Kehadiran Gibran Bawa Efek Gerus Suara Ganjar di Jawa Tengah

Kamis, 23 November 2023

Jakarta, Sumselupdate. com- Sekretaris Jenderal Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Mahfuz Sidik mengatakan, Partai Gelora tengah membedah peta kekuatan politik tiga pasangan calon presiden (capres)-calon wakil presiden (cawapres) di pemilihan presiden (Pilpres) 2024.

Peta kekuatan politik yang dibedah merupakan titik hotspot yang akan menentukan suara kemenangan di Pilpres 2024 seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Read More

“Wilayah tersebut, menjadi titik hotspot, titik-titik panas kontestasi yang akan menentukan Pilpres 2024,” kata Mahfuz Sidik, Rabu (22/11/2023) saat memberikan pengantar diskusi Gelora Talks bertajuk ‘Adu Kuat di Jawa Tengah : Ganjar Vs Gibran yang digelar secara daring dan disiarkan langsung di kanal YouTube Gelora TV dan Facebook Partai Gelora Indonesia.

Di Jawa Tengah, kata Mahfuz, peta kekuatan politik masih didominasi pasangan Ganjar-Mahfud dan mesin politik PDIP. Namun, kehadiran Gibran Rakabuming Raka sebagai cawapres Prabowo Subianto, mulai membawa perubahan peta politik.

“Gibran yang dianggap mewakili basis massa Pak Jokowi di Pilpres 2019, akan berhadapan dengan basis mesin PDIP dan ketokohan Ganjar. Ini sejauh mana pengaruhnya,”tutur Mahfuz.

Sementara untuk kekuatan politik di wilayah lain di Pulau Jawa, akan memiliki peta kontestasi berbeda, namun hasil akhir tetap menentukan suara kemenangan di Pilpres 2024.

“Tetapi ketika menyimak beberapa lembaga survei, ada tren peningkatan elektabilitas pasangan Prabowo-Gibran. Sebaliknya pasangan Ganjar-Mahfud dalam beberapa hari terakhir mengalami tren penurunan,”katanya.

Sebagai orang lapangan, lanjut Mahfuz, ia paham banyaknya variabel yang mempengaruhi fluktuasi elektabilitas seorang kandidat seperti instrumen teritorial dan kekuatan mesin politik partai.

“Jadi untuk memenangkan Pilpres, bukan hanya aspek komunikasi atau permainan opini, tapi banyak variabel mempengaruhi fluktuasi elektabilitas pasangan calon. Ini semua yang akan menentukan hasil akhir,”jelasnya.

Sementara itu, peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Adjie Alfaraby mengatakan, LSI Denny JA telah melakukan survei nasional mengenai potret perkembangan pasangan calon pada 6-13 November 2023.

“Yang menarik dan mengejutkan adanya perubahan elektabilitas di ketiga capres. Prabowo-Gibran angkanya naik dari survei sebelumnya dari 36 persen naik menjadi 40 persen,” kata Adjie Alfaraby.

Sedangkan pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD secara mengejutkan mengalami penurunan sekitar 6 persen dari 35 persen ke 28,6 persen Lalu, pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar mengalami kenaikan dari 15 persen ke 20 persen.

“Catatan kita, pasca putusan Mahkamah Konstitusi dan deklarasi Prabowo Gibran, lalu munculnya kritik-kritik soal hukum, demokrasi, isu dinasti dan lain-lain, ternyata tidak punya implikasi serius. Atau tidak punya efek elektoral negatif kepada pasangan Prabowo-Gibran,”katanya.

Bahkan dari data lain seperti ‘people rating’ atau kepuasan publik kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga terkonfirmasi, tidak terganggu isu negatif pasca putusan MK yang marak belakangan.

“Dalam perkembangan dinamika itu, kita menemukan data berbeda sedikit dengan SMRC. Jawa Tengah bisa kita buat breakdown, meski masih butuh survei khusus, tetapi dari gambaran itu terlihat ada Gibran efek,” katanya.

Efek Gibran ini, lanjut Adjie, terkait langsung dengan Jokowi, karena dianggap punya kedekatan secara langsung.”Jadi di Jawa Tengah ada perubahan. Di bulan sebelumnya, September 2023, saat itu Pak Prabowo kalah telak dengan Ganjar sekitar 70 persen dan Prabowo sekitar 10,2 persen.

Namun, sebulan kemudian ada kenaikan elektabilitas Pak Prabowo dari 10 persen naik ke 24 persen,” jelasnya.

Dengan temuan ini, dapat disimpulkan ada efek dari pencalonan Gibran sebagai cawapres Prabowo, karena dianggap sebagai kelanjutan Jokowi.

“Dukungan Pak Jokowi pada Pilpres lalu, di Jawa Tengah sekitar 77 persen itu, cukup signifikan. Ketika kemudian publik melihat asosiasi yang akan melanjutkan Pak Jokowi adalah Gibran, secara perlahan dan pasti, ada pergeseran pemilih cukup besar dari sebelumnya ada di Ganjar beralih ke Prabowo,” katanya.

Namun, hal ini dibantah peneliti SMRC Saidiman Ahmad. Saidiman mengakui, memang ada pergeseran pemilih Ganjar ke Prabowo di Jawa Tengah, namun tidak besar dan tidak signifikan.

“Artinya, pencalonan Gibran belum membawa perubahan besar di Jawa Tengah. Suara Ganjar tetap tinggi, dibandingkan Prabowo, karena didukung PDIP yang merupakan basisnya di Jawa Tengah,” kata Saidiman.

Berdasarkan survei SMRC, kata Saidiman, publik juga tidak mengetahui, Gibran yang menjabat sebagai Wali Kota Solo saat ini, adalah putra Presiden Jokowi, yang mengetahui hanya kalangan tertentu saja.

“Jadi dari survei kita, ternyata Gibran kurang dikenal, meski dia anak Pak Jokowi. Berbeda dengan Ganjar, ketokohannya sangat dikenal, dia mantan gubernur Jawa Tengah dua periode,” katanya.

Selain itu, menurut Saidiman, kehadiran Gibran di Jawa Tengah juga belum membawa efek siginfikan secara elektoral, karena dukungan Presiden Jokowi belum jelas, apakah mendukung Prabowo-Gibran atau Ganjar-Mahfud.

“Kalau kita lihat dukungan Pak Jokowi itu masih terbagi dua ke Prabowo dan Ganjar, karena sikapnya Pak Jokowi belum jelas, masih mendua membuat pemilih Pak Jokowi bertahan di Ganjar,” katanya.

Karena itu, apabila ingin suara Jokowi sekitar 77 persen pada Pilpres 2019, beralih dari Ganjar ke Prabowo, Presiden Jokowi harus mengkampanyekan secara langsung pasangan Prabowo-Gibran.

“Tapi kan itu tidak mungkin, karena Pak Pak Jokowi seorang Presiden yang harus netral. Makanya kita yakin suara Pak Jokowi di Jawa Tengah tetap ke Ganjar, apalagi didukung PDIP yang menjadikan Jawa Tengah sebagai basis massanya,”tegas Saidiman.(duk)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts