Palembang, Sumselupdate.com – Beberapa minggu terakhir musim layang-layang telah tiba. Anak-anak di penjuru Kota Palembang terlihat ramai memainkan layang – layang. Tak heran jika kini toko penjual permainan rakyat ini pun dibanjiri pembeli. Untung yang didapat penjual juga lumayan besar.
Berkah ini seperti dialami Encik (51), wanita penjual layang-layang dan peralatan lain pendukungnya dengan memanfaatkan petak toko berukuran 3×3 meter di Jalan Slamet Riyadi, tidak jauh dari Pasar Kuto Palembang. Dia mengaku saat ini sedang ramai-ramainya musim layangan.
“Iya, lagi musim-musimnya. Dari penjualan layangan, tali gelasan, senar dan alat gulung masuklah omset sehari satu juta. Kalau layang- layang yang terjual sehari itu rata-rata bisa sampai lima ratus buah”, ujar Encik di tengah kesibukannya melayani ramainya pembeli baik dari kalangan anak-anak, dewasa bahkan orang tua kepada Sumselupdate.com, Minggu (8 /1) sore.
Encik pun mengaku, stok layangan di tokonya mayoritas dipasok oleh perajin di Kota Palembang. Kalau peralatan lain seperti tali gelasan dan senar, lanjutnya, dikirim dari Bandung.
Sementara itu, soal tokonya yang ramai didatangi pembeli, Encik mengaku tidak ada promosi khusus. “Mungkin mereka tahu dari mulut ke mulut. Mungkin juga di toko saya harganya lebih murah ya. Bila beli satuan ada yang harganya Rp 1000, Rp 1200,dan Rp 1500 tergantung kualitas. Kalau beli kodian tentu lebih murah. Di sini saya hanya ambil untung sekitar dua puluh persen dari modal,” ujarnya.
Ramainya pembeli layang-layang juga dialami oleh warung-warung di perumahan warga. Salah satunya warung manisan Bu Rusti (40) yang terletak di sekitar Jalan Soak Simpur, Palembang.
“Lumayan ramai. Anak-anak tiap hari pasti ada yang beli layang-layang di sini. Mungkin karena lagi musim ya. Sekitar dua puluh buah layangan terjual per harinya di sini. Saya cuma ambil untung Rp 500 per buah’, kata Rusti .
Soal ramainya musim layang-layang memang terlihat dari banyaknya anak-anak yang menerbangkan layangan, terutama saat sore hari. Di salah satu kompleks perumahan di Jalan Sukabangun 2 misalnya, banyak anak ataupun orang dewasa yang terlihat asyik memainkannya, baik sekedar untuk hiburan atau beradu layangan (puritan).
“Main cuma sore Om, dari jam tiga sampai jam lima, habis pulang sekolah. Saya senang main layangan untuk hiburan,“ ujar Faiz Ramadhan (9), pada Minggu sore.
Faiz pun mengaku sering beli layang-layang di warung di sekitar tempat tinggalnya. Terkadang juga dia minta dibelikan lewat orang tuanya di pasar tradisional karena mau beli dalam jumlah banyak untuk dijual kembali kepada teman-temannya. (shn)











