik), jadi semacam keluh kesah, pesan maupun kesan sesama pekerja PG. Banjaratma. Proses interaksi itu kemudian di lanjutkan dengan wedhangan, yakni keluarga Almarhum Bapak Wujud selaku tuan rumah memberikan berbagai hidangan khas tradisional Brebesan pada waktu itu.

Setelah beberapa saat berinteraksi (mengobrol satu sama lain) dan wedhangan, baru dimulai permainan terbang Jawa atau terbangan Jawa dengan melantunkan lagu-lagu sholawat tanpa ada urutan yang pasti. Proses pemilihan lagu tergantung dari kesepakatan, dalam arti seingatnya para anggota saja, sehingga tidak ada istilah benar salah di dalam memainkannya.

Untuk memberikan gambaran otentik, berikut penulis lampirkan deskripsi hasil wawancara dengan informan yang kredibel, yakni Putra Alm. Bapak Wujud, sebagai berikut:

Kesenian terbang Jawa atau terbangan Jawa yang pernah hidup dan berkembang di Desa Petunjungan, tidak dapat dikatakan sebagai suatu grup. Sekurangnya ada 5 alasan, mengapa terbang Jawa atau terbangan Jawa di desa Petunjungan bukan sebuah grup, karena:  1. Tidak memiliki jadwal latihan yang khusus; 2. setiap kegiatan yang dijalankan tidak dapat dikatakan  sebagai proses latihan; 3.  tidak ada keanggotaan permanen dan tidak memiliki ketua; 4. tidak memiliki mekanisme dan teknik yang tetap; 5.  serta tidak memiliki tujuan praktis apapun dalam memainkannya. Lain pada itu kesenian terbang Jawa atau terbangan Jawa di desa Petunjungan bersifat tertutup, dimengerti secara internal (diantara masing-masing pemain, & keluarga Alm. Bapak Wujud). Ditegaskan oleh Bapak Cahyono, bahwa belum pernah sekalipun kesenian terbang Jawa atau terbangan Jawa tampil atau dipertontonkan langsung kepada hal layak ramai.

Atas dasar hasil wawancara diatas, bisa disimpulkan bahwa eksistensi kesenian terbang Jawa atau terbangan Jawa yang pernah hidup dan berkembang di Desa Petunjungan, hanya dimainkan dan dinikmati secara mandiri atau privat. Dari sini dapat dilumrahkan, bahwasanya eksistensi kesenian terbang Jawa atau terbang Jawa hanya sebatas lingkup para pemainnya.

Oleh karenanya, tatkala satu atau beberapa pemain kesenian terbang Jawa atau terbangan Jawa tidak eksis lagi (bisa karena sesuatu hal atau meninggal dunia), maka lambat laun berahir juga eksistensi kesenian itu.

Dengan berpijak pada pemaknaan yang mengikatkan diri  pada tujuan pemuasan, kenikmatan, dan kesenangan pribadi para pelaku seninya, tidak mengherankan bahwa seni ini begitu esklusif dalam tanda petik (“). Sifat kemandirian yang dimiliki kesenian terbang Jawa atau terbangan Jawa di Desa Petunjungan, dibarengi dengan ketertutupan yang inheren, sehingga menihilkan proses kaderisasi dalam hal pewarisan. Untuk lebih memberikan ilustrasi kepada pembaca, terkait pelaksanaan kesenian terbang Jawa atau terbang Jawa, dibawah penulis lampirkan hasil wawancara dengan sumber informan utama, sebagai berikut:

Selain mendeskripsikan prosesi pelaksanaan, akan lebih legitim jika penulis lampirkan hasil wawancara dengan sumber informan utama, Bapak Cahyono sebagai berikut:

Agar lebih memahami penjelasan saya nantinya, alangkah baiknya saya urutkan pelaksanaan terbang Jawa atau terbangan Jawa di Desa Petunjungan, dengan mengelompokannya menjadi beberapa bagian: Pertama, nama-nama sejumlah pemain atau pelaku kesenian terbang Jawa atau terbangan Jawa diantaranya: Alm. Bapak (Wujud), Alm. Sayan, Alm. Talib, Alm. Rajan, dan Alm. Karsa. Kedua, tempat dan waktu pelaksanaan rutin dirumah saya, yakni keluarga Alm. Bapak Wujud. Terkait dengan waktu pelaksanaannya, tidak ada pengkhususan tetapi seringnya dilakukan bertepatan pada malam Jum,at (dalam arti kata tidak rutin dilakukan setiap malam Jum,at). Ketiga, proses pelaksanaan kesenian terbang Jawa atau terbangan Jawa sendiri dilakukan setelah kurang lebih 1 jam (para pemain berinteraksi atau ngobrol), sambil wedhangan/nyamikan. Adapun beberapa sajian yang dihidangkan pada saat para pemain memulai obrolan, dan memainkan terbang Jawa atau terbangan Jawa biasanya: minuman (teh, kopi), makanan (talawengkar, dan hasil tanah seperti: ubi-ubian, angkrik, ganyong, kacang, dll), rokok (tembakau). Keempat, khusus terkait dengan permainan kesenian terbang Jawa atau terbangan Jawa, tidak ada standarisasi dalam urutan lagu yang dibawakan, tidak ada ketetapan memainkan instrument, tida ada ketentuan waktu mengahiri kegiatan, serta tidak ada target tujuan dari capaian latian. Kelima, instrument dimiliki secara pribadi oleh mendiang Alm. Bapak, sehingga setelah permainan selesai, instrument musik dikumpulkan dan disimpan dirumah saya. Pada hakikatnya dalam permainan kesenian terbang Jawa atau terbangan Jawa di Desa Petunjungan ini, tidak ada ketua atau pemimpin karena masing-masing setara, dan memerankan fungsinya dengan bebas tanpa ikatan apapun.

Dengan melihat penuturan Bapak Cahyono, dapat diterangkan bahwa kesenian terbang Jawa atau terbangan Jawa dikelola secara mandiri oleh tiap pemain, terutama Alm. Bapak Wujud. Lain Pada itu, dengan cukup meyakinkan Bapak Cahyono mengungkapkan beberapa fakta terkait kesenian kesenian terbang Jawa atau terbangan Jawa, sebagai berikut:

Bila ditilik dari tujuannya, memang semata-mata kepuasan pribadi dari masing-masing pemain terutama Alm. Bapak Wujud. Kecintaan dan kegemarannya terhadap kesenian terbang Jawa atau terbangan Jawa dipuaskan tidak hanya dengan mengorbankan waktu, tempat, dan finansial tetapi banyak hal. Terbang Jawa atau terbangan Jawa ini hanya dimainkan dirumah saya, sama sekali tidak pernah dipertunjukan ditempat lain, jadi tidak banyak orang yang tau tentang keberadaannya. Paling diketahui masing-masing pemain dengan keluarganya, dan dimungkinkan tetangga dekat rumah saya saja. Hingga saat ini tidak ada jejak yang tertinggal dari eksistensi terbang Jawa atau terbangan Jawa yang pernah hidup dan berkembang di Desa Petunjungan. Bahkan setelah Alm. Bapak Wujud meninggal sekitar tahun 1971an, saya pribadi tidak lagi melihat keberadaan dari satupun instrument musik yang pernah kami miliki.

2. Kesenian Banjari (pra modern)

Banjari merupakan salah satu jenis kesenian tradisional, yang serumpun dengan “terbang Jawa atau terbangan Jawa”. Dikatakan serumpun karena kesenian banjari memiliki banyak kesamaan dengan kesenian terbang jawa seperti, kesamaan intrumen (alat musik), teknik permainan, pola ritme, serta lagu yang dinyanyikan. Dengan dasar persamaan itu, bisa dikatakan bahwa eksistensi banjari di desa Petunjungan, menjadi menerus kesenian terbang jawa yang sempat punah. Secara organology kesenian banjari di desa Petunjungan terdiri dari 4 instrumen kencer, 1 bass jawa, dan 3 vokal. Adapun kekhasan serta nilai plus dari kesenian banjari, terletak pada teknik penguasaan vokalnya. Penekanan kualitas vocal sangat ditonjolkan dengan teknik bernyanyi solo para vokalis, karena isian iringan insturmen tidak diperlihatkan. Berbeda halnya dengan kesenian terbang jawa (terbangan jawa), hadroh, maupun gambus yang proses bernyanyinya dilakukan secara bersautan dan berkelompok.

