Ketua DPR RI Sesalkan Anak Didik Tewas Saat Mengikuti Kegiatan MOS

Sabtu, 29 Juli 2023
Ketua DPR RI Puan Maharani.

Jakarta, Sumselupdate.com – Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti kegiatan Masa Orientasi Sekolah (MOS) atau Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang menyebabkan  seorang siswa tewas.

Menurut Puan, keselamatan siswa harus menjadi prioritas bagi pihak sekolah.

Read More

“Kami menyesalkan anak didik yang menjadi korban jiwa dalam pelaksanaan masa pengenalan lingkungan sekolah di awal tahun ajaran baru ini. Harusnya peristiwa seperti itu bisa dihindari,” kata Puan di Jakarta, Jumat (28/7/2023).

Peristiwa nahas yang menyebabkan seorang siswa meninggal dunia terjadi di Sukabumi, Jawa Barat. Salah satu siswa SMPN 1 Ciambar, Sukabumi, bernama Mandala Aditya Pratama (13) meninggal dunia akibat tenggelam di Sungai Cileuleuy saat mengikuti MPLS yang dilakukan di luar sekolah.

Salah satu agenda rutin MPLS di sekolah itu adalah kegiatan lintas alam di mana siswa baru SMPN 1 Ciambar diwajibkan  menyeberangi sungai dengan cara berenang.

Dikatakan, pihak sekolah harusnya mempertimbangkan dengan serius kegiatan MPLS.

“Kegiatan yang berpotensi menimbulkan bahaya seharusnya dihindari. Karena tidak semua anak bisa berenang. Keselamatan anak didik harus jadi prioritas. Atas nama DPR saya sampaikan duka mendalam atas berpulangnya ananda Mandala Aditya Pratama,” kata  perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR RI itu.

Dia menambahkan, harus ada yang bertanggung jawab atas insiden ini. Perlu  tindakan tegas untuk mengidentifikasi pelanggaran protokol keselamatan yang terjadi selama kegiatan orientasi, serta menyelidiki peran  pengawas dan pengurus yang bertanggung jawab atas acara tersebut.

Buntut kejadian tersebut, Kepala Sekolah SMPN 1 Ciambar ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian dengan tuduhan kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang.

Puan berharap, ada evaluasi mendalam usai insiden itu.

“Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud) harus mengevaluasi mengenai standar kegiatan MPLS oleh sekolah. Sekolah jangan abai pada keselamatan anak didik,” jelas Mantan Menko PMK ini.

Pihak sekolah lanjut Puan harus dapat memastikan setiap kegiatan yang diikuti siswa itu aman.

“Selain itu, saya mendorong pihak sekolah untuk lebih waspada terhadap keselamatan siswa. Tidak boleh ada anak yang lepas dari pengawasan guru di setiap bentuk kegiatan,”  imbuh Puan.

Mantan Menko PMK ini pun meminta semua sekolah yang ada di Indonesia menjadikan insiden SMPN 1 Ciambar sebagai sebuah pelajaran. Dalam membuat program, kata Puan, sekolah tidak boleh asal-asalan.

“Ini merupakan teguran keras bagi dunia pendidikan, karena nyawa seorang anak calon generasi penerus bangsa harus melayang karena abainya pihak sekolah. Semoga kejadian seperti ini tidak terulang kembali dan harus menjadi pengingat betapa pentingnya pengawasan terhadap anak murid,” paparnya.

Puan menambahkan, inisiden ini menjadi preseden buruk dalam dunia pendidikan. Dia berharap pemerintah lebih cermat  melakukan pengawasan terhadap setiap program kegiatan pihak sekolah.

“Ini juga menjadi tanggung jawab dari Pemda. Bagaimana dinas pendidikan (disdik) juga  ikut melakukan pengawasan agar MPLS dilakukan dengan aman,” ujar Puan.

Sesuai Permendikbud No 18 Tahun 2016 tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah untuk Tahun Pelajaran 2016/2017, kegiatan MOS atau MPLS perlu dilakukan sebagai langkah awal bagi peserta didik mengenal lingkungannya. Puan mengimbau, sebaiknya MPLS dilakukan di dalam lingkungan sekolah terlebih dahulu.

Pengenalan sekolah lanjut Puan, harusnya dikenalkan dulu mana ruang kelas, ruang guru, kantin dan fasilitas yang didapat siswa saat di sekolah.

Terkait kegiatan ekstrakurikuler, menurut Puan, dipastikan lebih dulu keamanannya bila harus dilakukan di luar sekolah. Tentu dengan pengawasan dari guru maupun  pembimbing lain.

“Jadi pihak sekolah jangan sampai lepas tangan. Orang tua menitipkan anaknya untuk menimba ilmu di sekolah, maka pihak sekolah harus bertanggung jawab terhadap kondisi anak  di sekolah,” jelas Puan.

Cucu Bung Karno ini juga meminta sekolah mengantisipasi segala potensi kekerasan untuk kegiatan yang melibatkan siswa, termasuk saat MPLS atau MOS dan ekstrakulikuler. Puan menyoroti banyaknya  penggojlokan dari senior kepada junior yang berujung pada kekerasan.

“Di masa orientasi, sering sekali terjadi ospek berlebihan dari kakak kelas kepada juniornya. Pihak sekolah harus mewaspadai dan mengantisipasi hal-hal yang dapat menimbulkan kekerasan. Semua prosedur harus dilakukan dengan benar, tidak boleh ada sedikitpun kekerasan di lingkungan sekolah,” katanya.

Di sisi lain, Puan menekankan pentingnya kolaborasi antara Kemendikbudristek, Pemda, dan stakeholder terkait untuk menunjang kualitas pendidikan bagi anak-anak bangsa.

“Melalui sinergi ini, kita berharap Indonesia memiliki pendidikan  berkualitas, inklusif, dan berdaya saing, serta dapat menghasilkan generasi penerus bangsa yang andal dan berdaya juang,” tutur Puan. (duk)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts