Jakarta, Sumselupdate.com – Mantan Menteri Keuangan (Menkeu) Mar’ie Muhammad yang wafat di usia 77 tahun di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, Jakarta. Minggu (11/12/2016), sekitar pukul 01.37 WIB lantaran menderita pneumonia dan radang paru-paru.
Meski telah tiada, sosok ayah tiga anak ini dikenal banyak kalangan sosok yang sederhana, lurus, dan luwes.
Keluwesan dan sikap tetap menjaga integritas yang dipegang Mar’ie itu, membuat dia dilirik oleh M Jusuf sebagai sekretaris pribadi. Di tahun 1966, M Jusuf yang saat itu menjabat sebagai Menteri Perindustrian meminta Mar’ie untuk menjadi sekretaris pribadi.
“Pak Jusuf tahu betul kiprah Pak Mar’ie di pergerakan mahasiswa. Dia dikenal lurus,” ujar Atmadji Sumarkidjo, wartawan senior penulis buku ‘M Jusuf Panglima dan Prajurit’ dalam perbincangan dengan detikcom, Minggu (11/12/2016).
Mar’ie saat itu menjadi salah satu koordinator Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia. Dari kiprahnya di pergerakan mahasiswa itu, sosok Mar’ie dikenal oleh Jusuf.
Punya Mar’ie sebagai sekretaris, M Jusuf pun memiliki kolega untuk bertukar pikiran. Atmadji mengatakan dua tokoh tersebut sama-sama berkarakter lurus.
“Karena keduanya lurus, ngobrolnya nyambung,” ujar Atmadji.
Dan dalam perjalanannya, M Jusuf tidak hanya mendapatkan manfaat dari keterampilan dan sikap lurus Mar’ie saja. Jusuf juga mendapatkan keuntungan dari banyaknya jaringan yang dimiliki Mar’ie di kalangan mahasiswa.
Di kurun waktu 1966-1968, marak terjadi demonstrasi mahasiswa. Namun Jusuf tak pernah khawatir untuk mencari rute pulang pergi ke kantor.
“Pak Mar’ie memberikan semua informasi pergerakan mahasiswa kala itu. Jadi Pak Jusuf tenang-tenang saja. Pak Mar’ie memang punya banyak jaringan. Beliau tetap luwes meski pribadinya begitu lurus,” ujar Atmadji.
Mengenai kesederhaan Mar’ie Muhammad dirasakan Koordinator Presidium Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), Mahfud MD.
“Hidupnya sangat sederhana. Sampai menjelang akhir hayat beliau masih peduli pada perkembangan bangsa dan negara,” kata Mahfud dalam keterangannya kepada detikcom.
Julukan untuk Mar’ie yakni Mr Clean, karena Mar’ie dikenal sebagai sosok yang bersih lagi lurus. Sikap seperti itu dia jalankan secara konsisten.
“Pak Mar’ie memang pemimpin dan aktivis yang istiqamah alias lurus,” kata Mahfud.
Bukti konsistensi dirinya menempuh jalan hidup sederahana, dia tidak akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, melainkan di Tempat Pemakaman Umum Tanah Kusir. Mar’ie selalu mengingatkan kepada Mahfud dan kawan-kawan agar selalu berjuang dan tetap sederahana dalam hidup.
Satu kenangan yang diingat Mahfud, yakni saat menjenguk Mar’ie di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional di Cawang Jakarta Tumur. Kala itu, dokter memberitahukan Mar’ie sudah empat hari tidak bergerak.
“Ketika saya dan sekjen KAHMI, Bendahara KAHMI dan Ketum PBHMI datang dokter membisikkan di telinga beliau bahwa, ‘Ada Pak Mahfud MD dari KAHMI dan HMI’ ternyata beliau mulai berusaha bergerak. Kelopak matanya sedikit bergerak dan berlinang air. Setelah itu tangannya bergerak dengan lemah. Kata dokter, ‘Pak itu mau salaman dengan Bapak’. Saya jawab, ‘Itu ada jarum infus, saya tak berani memegang tangannya, nanti sakit.’ Tapi dokter bilang tak apa-apa. ‘Pak Mar’ie ingin menyalami Bapak’, kata dokter. Selama saya di sana selama 30 menit, beliau terus menggerakkan tangan dengan lemah, memberi isyarat bahwa beliau mendengar semua yang saya bicarakan dengan Bu Mar’ie,” tutur Mahfud. (hyd)