Penguasaan teknik dalam keindahan olah vocal kesenian benjari, menurut Tarjono (pimpinan & Pembina grup) selain menjadi kekhasan dan nilai plus, juga menjadi tantangan tersendiri. Oleh karenaya proses belajar vocal yang ditempuh secara otodidak, menjadi factor utama penentu eksis tidaknya kesenian banjuri di desa Petunjungan.Untuk memberikan gambaran riil eksistensi kesenian banjuri di Desa Petunjungan, dibawah penulis lampirkan hasil wawancara informan utama, sebagai berikut:

Awam saya, kesenian banjari secara garis besar mirip dengan terbangan, hadroh, marawis, sholawatan atau gambus.  Persamaan itu dapat dilihat dari alat musik yang digunakan serta jenis lagu yang dinyanyikan, yakni bernafaskan keIslaman (sholawatan & berzanji). Untuk kesenian banjari sendiri terdiri dari 4 pemain kencer, 1 pemain bass jawa, dan 3 orang vocal. Pemain kencernya ada 4 orang diantaranya: Tohari, Buhori, Ade, Somail, pemain bass jawanya Tarsudi, serta 3 vokalnya: Tarjono, Abdul Fatah, dan Sayan. Bagi saya pribadi, tingkat kesulitan kesenian banjari terletak pada vokalnya. Berbeda dari cara bernyanyi hadroh maupun marawis, teknik banjari mengandalkan kemampuan full pada vocal, seperti (roll). Dalam kesenian banjari, setiap vokalis dituntut dapat menyanyikan lagu sholawatan secara solo, sehingga kesalahan teknis maupun suara fals sangat terlihat dengan jelas. Disisi lain, fungsi instrument musik seperti kencer dan bass jawa tidak dimainkan secara power full, seperti halnya pada kesenian hadroh maupun marawis. Oleh karena itu secara jujur kami akui, kesulitan serta kelangkaan untuk menemukan vocal yang cocok, menjadi salah satu alasan grub banjari bubar. Maklum saja, selain kami belajar musik tradisional banjari secara otodidak, peralatan yang gunakan juga hasil dari menyewa. (Tarjono, pimpinan& Pembina).

Selain memberikan gambaran organology kesenian banjari, Tarjono juga menerangkan dengan detail Sejarah perkembangan banjaran di Desa Petunjungan, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes.

Kesenian banjari pada hakikatnya lahir dari suatu organisasi keagamaan. Keberadaan kesenian banjari di desa Petunjungan, datang dari keresahan disuatu majlis “Ta, lim Miftahul Huda”. Kurleb pada tahun 2010-an, muncul kecemasan dibenak saya, Ustad Abdul Fatah, dan teman majlis pada umumnya. Kami prihatin melihat generasi muda (yang notabene tinggal disekitar majlis), enggan datang untuk mengaji. Banyak diantara mereka lebih suka menghabiskan waktu selepas solat Isha, dengan bermain gitar sambil nongkrong digang-gang kampung. Dari kekhawatiran itu, Ustad Abdul Fatah memiliki ide melalui musik, untuk menarik pemuda maupun anak-anak agar datang ke majlis dan mengaji. Berdasarkan hasil kesepakatan, kami memutuskan untuk menyewa secara mandiri seperangkat alat musik kencer, dan bass jawa. Oleh karena itu, saya pribadi optimis bahwa eksistensi kesenian banjari di Desa Petunjungan, demi kepentingan dakwah dan syiar. Meskipun dalam perkembangannya, seperti yang saya terangkan bahwa kesenian banjari pada ahirnya redup dan tenggelam. Demi kepentingan dakwah dan syiar yang terbatas itu, kegiatan kesenian banjari hanya dimainkan di majlis “Ta, lim Miftahul Huda” saja, dan belum sama sekali ditampilkan diluar. Mungkin hal itu juga menjadi salah satu factor lain, redup dan tenggelamnya kesenian banjari di Petunjungan. (Tarjono, Pemimpin & Pembina)

Berdasarkan hasil wawancara diatas, dapat disimpulkan bahwa eksistensi kesenian banjari di desa petunjungan, berorientasi pada tujuan dakwah dan syiar. Dalam kontek penulisan “Kontemplasi Seni: Disinterestedness Ke Religi, kesenian banjari menihilkan kepentingan seni itu sendiri, melainkan kepentingan religi.

