Memberi ‘Pintu’ dan Menebar Manfaat, Ekonomi Masyarakat Tangguh di Tengah Pandemi

Kumbung budidaya Jamur Merang di Desa Lais, Kecamatan Lais, Kabupaten Muba hasil binaan PT Medco E&P.

Pandemi Covid-19 yang melanda hampir seluruh dunia membuat dunia bisnis terpukul dan perekonomian goyah. Tak terkecuali di Indonesia. Di tengah situasi serba sulit industri hulu migas hadir. Kontribusinya dalam program pemberdayaan benar-benar dirasakan manfaatnya. Produktivitas usaha meningkat dan ekonomi masyarakat tangguh meski diterpa pandemi Covid-19.

Laporan: Edwar Heryadi

Bacaan Lainnya

“PT Medco cuma memberikan pintu kepada kami. Tapi ketika pintu itu saya buka, saya masuk ke dalamnya alangkah banyaknya ilmu-ilmu lain yang bisa saya serap. Terima kasih untuk PT Medco ilmunya sangat bermanfaat untuk kami, keluarga, dan khususnya bagi masyarakat,”

Demikian penggalan kalimat tulus keluar dari bibir seorang Farida Rosdiana, Penggerak Obat Herbal di Desa Tabuan Asri, Kecamatan Pulau Rimau, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).

Farida Rosdiana, merupakan satu dari sekian warga yang merasakan manfaat Program Pengembangan Masyarakat (PPM) yang digulirkan PT Medco E&P Indonesia di wilayah kerja perusahaan khususnya di Provinsi Sumsel.

Farida Rosdiana, Penggerak Obat Herbal di Desa Tabuan Asri, Kecamatan Pulau Rimau, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).

Wanita yang dipercaya warga sebagai Kepala Desa Tabuan Asri mengaku dulu sebelum mengenal tanaman obat, dia hanya seorang ibu rumah tangga biasa, tidak bekerja, dan hanya mengurus rumah saja.

Seiringan berjalannya waktu dan setelah ada pembinaan dan pendampingan dari PT Medco E&P, ekonomi keluarga Farida Rosdiana dan masyarakat Desa Tabuan Asri mengalami peningkatan.

“Alhamdulilah di Desa Tabuan Asri mendapatkan pelatihan dari PT Medco untuk pengenalan obat herbal. Di desa kami ini ada namanya Kelompok Wanita Tani (KWT) Srikandi Asri yang mendapatkan bantuan dari PT Medco berupa rumah produksi obat herbal dan sampai sekarang rumah produksi itu masih kami pergunakan. Dan alhamdulilah setelah mengetahui khasiat dari produk herbal, masyarakat sudah banyak menggunakan herbal,” tutur Farida Rosdiana.

Ungkapan terima kasih terhadap PT Medco E&P dikemukakan juga Ahmadi, petani karet di Desa Lais Utara, Kecamatan Lais, Kabupaten Muba.

Pendampingan dan pembinaan PT Medco E&P untuk untuk membekukan getah karet dengan metode asap cair sangat membantu petani di Desa Lais Utara.

Metode asap cair selain dikenal ramah lingkungan, juga harganya lebih terjangkau, dan bisa dibuat sendiri oleh petani.

Menurut Ahmadi, dengan asap cair ini penghasilan petani meningkat. Sebab lebih menguntungkan dan aman dari sisi kesehatan ketimbang dengan asam sulfat atau cairan cuka para.

“Kalau selama ini menggunakan dari cuka para yang tidak pernah kami pelajari sangat berbahaya untuk kesehatan secara tidak langsung. Tapi kalau asap cair ini yang jelas alami dan tidak berbahaya bagi kesehatan,” ujar Ahmadi.

Ahmadi, petani karet di Desa Lais Utara, Kecamatan Lais, Kabupaten Muba.

Selain metode asap cair, PPM PT Medco E&P juga membantu petani karet untuk dapat menggunakan pupuk karet dan padi organik.

Metode ramah lingkungan ini manfaatnya sudah dirasakan dan dikembangkan oleh Winardi Riyatno, petani karet organik di Desa Trijaya, Kecamatan Bulang Tengah Suku Ulu, Kabupaten Musirawas (Mura).

Sementara padi SRI Organik dikembangkan oleh Srihadi, petani di Desa Trijaya, Kecamatan Bulang Tengah Suku Ulu, Kabupaten Mura.

Winardi Riyatno mengikuti pendampingan PT Medco E&P melalui program pemberdayaan petani khususnya tanaman karet.

Dikatakan Winardi, saat ini sudah bisa membuat pupuk mikro organik lokal dengan bahan-bahan alami dan tidak lagi ketergantungan dengan pupuk kimia.

Keunggulan dari pupuk karet organik ini, menurutnya, selain hasil getah karet menjadi lembut, juga hasil getah atau latex meningkat, dan struktur tanah lebih sehat.

“Tadinya cacing-cacing tidak ada, setelah kita perlakukan dengan pupuk organik sekarang cacing kembali hidup di tanah. Menurut kami kalau tanahnya sehat, apapun tumbuhan yang di atasnya termasuk karet yang kita budidayakan ikut sehat. Harapan saya budidaya karet organik ini terus berkelanjutan sehingga bisa meningkatkan ekonomi masyarakat khususnya di bidang perkebunan karet,” harap Winardi Riyatno.

Rasa bahagia dirasakan Srihadi, petani SRI Organik di Desa Trijaya, Kecamatan Bulang Tengah Suku Ulu, Kabupaten Mura, Sumsel.

Kelompok Tani Mekar Sari yang diikutinya mulai memakai padi SRI Organik pada 2016, terjadi peningkatan dari hasil panen.

Kalau dulu hasil panen berkisar dua sampai tiga ton per hektarnya, sekarang meningkat menjadi enam hingga tujuh ton dalam satu hektarnya.

“Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya karena PT Medco E&P memberikan pemberdayaan kepada kami sehingga kami dahulunya tidak tahu menjadi tahu, dan dahulunya belum bisa menjadi bisa. Jadi kalau bisa berhasil maka mungkin kawan-kawan yang memakai pupuk konvensional mengikuti untuk menggunakan pupuk organik,” ucap Srihadi.

Srihadi, petani di Desa Trijaya, Kecamatan Bulang Tengah Suku Ulu, Kabupaten Mura.

Bantuan pendampingan dan pembinaan dari PT Medco E&P dirasakan Yeni Lusmita, Ketua Kelompok Toga  (Tanaman Obat Keluarga) Kenanga di Desa Gajah Mati, Kecamatan Babat Supat, Kabupaten Muba, Provinsi Sumsel.

Anggota Kelompok Wanita Tani Herbal yang berdiri tahun 2012 difokuskan sebagai tempat pelatihan, pemberian, dan pencontohan kurang lebih 200 jenis tanaman, diberikan pelatihan.

Yeni Lusmita mengatakan, untuk pelatihan pertama mereka diajak Jogyakarta guna mengenal jenis-jenis tanaman dan cara mengelolanya.

“Pelatihan kedua kami diajak ke Jakarta. Sekolah yang benar-benar kami inginkan dan benar-benar kami terima hasilnya sampai sekarang ini buat masyarakat banyak yaitu di Karya Sari. Dan alhamdulillah hasilnya sangat baik buat kami dan keluarga dan buat masyarakat banyak,” ujarnya.

Setelah mengikuti berbagai pelatihan, Yeni Lusmita mengaku, produksi obat herbal yang dihasilkan dari Kelompok Toga Kenanga meningkat.

Dalam satu bulan Kelompok Toga Kenanga bisa menghabiskan 15 kilogram jahe dan 100 atau 200 butir kelapa untuk produk obat herbal, seperti Jahe Hebat, VCO, dan lainnya.

Senada dirasakan Tina, petani Tanaman Obat Keluarga dari Sukoharjo SP2, Kecamatan Kikim Timur, Kabupaten Lahat.

Dengan adanya Program Pemberdayaan Masyarakat PT Medco E&P, sebanyak 54 anggota kelompok perempuan di Desa Sukoharjo SP2 saat ini sudah tahu cara pengolahannya dan cara merawat 20 jenis tanaman obat yang mereka miliki.

“Alhamdullilah panen tanaman obat bagus. Program pemberdayaan PT Medco E&P berkelanjutan membangun kelompok perempuan di Desa Sukoharjo sehingga mendorong peningkatan ekonomi masyarakat serta kualitas sumber daya menusia,” ujarnya.

Manfaat PPM PT Medco E&P juga dirasakan masyarakat Desa Lais, Kecamatan Lais, Kabupaten Muba yang membudidayakan jamur merang.

Penyuluh Budidaya Jamur Merang di Desa Lais, Darwin mengatakan, sejak PT Medco E&P melakukan pendampingan, ekonomi masyarakat meningkat.

“Kami mengusulkan ke PT Medco untuk dibantu dalam rangka pembudiayaan jamur merang. Alhamdulillah ada tanggapan sehingga kami dapat mengerjakan budidaya jamur merang di Desa Lais, Kecamatan Lais ini,” kata Darwin.

Menurut Darwin, dari empat kumbung (rumah untuk jamur –red) ini dalam satu periode tanam bisa menghasilkan 600 kilogram.

Untuk masalah pemasaran, menurut Darwin, tidak ada kendala. Pihak suplier yakni agen-agen di Kota Sekayu mengambil sendiri ke tempat mereka, berapa pun jumlah produksi yang mereka hasilkan.

“Setelah adanya budidaya jamur merang ini maka masyarakat di Desa Lais ini berkeinginan untuk membudidayakan jamur merang ini. Karena dari pengalaman-pengalaman yang sudah kami lakukan, antusias masyarakat terhadap budidaya jamur merang sangat besar,” tutur Darwin.

Bustam, peternak madu di Dusun Banding Ayu, Desa Aurduri, Kecamatan Rambang Dangku, Kabupaten Muaraenim.

Produksi Madu Meningkat

Program Pengembangan Masyarakat (PPM) PT Medco E&P tak membatasi dan berbagai jenis usaha masyarakat dibina dan dikembangkan.

Di Kabupaten Muaraenim dan Musirawas (Mura) contohnya. Dua petani di sana ikut merasakan dampak positif dari program dijalankan perusahaan yang bergerak di bidang minyak dan gas itu.

Seperti diungkapkan Bustam, peternak madu di Dusun Banding Ayu, Desa Aurduri, Kecamatan Rambang Dangku, Kabupaten Muaraenim.

Bustam mengaku memulai menjadi peternak madu tahun 2001. Pada saat itu, dia memulai mengelola madu belum begitu menghasilkan.

Akan tetapi tahun 2016 sejak dibina PT Medco E&P usaha ternak madunya sampai sekarang maju. Saat ini produksi madu dari kelompok budidaya lebah menghasilkan hampir 600 kilogram.

Berangkat dari itu, dia berharap pembinaan ini terus berlanjut, terlebih lagi selama ini bantuan dari PT Medco sudah banyak sekali mereka terima.

Sekretaris Kelompok Karya Maju Bersama yang merupakan Binaan PT Medco E&P Lematang, Suryadin mengaku, seluruh anggota diajari segala hal oleh pendamping dari PT Medco mulai dari budidaya hingga administratif.

Pendampingan dan pembinaan PT Medco E&P juga dirasakan Widodo, petani Lebah Madu Hutan di Desa Trijaya, Kecamatan Bulang Tengah Suku Ulu, Kabupaten Mura, Sumsel.

Kalau dulu hasil madu hutan dalam sebulannya 100-115 kilogram. Setelah ada pembudidayaan avicerenna ini produksi madu hutan bisa mencapai 150-160 kilogram sebulan.

Bantu Peternak Lele dan Penjahit

Pendampingan juga dilakukan PT Medco E&P terhadap peternak Lele. Salah satunya dikembangkan oleh Ketua Kelompok Karya Sejati di Desa Aur Duri, Kecamatan Rambang Dangku, Kabupaten Muaraenim, Ardiansyah yang beternak lele Sangkuriang Mutiara.

Ardiansyah mengatakan, bantuan dari PT Medco E&P dalam bentuk pakan dan bibit. Untuk memberikan pengetahuan terhadap peternak, diadakan pertemuan seminggu sekali.

Dalam pertemuan rutin itu, pendamping dari PT Medco E&P mengajarkan kepada peternak bagaimana cara memberi vitamin dan obat biar bibit ikan lele tidak banyak mati.

“Kalau kita tidak tahu bagaimana beternak lele, otomatis beli seribu bibit lele hanya hidup 100 lele saja. Tapi setelah adanya binaan dari PT Medco ini, kami beli seribu bibit ikan lele yang mati hanya sepuluh persen saja,” katanya.

Di kelompoknya ada tujuh yang aktif. Menurutnya dari enam kolam ikan yang dikelolanya sudah memakai pakan alternatif organik.

