Palembang, Sumselupdate.com – Kantor Gubernur Sumatera Selatan kembali didemo oleh puluhan wartawan. Herman Deru selaku Gubernur Sumsel akhirnya meminta maaf atas perlakuan yang telah menyebabkan ketegangan antara pengawal pribadinya (walpri) dengan pihak wartawan
Kepada semua wartawan yang berdemo di Pemprov Sumsel, Selasa (13/11/2018) Herman Deru menyayangkan terjadinya peristiwa tersebut terhadap salah satu wartawan online.
Ia berharap ke depan peristiwa tersebut tidak akan terjadi lagi dari pengawalnya kepada pihak media, dan peristiwa ini merupakan bahan evaluasi pihaknya ke depan.
“Saya meminta maaf atas peristiwa tersebut, dan akan jadi evaluasi kita. Dan diharapkan ke depan tidak lagi terjadi,” tegas Herman Deru saat bertemu para wartawan sambil duduk lesehan di depan Kantor Gubernur.
Sebagai tambahan, aksi ini sebagai bentuk kelanjutan aksi pada Senin kemarin yang tertunda, karena Gubernur tidak ada di tempat. Aksi ini adalah bentuk keprihatinan atas intimidasi tugas media.
Sebagaimana diketahui walpri Gubernur memberikan perlakuan kasar terhadap wartawan Detik.com Raja Aidil Siregar saat melakukan peliputan dalam acara PT Sampoerna di PTC Mall Palembang Sabtu (10/11/2018) lalu.
Sebelumnya Ketua PWI Sumsel Oktaf Riyadi saat dimintai komentarnya terkait insiden yang melecehkan profesi jurnalistik tersebut, PWI Sumsel menyayangkan pelarangan dan intimidasi yang dilakukan oleh walpri orang pertama di Sumsel tersebut.
Lebih lanjut dirinya menyayangkan insiden tersebut terjadi, karena dalam menjalankan profesi jurnalistik, wartawan dilindungi oleh UU Nomor 40 Tahun 1999 yang mana bagi mereka yang menghalangi wartawan dalam menjalan tugasnya bisa dikenakan pidana.
“Dalam UU Pokok Pers jelas diatur dalam pasal 18 yang berbunyi Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (Lima ratus juta rupiah),” jelasnya.
Seperti diketahui Raja Adil Siregar dalam surat terbukanya menjelaskan kronologis keributannya dengan staff pengawal pribadi Gubernur Sumsel di acara PT Sampoerna di PTC, Sabtu (10/11).
Saat itu Raja Adil hendak wawancara dengan Gubernur Herman Deru terkait UMKM di Sumsel. Karena kondisi yang sempit, dirinya sempat minta izin dengan walpri berpakaian safari hitam lengkap.
“Karena jarak saya dengan Gubernur jauh dan tidak bisa bertanya, saya bilang mau izin untuk kedepan. Saat itu saya ingin bertanya terkait UMKM, tapi perut saya selalu dihalangi dan tidak bisa maju ke depan. Padahal saat itu ada wartawan lain (Mba Dinda, dll) di depan dan masih ada jarak untuk saya maju sedikit,” ungkap Raja Adil.
Saat wawancara hampir selesai, lanjutnya, “Saya coba maju dan menanyakan ulang terkait UMKM. Beberapa kali saya bertanya dengan gubernur. Namun tetap ditarik dari belakang saat wawancara. Selesai wawancara saya sempat bilang “Izin saya wartawan, saya dari media dan saya tahu kapasitas saya mas. Saya bisa jaga jarak kok, nggak mungkinlah saya dorong-dorong,” ujarnya.
Entah apa yang terjadi, tiba-tiba seorang walpri menarik saya dan mendorong ke belakang. Saat itu ada Karo Protokol Pemprov, Pak Iwan menanyakan “Ada apa, ada apa,”.
Tetapi walpri berseragam safari lengkap datang beberapa orang dan menyorong saya keluar dari kerumunan. Untungnya saya saat itu tidak jatuh.
Saat akan mundur ke belakang, lagi-lagi walpri datang dan menyorong sambil melontarkan kalimat yang kalau tidak salah saya “Memanya kenapa kau ha?,” sambil mendorong kebelakang.
Saat itu suasana semakin panas setelah saya didorong dan saya masih berusaha menjelaskan. Tiba-tiba teman-teman media lain datang, saya sempat ditarik ke belakang. Tapi tetap saja beberapa walpri mengejar saya dan mengajak berkelahi. (adi)