Namun demikian (“), penulis melonggarkan diskursus antara persoalan disinterestedness dan religi pada kesenian banjari. Dalam artian, secara apriori penulis meyakini kepentingan praktis kesenian banjari, lebih diberorientasi pada pemfungsiannya yang luhur, yakni dakwah dan syiar. Disisi lain pengorbanan waktu serta keikhlasan  (Tarjono, Ustad Abdul Fatah, dan teman-teman), melatih dan menyewa instrument secara mandiri, jelas tidak memiliki kepentingan pragmatis. Bahkan sangat terbuka kemungkinan, dari sisi subjektifitas Tarjono maupun Ustad Abdul Fatah, bahwa kesenian banjari merepresentasikan keillahian, karena dapat meningkatkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan.

3. Kesenian Hadroh Al- Mufid (Modern)

Bila ditelusuri dari kelahiran dan eksistensinya, Hadroh Al-Mufid merupakan penerus dari kesenian Banjari yang pernah hidup dan berkembang di desa Petunjungan. Hadroh Al-Mufid pada hakikatnya adalah kegiatan kesenian dari sejumlah pemuda majlis “Ta, lim Miftahul Huda”. Seperti halnya banjari, maka orientasi pertama kesenian Hadroh Al-Mufid juga berorientasi pada capaian nilai-nilai religious.

Berbekal dari kesenian banjari, Tarjono dan Ustad Abdul Fatah mengelola dan mengkonsep Hadroh Al-Mufid secara profisional. Dengan menggandeng ormas Ansor, Tarjono dan Ustad Abdul Fatah berhasil mentransformasikan Hadroh Al- Mufid jauh lebih modern. Bentuk transformasi modern Hadroh Al- Mufid sekurangnya dapat diterangkan dari berbagai hal, diantaranya: penambahan instrument serta manajerial pertunjukan. Tarjono menerangkan bahwa instrument yang dipakai pada kesenian Hadroh Al-Mufid seperti: 4 buah kencer, 1 tung, 2 keprek, 1 tamborin, 1 darbuka, 1 bass tik, 1 bass Jawa, keyboard, dan 6 orang penyanyi.

Sedangkan transformasi dari segi manajerial pertunjukan meliputi, memiliki waktu latihan rutin, memiliki costum, sound, instrument, dan bentuk struktur pertunjukan yang lebih variatife. Keseriusan dan kerja keras Tarjono dan Ustad Abdul Fatah dalam mengelola Hadroh Al- Mufid, bahkan memperoleh apresiasi dan legitimasi tidak hanya dari perangkat desa Petunjungan tetapi juga seluruh warga masyarakatnya. Dengan progresifitas dan perkembangan yang sangat pesat, Hadroh Al- Mufid mulai diajarkan di sekolah formal seperti TPQ dan MI. Berdasarkan hasil wawancara dengan Tarjono diterangkan bahwa, di desa Petunjungan memiliki 3 grup Al- mufid diantaranya: Al- Mufid senior, Al- Mufid Junior, dan Al- Mufidah. Al- Mufid senior dimotori oleh Tarjono, Ustad Abdul Fatah (sejumlah jamaah Ta, lim Miftahul Huda), dan (anggota Ansor) yang berjumlah 17 orang dewasa. Untuk Al- Mufid junior terdiri dari siswa-siswi TPQ, siswa kelas 4-6 MI, serta anak-anak yang aktif dengan kegiatan keagamaan lainnya. Sementara untuk Hadroh Al- Mufidah, dimainkan oleh 17 orang yang semuanya Perempuan. Untuk memberikan gambaran spesifik kesenian Hadroh Al- Mufid, dibawah penulis lampirkan hasil wawancara dengan Tarjono sebagai berikut:   