Pakan alternatif organik ini, selain ramah lingkungan juga bisa menekan biaya produksi. Ini berbeda jika memakai pur atau pellet.

Pola pembinaan juga dilakukan PT Medco E&P terhadap penjahit. Seperti dilakukan Susanti Ria, Ketua Kelompok Penjahit Sandi Busana di Desa Lima Dukuh, Desa Bangun Sari, Kecamatan Gunung Megang, Kabupaten Muaraenim.

Sebelum mendapatkan pembinaan PT Medco E&P, Susanti Ria mengaku, hanya bisa menjahit saja, namun belum bisa membuat pola. Namun setelah mendapatkan pelatihan secara bertahap, saat ini Susanti Ria sudah bisa membuat baju.

Susanti Ria mengatakan, pelatihan singkat yang diadakan PT Medco di Desa Bangun dimulai pada tahun 2016.

Kemudian tahun 2017 digelar pelatihan tingkat dasar selama 52 hari dan 2018 digelar pelatihan tingkat mahir.

“Alhamdullilah setelah mengikuti pelatihan tingkat mahir saat sudah bisa membuat baju seragam, gamis, jas, dan baju anak-anak. Harapannya kepada PT Medco dan pemerintah desa terus mensuport sehingga lebih baik dan maju lagi,” harapnya.

Officer Community Relation & Enhancement Medco E&P Indonesia South Sumatra Region, Robby Wijaya.

Menjunjung Kearifan Lokal

PT Medco E&P Indonesia yang merupakan anak perusahaan PT Medco Energi Internasional Tbk sejak tahun 1980 berkomitmen menyediakan energi untuk masyarakat.

Namun perusahaan eksplrorasi dan produksi yang bergerak di bidang hulu minyak dan gas (migas) ini memiliki komitmen tinggi berkontribusi pada pembangunan positif masyarakat lokal.

Officer Community Relation & Enhancement Medco E&P Indonesia South Sumatra Region, Robby Wijaya dalam webinar ‘Komitmen Menjaga Ketahanan Energi Saat Pandemi’ yang digelar, Senin (14/12/2020), mengatakan, keberadaan perusahaan migas menjadi harapan masyarakat di sekitarnya.

Dalam berinvestasi, PT Medco E&P mengedepankan peningkatan mata pencarian masyarakat dan lingkungan untuk jangka panjang.

“Pembangunan masyarakat ini kami disesuaikan dengan kearifan lokal, sumberdaya alam, sumberdaya manusia, integratif dengan pemerintah atau instansi lain, dan terlaksana secara sistemik,” katanya.

Dikatakannya, PT Medco E&P sudah mendesain sesuai kebutuhan operasi di mana disediakan satu departemen khusus untuk memastikan keberadaan perusahaan membawa manfaat bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi perusahaan.

Beberapa Program Pengembangan Masyarakat (PPM) PT Medco E&P yang sudah berjalan, seperti budidaya jamur merang (bumerang), budidaya madu hutan dan kelulut.

Untuk budidaya jamur merang sejak tahun 2017 mulai dikembangkan di Desa Lais, Kecamatan Lais, Kabupaten Muba.

Dikembangkannya budidaya jamur merang melihat banyaknya kebun sawit dan melimpahnya tandan kosong sawit serta banyaknya permintaan jamur merang.

Hasil dari kerja sama perusahaan dan masyarakat setempat, satu kumbung mampu memproduksi 200 kilogram per bulan dengan pendapatan kurang lebih Rp4 juta per bulannya.

Program lain mengembangkan produksi madu hutan. Program ini dikonsep karena banyaknya penebangan pohon di hutan secara liar, banyak warga membuka kebun dengan cara membakar, dan madu hutan atau kelulut memiliki nilai jual tinggi serta sangat bermanfaat untuk kesehatan.

Sejak dilakukan pembinaan terhadap petani setempat, terjadi peningkatan panen madu hutan. Di mana saat ini panen bisa dilakukan dua kali sebulan dengan menghasilkan madu 90-100 kilogram per bulan.

Meningkatnya produksi madu hutan ini tentunya berimbas terhadap peningkatan penghasilan, di mana per anggota kelompok bisa menghasilkan Rp3 juta-Rp4 juta dalam satu bulannya.

Berlatar belakang Provinsi Sumsel terkenal dengan perkebunan karet dan mayoritas masyarakat di wilayah kerja PT Medco E&P, petani karet, maka perusahaan memiliki program budidaya karet organik.

Program ini mampu meningkatkan 40 persen produksi karet bagi petani-petani di wilayah kerja PT Medco E&P.

Robby Wijaya mengungkapkan program budidaya karet organik ini sudah dilaksanakan di 15 desa dengan melibatkan 265 petani dengan luas lahan 312 hektar.

Budidaya karet organik ini dikembangkan dengan bekerja sama dengan pemerintah melalui program Inovasi Desa Tepat Guna.

“Kami melakukan pelatihan dan pengembangan usaha asap cair pembeku getah karet. Asap cair ini hasil destilasi atau penyulingan dari pembakaran batok kelapa. Selama ini petani menggunakan asam sulfat atau cuka para yang sangat berbahaya dan berisiko bagi petaninya sendiri, sehingga dengan asap cair maka petani lebih aman dan lingkungan lebih baik,” tutur Robby Wijaya.

Membangun Komunitas Lain

Selain melakukan Program Pengembangan Masyarakat, PT Medco E&P membangun komunitas lain selain petani-petani di sekitar wilayah kerja perusahaan.

Sudah ada empat institusi baru dan 20 orang pendamping lokal yang direkrut sebagai mitra perusahaan untuk penyebaran program pemberdayaan. Sejak tahun 2018 sudah 80 persen fasilitator pemberdayaan perusahaan berasal dari masyarakat sekitar.

Selain itu, PT Medco E&P bekerja sama dengan lembaga non profit untuk meningkatkan pendidikan masyarakat. Seperti di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), PT Medco E&P bekerja sama dengan LSM Tujuh Pilar untuk memberdayakan literasi membaca.

Di Kabupaten Muba, PT Medco E&P bekerja sama dengan guru TK untuk membuat rumah literasi agar anak-anak diajarkan membaca dan mendengarkan dongeng di waktu sengang.

“Baru-baru ini di Palembang, PT Medco E&P bekerja sama dengan Himasos Universitas Sriwijaya (Unsri) kami suport mahasiswa-mahasiswa yang memiliki keinginan meningkatkan minat masyarakat dalam membaca.” bebernya.

PT Medco E&P juga mensuport peningkatan infrastruktur dari perbaikan hingga pembangunan jalan, jembatan, rumah ibadah, dan fasilitas umum.

Pembangunan jalan itu seperti di Kabupaten PALI membangun jalan cor dari Simpang Babat sampai ke Pengabuan dengan bekerja sama dengan Kontraktor Kontra Kerja Sama (KKKS) lain. Kemudian dibangun jalan dari Simpang Jenni sampai ke SP 9.

“Kegiatan ini tidak dilakukan sendiri namun bekerja sama dengan pemerintah desa sampai ke pemerintah kabupaten,” katanya.

Adaptasi Selama Pandemi

Selama masa pandemi Covid-19, menurut Robby Wijaya,  komitmen PT Medco E&P tidak mengendur malah justru memperkuat komitmen karena masyarakat pada masa pandemi ini benar-benar perlu perhatian. “Jadi memiliki prinsip kegiatan tetap jalan, bekerja tetap aman,” katanya.

Untuk itu, PT Medco E&P tetap bekerja namun ada sedikit perubahan dalam tingkah laku. Di lapangan karyawan dipastikan dulu sehat.

Sebelum bertemu dengan masyarakat ada protokol kesehatan tertentu yang harus dijalani. Kemudian menjalani pesan dari ibu 3M, mencuci tangan, menjaga jarak, dan memakai masker.

“Materi 3M ini harus juga disampaikan ke masyarakat sekitar. Jadi ini disosialisasikan dan dijadikan budaya baru saat berinteraksi dengan masyarakat dan sesama pekerja,” ujarnya.

Di awal pandemi Covid-19, PT Medco E&P bergerak cepat dan memfokuskan membantu kebutuhan alat medis dan kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19 di desa-desa.

Serta untuk kelompok rentan dan sangat tertekan karena pandemi difokuskan makanan pokok. Ada 1.820 paket makanan pokok, 4.200 masker medis, 6.550 masker kain, 10.900 sarung tangan, 457 liter hand sanitizer, dan 45 unit fasilitas cuci tangan.

Di samping itu, PT Medco E&P juga di masa pandemi ini melakukan edukasi kesehatan kepada masyarakat dan petugas medis di desa.

