Madinah, Sumselupdate.com – Sekitar pukul 5.00 waktu Arab Saudi ratusan ribu jamaah keluar dari Masjid Nabawi usai melaksanakan shalat subuh. Mereka kemudian meninggalkan halaman masjid melalui pintu-pintu (gate) yang tersedia, sesuai dengan arah hotel atau pemondokan masing-masing.
Bagi jamaah calon haji (JCH) Indonesia, mereka umumnya meninggalkan halaman masjid Nabawi melalui Pintu 6 (Pintu Abu Bakar).
Dari pintu ini mereka kembali ke hotel-hotel tempat mereka menginap, seperti Al Mawaddah Hotel, Premium Taiba Hotel, Andalusia Hotel, Taiba Aldeafa Hotel, Al Madinah Ergwan Hotel, dan Mariyot Hotel.
Seiring dengan berakhirnya shalat subuh, ada pemandangan yang menarik di jalur perlintasan yang panjangnya sekitar 700 meter dari masjid ini.
Setiap pagi pula, gemuruh derap kaki jamaah yang rata-rata asal Indonesia ini bersaing dengan pekik pedagang yang menjajakan menu sarapan pagi. Mereka seolah sudah cukup tahu pola makan orang Indonesia, termasuk menu-menunya.
“Haji-haji, beli sarapannya dulu. Nasi goreng, nasi uduk, nasi putih kita ada. 5 Real saja,” seru pedagang setempat dengan bahasa Indonesia yang beraksen Arab.
“Bisa kurang? 3 Real saja ya,” ujar seorang jamaah ibu-ibu mencoba menawar.
“3 Real. Haram,” sahut pedagang laki-laki sambil mengangkat kedua bahunya sebagai tanda bahwa harga itu tidak boleh ditawar.
Pembeli yang tahu isyarat itu pun tak menawar lagi.
“Ini murah. 5 Real halal”, ujar pedagang itu sembari memberikan nasi yang sudah terkemas dalam kotak plastik itu begitu sang pembeli menyodorkan uangnya.
Tidak ada perbedaan harga untuk nasi goreng, nasi uduk, atau nasi putih yang bercampur lauk seadanya itu. Semua dibandrol dengan harga 5 Real atau setara Rp 20 ribu.
Mengingat banyaknya jumlah jamaah, sementara sepanjang jalur itu hanya terdapat tidak lebih dari 10 pedagang, maka jualan itu pun laris manis. Dalam hitungan menit, nasi-nasi yang digelar mendadak dan hanya memanfaatkan alas plastik itu pun ludes diburu pembeli.
Larisnya dagangan sarapan ini juga tidak lepas dari jadwal penyediaan konsumsi bagi para JCH. Seperti diketahui, jamaah hanya mendapat jatah makan dua kali dalam sehari dari penyedia catering. Yakni pada pukul 10.00 dan pukul 17.00 waktu setempat.
Bagi jamaah yang memiliki ketersediaan sarapan pagi sendiri seperti mie instan atau roti, biasanya tidak beli sarapan di luar. Mereka cukup sarapan dengan bekal bawaanya itu. (shn)











