Kesehatan Mental Anak dan Remaja Faktor Penting Wujudkan Indonesia Emas 2045

Writer: - Kamis, 1 Agustus 2024
Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat saat membuka diskusi daring dengan tema Tantangan Kesehatan Mental Anak dan Remaja Indonesia Menuju 2045, yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (31/7/2024).

Jakarta, Sumselupdate.com – Kesehataan mental anak dan remaja harus diwujudkan melalui berbagai upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat, demi masa depan anak lebih baik.

“Kesehatan mental itu menunjang kesehatan manusia secara menyeluruh. Karena dengan mental yang sehat orang mampu mengatasi tekanan hidup, menyadari kemampuan mereka, belajar dengan baik dan berkontribusi pada komunitas mereka,” kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat saat membuka diskusi daring dengan tema Tantangan Kesehatan Mental Anak dan Remaja Indonesia Menuju 2045, yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (31/7/2024).

Read More

Menurut Lestari, masalah kesehatan mental sudah mendunia. Berdasarkan catatan situs Our World Data, diperkirakan satu dari tiga perempuan dan satu dari lima laki-laki akan mengalami depresi berat dalam hidupnya.

“Bagaimana bangsa kita mampu menyiapkan diri menangani kondisi tersebut dengan langkah nyata, itu menjadi tantangan kita saat ini,” ujar Rerie sapaan akrab Lestari Moerdijat.

Untuk mencegah bertambahnya prevalensi gangguan mental, lanjut Rerie, diperlukan kemampuan menciptakan struktur dan sistem sosial yang menunjang program peningkatan kualitas manusia Indonesia.

Dia mengingatkan, pada 2045 para remaja saat ini akan berada pada puncak kepemimpinan nasional.

Bila tidak dipersiapkan kesehatan secara fisik dan mental akan sulit mewujudkan Indonesia Emas.

Dikatakan, Indonesia Emas 2045 harus disambut dengan kesiapan mental anak bangsa agar mampu menerima tongkat estafet kepemimpinan untuk melanjutkan proses pembangunan nasional lebih baik.

Direktur Utama Pusat Kesehatan Jiwa Nasional RS Marzoeki Mahdi, Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, Nova Riyanti Yusuf mengatakan, sebagai pusat layanan kesehatan jiwa nasional lembaga yang dipimpinnya berperan sebagai pengampu penanganan kesehatan mental masyarakat di tanah air.

Pada kasus gangguan kesehatan mental kata Nova, selalu ada depresi yang menyertai aksi bunuh diri, sehingga sejatinya aksi bunuh diri bisa dicegah bila ada deteksi dini terhadap kondisi kesehatan mental masyarakat.

Usia remaja, tambah dia, merupakan kelompok berisiko terpapar gangguan mental, karena pada usia tersebut masih senang mengambil risiko dan merasa mampu mengendalikan segalanya.

Padahal,  usia remaja saat ini adalah para calon pemimpin di masa depan untuk mencapai Indonesia Emas 2045 yang telah dicanangkan.

Nova menambahkan, untuk mencegah tindakan menyakiti diri sendiri dan bunuh diri yang merupakan bagian dari kasus gangguan mental di masyarakat, perlu dibangun sistem surveilance yang memadai di tanah air.

Upaya pencegahan gangguan kesehatan mental di masyarakat, tegas dia, perlu melibatkan pihak di luar keluarga dan instansi kesehatan, seperti komunitas dan lingkungan masyarakat.

Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, Tjut Rifameutia  menyebutkan, survei kesehatan mental masyarakat sangat penting untuk dilakukan.

Berdasarkan survei tersebut, jelas Tjut Rifameutia, diharapkan kita mendapatkan potret kesiapan mental para calon orang tua di masa depan. (**)

 

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts