Jakarta, sumselupdate.com – Ketua DPR RI Puan Maharani, mengunjungi Kampung Nelayan, Cangkol, Kota Cirebon, Jawa Barat, Senin (4/7) memberikan solusi dari sejumlah persoalan yang disampaikan nelayan.
Dalam kunjungan tersebut, Puan berkeliling permukiman Kampung Nelayan Cangkol, didampingi Walikota Cirebon, Nashrudin Azis serta Ketua Komisi III DPR Bambang Wuryanto, Ketua Komisi V Lasarus, Wakil Ketua Komisi VI DPR Aria Bima, dan Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris, Anggota Komisi III DPR Ahmad Basarah, Anggota Komisi VI DPR Mufti Aimah Nurul Anam, dan Anggota Komisi VIII DPR Esti Wijayati.
Tidak semua warga di permukiman Cangkol berprofesi sebagai nelayan, namun dihuni warga ekonomi menengah ke bawah.
Puan tampak mampir ke sejumlah rumah warga. Salah satu rumah keluarga Sutarma yang sehari-hari bekerja sebagai tukang becak. Rumah Sutarma cukup memprihatinkan dan atapnya bocor parah.
“Kita akan dorong pihak pemda untuk memberi perhatian. Terima kasih ibu. Saya senang dikunjungi calon presiden,” timpal Sutarma.
Selanjutnya, Puan berdialog dengan nelayan di lingkungan sekitar. Dialog yang dilakukan di bawah tenda itu, kurang lebih 1.500 nelayan hadir.
“Nelayan itu elemen rakyat Indonesia yang sangat penting karena memberikan manfaat bagi masyarakat. Kekayaan laut Indonesia yang luar biasa harus bisa membuat nelayan sejahtera,” ujar erempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR RI ini.
Dikatakan, nelayan harus memperoleh kemudahan fasilitas serta sarana prasarana untuk menunjang pekerjaannya. Sebab, nelayan merupakan salah satu pahlawan bagi kemajuan bangsa karena mereka bekerja demi menyediakan asupan gizi bagi masyarakat.
“DPR RI akan terus memperjuangkan agar nelayan makin sejahtera, yang berarti penghasilan meningkat dan bebannya berkurang,” jelasnya.
Ada beberapa hal yang menjadi perhatian Puan. Mulai dari persoalan kapal, bahan bakar solar, cold storage, hingga asuransi nelayan.
Dia meminta nelayan menyampaikan aspirasinya. Seorang nelayan bernama Mulyadi mewakili teman-teman satu profesinya menyampaikan nelayan setempat memerlukan jembatan untuk bersandar kapal, sebab jembatan saat ini sudah amblas dan tidak layak.
Kesulitan nelayan lain ketika hendak membeli solar untuk bahan bakar kapal di SPBU. Para nelayan harus membawa surat untuk membelinya, dan biasanya stok solar cepat habis.
“Suka dipingpong bu, lalu tidak ada solarnya. Kita asuransi kecelakaan dan kematian setiap tahun Rp 150 ribu/tahun, tapi bayar preminya susah. Nelayan juga butuh GPS genggam buat ngeplot arah pulang. Kita biasa pakai Garmjn tapi banyak yang rusak,” tutur Mulyadi.
Mulyadi berharap Puan dapat memfasilitasi kebutuhan sarana prasarana nelayan dengan pihak pemerintah. Ia juga mengaku senang atas kunjungan itu.
“Suatu kenangan tak terlupakan bisa dikunjungi Mbak Puan. Saya doakan semoga jadi capres dan terpilih jadi presiden, memperhatikan nelayan,” tambahnya.
Puan mengucapkan terima kasih untuk doa para nelayan sembari mengatakan akan berusaha mencarikan solusi atas persoalan nelayan di Cirebon, termasuk jembatan.
Puan bahkan langsung meminta Ketua Komisi V DPR yang membidangi urusan infrastruktur untuk mengawal.
“Untuk jembatan, Pemkot koordinasi sengan Pak Lasarus Ketua Komisi V. Pompa bensin di sekitar Cangkol juga harus dipastikan solarnya ada. Insyaallah masalah tadi saya coba carikan solusinya,”tegas Mantan Menko PMK tersebut.
Puan juga sempat berbincang dengan istri nelayan yang berlangsung kekeluargaan dan cair.
“Ibu-ibu mukanya cerah semua. Cantik-cantik nggak kusam, padahal panas-panas gini. Apa resepnya bu?!” goda Puan disambut tawa hadirin.
Di akhir acara, Puan menyerahkan sejumlah bantuan bagi nelayan seperti sembako, alat tangkap ikan trammel net dan gill net, mesin kapal, serta ratusan ribu bibit ikan lele, nila, serta jutaan benih udang vanamae.
“Saya berharap kedatangan saya memberikan manfaat. Bapak ibu harus semua sehat, jangan lupa divaksin, karena demi kesehatan bersama,” tutup Puan. (duk)











