Palembang, Sumselupdate.com – Kisah inspiratif datang dari para petani di Desa Jaya Bakti, Kecamatan Madang Suku, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKU Timur), Sumatera Selatan.
Melalui Klaster Lumbung Pangan Bhakti Tani, para petani berhasil bangkit dari berbagai persoalan klasik, seperti fluktuasi harga gabah, keterbatasan modal, hingga sulitnya akses pasar.
Sekitar satu dekade lalu, kondisi petani di wilayah tersebut cukup memprihatinkan. Saat musim panen tiba, hasil melimpah justru tidak diiringi dengan harga yang menguntungkan. Petani kerap mengalami kerugian karena harga gabah yang jatuh.
Berangkat dari kondisi tersebut, Ketua Klaster Lumbung Pangan Bhakti Tani, Mashudi, menginisiasi langkah sederhana dengan mengajak para petani untuk tidak langsung menjual hasil panen, melainkan menyimpannya hingga harga membaik.
“Dulu petani sering bingung saat panen. Akhirnya kami sepakat untuk menyimpan gabah terlebih dahulu, lalu dijual saat harga naik,” ujarnya.
Langkah tersebut menjadi titik awal terbentuknya klaster yang kini berkembang menjadi wadah kolaborasi sekitar 100 petani. Sistem gotong royong menjadi kekuatan utama dalam menjaga keberlangsungan klaster tersebut.
Seiring waktu, klaster ini berkembang tidak hanya sebagai tempat penyimpanan gabah, tetapi juga membangun ekosistem usaha terintegrasi. Mulai dari penyediaan pupuk melalui Kios Pupuk Lengkap (KPL) hingga layanan keuangan melalui agen BRILink.
Perkembangan klaster semakin pesat setelah mendapat pendampingan dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui program Klasterku Hidupku. Program ini tidak hanya memberikan akses pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), tetapi juga pelatihan pengemasan beras, manajemen usaha, hingga literasi keuangan.
“Sekarang petani tidak lagi bergantung pada tengkulak. Akses modal lebih mudah dan usaha bisa dikelola lebih baik,” kata Mashudi.
Selain itu, dukungan juga diberikan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) berupa bantuan satu unit hand tractor yang membantu meningkatkan efisiensi pengolahan lahan.
“Kalau dulu mengolah lahan bisa sampai dua minggu, sekarang cukup lima sampai tujuh hari,” tambahnya.
Efisiensi tersebut berdampak langsung pada peningkatan produktivitas dan percepatan masa tanam.
Regional CEO BRI Region 4 Palembang, Luthfi Iskandar, mengatakan bahwa pihaknya terus mendorong pemberdayaan pelaku usaha melalui pendekatan terintegrasi.
“Tidak hanya pembiayaan, kami juga memberikan pelatihan, digitalisasi, serta pendampingan berkelanjutan agar pelaku usaha bisa naik kelas,” ujarnya.
Hingga saat ini, program Klasterku Hidupku BRI Region 4 Palembang telah memberdayakan sebanyak 3.548 klaster usaha di berbagai sektor.
Melalui program ini, diharapkan tercipta ekosistem usaha yang berkelanjutan, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta membuka lapangan kerja baru di daerah.
(**)