Selain membantu alat-alat medis, PT Medco E&P melakukan sosialisasi dengan memasang poster maupun  baliho dengan harapan masyarakat bisa paham mengenai bahaya Covid-19 dan pencegahannya.

Ekonomi dan Ketahanan Pangan 

Selama masa pandemi ini PT Medco E&P memberdayakan 15 kelompok penjahit untuk membuat masker kain dan hasilnya sudah 4.093 masker kain yang sudah dibagikan kepada masyarakat di sekitar wilayah kerja perusahaan.

PT Medco E&P juga memastikan ketahanan masyarakat dengan tetap membantu baik di bidang pertanian, perikanan, sayuran, serta obat-obatan herbal.

Pada masa pandemi PT Medco E&P sangat peduli dengan kaum rentan yang benar-benar terdampak akibat pandemi ini.

Kepedulian ini tidak hanya dilakukan perusahaan, namun juga dengan pekerja-pekerja PT Medco E&P yang menyisihkan sebagian pendapatan untuk membantu kaum rentan dengan membagikan sembako.

Selama masa pandemi PT Medco E&P tetap memperhatikan insfrastruktur yang menjadi akses masyarakat dalam menjual hasil kebun keluar desa.

Di masa pandemi ini PT Medco E&P sudah membangun jalan dan jembatan baik di Kabupaten PALI, Lahat, Mura,

Setelah masa-masa kepanikan di awal, masyarakat sudah terbiasa dan masuk ke masa transisi. Beberapa kegiatan yang dilaksanakan oleh masyarakat yang dengan meminta suport dari PT Medco E&P.

Kegiatan masyarakat itu seperti membersihkan masjid dengan menyemprot cairan disinfektan, kegiatan olahraga hingga acara 17 Agustusan.

Pastinya, kata Robby Wijaya, PT Medco E&P yang beroperasi pada 13 wilayah kerja yang terbentang dari Aceh hingga Sulawesi, selain memberikan suport juga memberikan edukasi bahaya Covid-19 terhadap masyarakat.

Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagsel, Adiyanto Agus Handoyo.

PPM Komitmen Bersama

Kepala Perwakilan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), Adiyanto Agus Handoyo mengatakan, Program Pengembangan Masyarakat (PPM) sudah menjadi komitmen bersama antara Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dan pemerintah sebagai tanggung jawab sosial terhadap masyarakat.

Adiyanto mengatakan, kepedulian industri hulu migas kepada masyarakat dijalankan melalui program strategis baik di bidang pendidikan, kesehatan, insfrastruktur hingga program pemberdayaan ekonomi.

Tujuannya untuk menciptakan dan memelihara keseimbangan, yakni bagaimana upaya meningkatkan pendapatan negara dan menciptakan keuntungan bagi KKKS, akan tetapi fungsi-fungsi sosial serta memelihara lingkungan hidup, tetap seiring sejalan.

Idealnya menurut Adiyanto, jika suatu ketika wilayah kerja industri hulu migas akan berakhir, tidak membuat kawasan tersebut mati, namun justru sebaliknya masyarakat tetap berdaya melalui program pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan.

“Kalau kita lihat di Arun (PT Arun NGL di Kota Blang Lancang, Lhokseumawe –red) dengan sudah berakhirnya kegiatan, kota di sana menjadi mati. Nah, kita tidak harapkan seperti itu. Namun industri ini kapan pun akan berakhir, masyarakatnya tetap berdaya,” katanya.

Pandemi Covid-19 melanda dunia dan Indonesia, industri hulu migas hadir dan melakukan upaya penanggulangan serta telah menyalurkan berbagai bantuan.

Selama tahun 2020 secara nasional SKK Migas dan KKKS sudah menyalurkan bantuan sebesar Rp25,496,429,894.00.

Secara rinci dana bantuan itu dari Kalsul sebesar Rp7.901.098.999, Sumbagut Rp6.113.900.271, Sumbagsel Rp5.231.478.324, Jabanusa Rp3.891.200.300, dan Pamalu Rp2.358.752.000.

Bantuan dana yang disalurkan dalam bentuk natura seperti sembako, alat pelindung diri, masker, hands anitizer, disinfektan, disinfektan sprayer, vitamin, suplemen, tempat cuci tangan, peningkatan kapasitas rumah sakit, google hingga boots, diperuntukan kepada masyarakat, pemerintah daerah, dan tenaga kesehatan. (**)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.