Sejatinya keberadaan Hadroh Al- Mufid tidak dapat diklaim, seperti halnya kesenian banjari. Keberadaan dHadroh Al- Mufid di desa Petunjungan lahir, dari percampuran pemuda majlis Ta, lim Miftahul Huda dan Ansor. Kalau ditanya detail tahun berdirinya, Hadroh Al- Mufid lahir sekitaran tahun 2015 ahir. Berbeda dari kesenian banjari yang sudah saya terangkan sebelumnya, Hadroh Al- Mufid kami kelola lebih serius. Bukti keseriusan Hadroh Al- Mufid sendiri bahkan bis akita lihat dari berbagai hal, termasuk penampilannya yang lebih serius. Dengan singkat mau saya terangkan bahwa Al- Mufid sudah memiliki instrument musik, sound, dan kostum sendiri. Bahkan untuk tampilannya dipanggung, kami menambahkan beberapa alat modern seperti keybord dan tamborin. Selain memiliki waktu latihan dan tempat pertunjukan rutin, Al- Mufid juga sering membawakan lagu-lagu konfensional yang lagi hits. Untuk latihan rutin kami adakan di majlis setiap malam Rabu, sementara waktu mainnya rutin mingguan (malam Ahad), dan main rutin bulanan  dikegiatan, Jamiah Budah Pemuda Indonesia (BPI). Perlu dicatat bahwa Hadroh Al- Mufid di desa Petunjungan mempunyai regenerasi, oleh karenanya kami memiliki 3 grup diantarnya: Al- Mufid senior, Al-Mufid Junior, dan Al- Mufidah (pemainnya semua estri). Puji Syukur dan Alhamdullilah sekali Al- Mufid dapat diterima oleh warga Masyarakat desa Petunjungan pada umumnya. Apresisasi itu dapat tercermin dari tampilnya Hadroh Al- Mufid pada sambutan-sambutan pengajian di desa, hajatan (pernikahan/ khitanan), bahkan pernah tampil pada festival hadroh. Hadroh Al- Mufid desa Petunjungan juga pernah tampil di Tegal, dengan memperoleh juara pada festival hadroh ditingkat Kabupaten. Apabila diukur dari sudut pencapaiannya, maka apresiasi yang diberikan oleh warga sangat cukup, bahkan diluar ekpetasi saya pribadi. Hal itu dapat tercermin dari support yang diberikan (orang tua) pada anggota Al- Mufid junior. Mereka dengan penuh keikhlasan dan kesadaran memberikan fasilitas pribadi seperti, melakukan iuran untuk membeli peralatan dan kostum. (Tarjono, Pemimpin & Pembina).

Setelah menganalisa hasil wawancara diatas bisa disimpulkan, transformasi Hadroh Al- Mufis dewasa ini, telah sampai pada perkembangan yang signifikan. Upaya mentranformasikan struktur bentuk pertunjukan Hadroh Al- Mufid, diakui Tarjono memberi kebaruan yang cukup segar. Dengan mengelaborasikan beberapa lagu modern dan sholawat, kesenian Hadroh Al- Mufid dapat dinikmati dan diterima oleh seluruh lapisan masyarakat. Kehadiran instrument modern seperti kyboard, pada gilirannya dapat memperkaya komposisi lagu dengan tidak menghilangkan kekhasan nuansa Islaminya yang kuat.

Cakrawala peraduan gerak yang diperindah dengan harmoni costum nan elok, terbukti dapat menghipnotis pandangan masyarakat ditengah hiruk pikuk, persaingan kesenian-kesenian modern yang ada. Bahkan semakin banyaknya lagu bertema religius yang hits, tanpa disadari turut serta mempopulerkan eksistensi Hadroh Al- Mufid desa Petunjungan. Pasalnya seraya marakanya lagu religius dipasaran, semakin padat juga jadwal manggung Hadroh Al- Mufid. Bahkan dibeberapa kesempatan, pengurus Hadroh Al- Mufid menolak tawaran untuk manggung, karena berbenturan dengan jadwal main diacara lain. Tarjono mengungkapkan bahwa “ahir-ahir ini, banyak warga masyarakat menanggap Hadroh Al- Mufid untuk meramaikan hajatan mereka seperti, khitanan/ pernikahan. Secara lengkap Tarjono menerangkan pada wawancara, sebagai berikut:

Seiring berkembangnya Hadroh Al- Mufid, kami beserta pengurus mencoba memadukan kesenian ini dengan melibatkan 3 desa diantaranya: Petunjungan, Dukuhringin, dan Tegalglagah. Alhasil dampak dari elaborasi menambah seramak grup, terutama pada menajemen pertunjukannya. Kalau saya tidak keliru / tahun 2019, pertunjukan Hadroh Al- Mufid dirancang menjadi 3 sesi diantaranya: pertunjukan Hadroh murni sebagai pembuka, pertunjukan banjari dengan lagu-lagu klasik Islami ditengah pertunjukan, dan gambus (inti) sekaligus penutup pertunjukan. Serangkaian pentas Hadroh Al- Mufid pada hakikatnya saat menampilkan gambusan, karena seluruh pemain, seluruh instrument, dengan aneka lagu-lagu baik sholawat maupun popular dibawakan. Secara keseluruhan durasi tampil Hadroh Al- Mufid, sekitar 2 sampai 3 jam lamanya. Semakin meluas dan dikenalnya Hadroh Al- Mufid, beberapa anggota mengusulkan untuk memberikan tarif pada setiap pertunjukannya. Atas dasar usulan itu, tidak dipungkiri bahwa tarif Hadroh Al- Mufid junior setiap kali nampil di desa Petunjungan diberikan upah sebesar 500 ribu rupiah, sementara Hadroh Al- Mufid senior diberikan upah 1.000.000 rupiah. Akan jauh lebih mahal tarifnya jika Hadroh Al- Mufid main diluar desa Petunjungan, mengingat ada penambahan transport, konsumsi dll. Semakin banyaknya tawaran untuk main, ditambah lagi dengan banyaknya kemunculan grup Hadroh, tidak jarang anggota membanding-bandingkan tarif manggungnya. Lebih dari itu, bahkan ada beberapa anggota grup yang menyampaikan secara langsung untuk menaikan tarif disetiap pertunjukannya. Saya menyadari bahwa semakin banyaknya desa yang terlibat, maka semakin besar pula informasi yang didengar oleh setiap anggota. Oleh karena itu / tahun 2019, menurut hemat saya pribadi, kesenian Hadroh Al- Mufid tidak dapat diklaim milik desa Petunjungan, mengingat keterlibatan 2 desa lainnya, seperti: Dukuhringin dan Tegalglagah. Melihat perkembangan Hadroh Al- Mufid yang begitu cepat, saya merasa senang dan bangga disatu sisi, tetapi ada kekhawatiran disisi lainnya. Pasalnya setelah saya amati orientasi yang pada awalnya berfocus pada syiar dan dakwah Islam, agaknya mulai bergeser pada hiburan dan nilai-nilai lain (“). Ketakutan saya terbesar dan mungkin juga dialami oleh Ustad Abdul Fatih, adalah adanya pergeseran orientasi pragmatis pada masing-masing anggota. (Tarjono, Pemimpin & Pembina).

Dilihat dari transformasi dan paradigma perkembangannya, penulis memberikan dua kesimpulan diantaranya: pertama, eksistensi kesenian Hadroh Al-Mufid bagi Para senior (Tarjono dan Ustad Abdul Fatah) tetap berorientasi pada nilai religius, karena bersandar pada nilai keluhuran, terutama fungsi syiar dan dakwah Islam.

Kedua, sejalan dengan adanya regenerasi, dinamika serta perkembangannya, Hadroh Al- Mufid mengalami pergeseran orientasi pragmatis (“). Adanya sistem penarifan pada saat pertunjukan, secara tidak langsung menolak konsep Disinterestedness (yakni seni demi seni), tetapi jelas berorientasi pada kepentingan-kepentingan diluar seni itu sendiri. Dalam kontek ini, eksistensi Hadroh Al- Mufid syarat akan kepentingan, terlepas atas kepentingan religius maupun kepentingan-kepentingan lain yang bersifat praktis dan pragmatis. (**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts